Epidemiolog Bantah Luhut soal Covid-19 RI Membaik Awal 2021

CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 16:31 WIB
Ahli pandemi membantah klaim Menko Luhut Pandjaitan soal produksi vaksin akhir tahun dan Covid-19 akan membaik di RI pada kuartal pertama 2021. Ilustrasi Luhut Binsar Pandjaitan. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Pandemi & Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan tak realistis apabila membayangkan Indonesia kondisi pandemi virus corona Covid-19 akan membaik di Indonesia pada kuartal pertama 2021.

Pertimbangan itu menurut Dicky mengingat vaksin yang hingga saat ini belum terbukti aman dan manjur. Selain itu hingga saat ini testing, tracing, dan treatment (3T) Indonesia juga masih rendah dan hanya fokus di daerah-daerah tertentu.

Hal tersebut diungkap Dicky untuk menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan bahwa kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia akan membaik pada kuartal pertama 2021 seiring dengan keberadaan vaksin di Indonesia yang ditargetkan paling cepat tersedia 100 ribu Desember 2020.


Dicky mengingatkan belum ada satu pun vaksin Covid-19 di tahap uji klinis fase III yang disetujui oleh WHO. Selain itu Dicky juga mengingatkan tidak ada jaminan bahwa vaksin di fase III akan sukses.

"Kalau melihat kuartal pertama tahun depan itu tidak realistis untuk Indonesia. Sebab, tidak ada jaminan bahwa fase III ini sukses, Selalu 50 persen, ingat banyak vaksin yang memakan waktu tahunan hingga puluhan tahun seperti HIV itu gagal di fase III. Sekali lagi ini adalah virus baru dan tantangan lebih besar dibandingkan HIV," tutur Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (22/9).

Dicky mengatakan vaksin juga harus melalui persetujuan dari WHO sebelum disuntikkan ke masyarakat. Hal ini penting karena persetujuan dari WHO menunjukkan bahwa standar yang dilakukan dalam uji vaksin telah memenuhi standar kesehatan global.

Persetujuan dari WHO penting karena vaksin akan disuntikkan kepada orang sehat. Oleh karena itu, vaksin harus melalui persetujuan WHO untuk memastikan bahwa vaksin tak menimbulkan efek samping berlebih bagi masyarakat.

"Kita tahu hingga saat ini belum ada vaksin yang di approve secara global oleh WHO. Approval bagi WHO ini penting karena ini menunjukkan bahwa standar yang dilakuakn uji vaksin itu sudah memenuhi standar kesehatan global. Karena aspek keamanan harus sangat dipastikan dalam standar tertinggi," ujar Dicky.

Dicky juga menjelaskan WHO secara realistis vaksin Covid-19 baru akan ada pada pertengahan 2021. Hal tersebut dinyatakan WHO berdasarkan pertimbangan durasi uji klinis untuk menguji kemanjuran dan keamanan vaksin.

Dicky mengatakan secara umum sesungguhnya riset vaksin itu membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk memastikan kemanjuran dan keamanan vaksin.

Percepatan pengembangan vaksin Covid-19 ini berdasarkan pada pengembangan vaksin Zika yang selesai dalam 1 tahun hingga 18 bulan. Jalur cepat pengembangan vaksin sudah ditemukan dalam riset Zika.

"Namun itu tidak boleh mengabaikan aspek keamanan dari vaksin itu sehingga dalam hitungan yang realistis dan berbasis sains," tutur Dicky.

Prediksi kehadiran vaksin berbasis sains, bukan politik atau ekonomi

Dicky setuju dengan prediksi WHO bahwa vaksin Covid-19 akan hadir pada pertengahan 2021. Prediksi ini ia katakan realistis berdasarkan perhitungan sains bidang kesehatan.

"Ini bukan satu hal yang kita bisa asumsikan cepat secara realistis berbasis sains, bukan berbasis politik atau ekonomi, saya dalam hal ini sains kesehatan," kata Dicky.

Dicky mengingatkan vaksin merupakan strategi tambahan dari strategi utama yang berupa surveilans. Strategi surveilans ini dilakukan dengan menerapkan testing, tracing, treatment (3T) dan isolasi secara masif.

Dicky mengatakan data surveilans dijadikan strategi utama dalam pengendalian Covid-19. Vaksin merupakan pelengkap dan tambahan dari strategi utama tersebut.Ia mengatakan program vaksinasi akan berhasil apabila didasari oleh data surveilans.

"Jadi kalau kapasitas testing satu negara itu lemah atau tidak optimal maka dipastikan strategi vaksinnya juga akan lemah, tak akan secepat dan sesukses bilang 3T nya kuat. Butuh waktu lebih lama," kata Dicky.

Dicky mengatakan seharusnya Indonesia meniru 3T masif yang telah diterapkan oleh Thailand, Singapura, dan Vietnam. Rendahnya 3T akan membuat prevalensi tinggi.

Dicky menjelaskan rendahnya angka 3T di Indonesia ini membuat pernyataan Luhut semakin tidak realistis. Ia menyarankan agar pemerintah menggalakkan besar-besaran 3T secara merata di seluruh Indonesia agar pernyataan tersebut bisa realistis.

"Kalau melihat kuartal pertama tahun depan itu tidak realistis untuk Indonesia. Tidak realistis karena strategi testing tracing kita rendah, yang mengakibatkan prevalensi kita tinggi. jadi kalau mau realistis di buatlah 3T isolasi karantina yang optimal," tutur Dicky.

Catatan Redaksi: Judul berita ini diubah pada Selasa (22/9) pukul 18.05 WIB karena kesalahan pengetikan. Sebelumnya berjudul: "Epidemiolog Bantah Luhut soal Covid-19 RI Membaik Awal 2022".

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]