Ahli Colek Pemerintah: 3T Kunci Basmi Covid-19, Bukan Vaksin

CNN Indonesia | Jumat, 25/09/2020 14:09 WIB
Pemerintah diminta tak hanya fokus pada vaksin dan 3M, tapi juga ke strategi utama 3T (testing, tracing, dan treatment) untuk menekan Covid-19 di Indonesa. Ilustrasi tes Covid-19. (ANTARA/RENO ESNIR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ahli Epidemiologi Indonesia meminta agar pemerintah tak hanya fokus ke pengembangan vaksin, tapi juga ke strategi dasar 3T (testing, tracing, dan treatment) dalam pengendalian pandemi virus corona Covid-19. 

Ahli meminta agar pemerintah meningkatkan kapasitas 3T yang menjadi strategi utama pengendalian pandemi.

Ahli Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono menjelaskan seharusnya pemerintah juga terus mendorong 3T daripada hanya fokus ke ketersediaan obat dan vaksin yang belum tentu manjur.


Kesehatan publik dari Covid-19 dapat dicapai dengan langkah pengawasan atau surveilans dengan menggunakan testing, tracing, treatment (3T) dan isolasi. Menurutnya masalah surveilans masih menjadi sebuah momok di Indonesia.

"Enggak usah urusin vaksin atau obat,obat vaksin lupakan. Kesehatan publik saja lewat surveilans," kata Pandu.

Indonesia telah melakukan sejumlah kerja sama dengan negara lain untuk pengadaan vaksin Covid-19, mulai dari Sinovac-China, Sinopharm-China dan CanSino, hingga vaksin buatan lokal LBM Eijkman yang diberi nama vaksin Merah Putih.

Dalam hal ini, Pandu menegaskan bahwa vaksin bukanlah solusi jitu menyelesaikan pandemi. Poin untuk menekan laju penyebaran virus corona adalah dengan 3T dan mematuhi protokol kesehatan.

"Masker memberikan efek perlindungan jauh lebih besar dibandingkan vaksin yang nanti ada, percaya deh," kata Pandu.

Senada dengan Pandu, Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan vaksin dan obat tidak bisa menjadi senjata utama untuk mengatasi pandemi Covid-19. Bila melihat sejarah, Dicky mengatakan tidak ada pandemi yang selesai karena kehadiran vaksin atau obat.

"Harus dipahami dalam strategi pengendalian pandemi, belum ada pandemi yang selesai dengan vaksin atau obat," ujar Dicky.

Dicky mengingatkan vaksin merupakan strategi tambahan dari strategi utama yang berupa surveilans. Strategi surveilans ini dilakukan dengan menerapkan testing, tracing, treatment (3T) dan isolasi secara masif.

Data surveilans, bagi Dicky dijadikan strategi utama dalam pengendalian Covid-19. Vaksin merupakan pelengkap dan tambahan dari strategi utama tersebut. Ia mengatakan program vaksinasi akan berhasil apabila didasari oleh data surveilans.

"Jadi kalau kapasitas testing satu negara itu lemah atau tidak optimal maka dipastikan strategi vaksinnya juga akan lemah, tak akan secepat dan sesukses negara dengan 3T nya kuat. Butuh waktu lebih lama," kata Dicky.

Di sisi lain,  Dicky mengingatkan belum ada satu pun vaksin Covid-19 di tahap uji klinis fase III yang disetujui oleh WHO. Selain itu Dicky juga mengingatkan tidak ada jaminan bahwa vaksin di fase III akan sukses.

"Kalau melihat kuartal pertama tahun depan itu tidak realistis untuk Indonesia. Sebab, tidak ada jaminan bahwa fase III ini sukses. [Peluang] selalu 50 persen, ingat banyak vaksin yang memakan waktu tahunan hingga puluhan tahun seperti HIV itu gagal di fase III. Sekali lagi ini adalah virus baru dan tantangan lebih besar dibandingkan HIV," tutur Dicky. 

Dicky juga mengingatkan pemerintah harus menguatkan sistem kesehatan untuk mengendalikan pandemi. Ia mengatakan pandemi tidak bisa diselesaikan dengan cara diserahkan ke setiap daerah.

"Harus terus sinergi dan kolaborasi. Misalnya pulau Jawa ditangani secara bersamaan dan difasilitasi oleh pemerintah pusat," ujar Dicky.

Terpisah, Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo meyakini Indonesia bisa bebas dari pandemi Covid-19 tanpa harus menunggu keberadaan vaksin maupun obat. Ia mengatakan ini karena keberadaan vaksin dan obat yang masih memakan waktu lama.

Kunci pemutusan mata rantai pandemi Covid-19 berada di kombinasi 3T  serta 3M (memakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan).

Kunci ini juga harus didukung dengan kebijakan lockdown atau Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB) yang harus dituruti oleh masyarakat menghentikan mobilitas yang menjadi faktor penyebaran Covid-19.

"Kombinasi 3T, 3M dan dalam tanda kutip lockdown. Karena uji klinis vaksin belum tentu berhasil, jadi perlu langkah antisipatif," ujar Ahmad.

Ahmad mengatakan pandemi SARS dan MERS yang diakibatkan dengan virus corona yang mirip dengan virus SARS-CoV-2 dapat dituntaskan tanpa adanya vaksin dan obat. Kedua pandemi itu berakhir sebelum uji klinis selesai.

Namun patut diingat bahwa penyakit SARS dan MERS ini cukup mudah untuk diidentifikasi karena menimbulkan gejala bagi orang yang terinfeksi.

Sehingga pihak berwenang bisa dengan mudah melakukan isolasi para penderita ini. Di sisi lain, banyak pasien Covid-19 yang sama sekali tak menimbulkan gejala. Oleh karena itu, kapasitas 3T harus ditingkatkan.

"Intinya pengendalian wabah SARS dan MERS mudah karena cukup fokus pada yang bergejala," kata Ahmad.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo mengakui belum semua daerah melakukan tes pemeriksaan virus corona (Covid-19) sesuai yang disarankan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Belum semua wilayah di Indonesia memenuhi saran dari WHO yang satu tes per seribu (penduduk) per minggu," kata Agus

Agus mengatakan baru delapan provinsi yang memenuhi saran WHO. Delapan daerah itu, yakni Sumatera Barat, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Gorontalo, dan Papua.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]