CDC Ungkap Alasan 90 Persen Warga AS Rentan Tertular Covid-19

CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 15:24 WIB
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menunjukkan 90 persen populasi warga AS rentan terjangkit Covid-19. Ilustrasi virus corona di Amerika Serikat. (AP/Park Dong-joo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menunjukkan 90 persen populasi warganya rentan terjangkit virus corona Covid-19. Studi ini muncul ketika  setengah negara bagian di AS mencatat peningkatan kasus Covid-19 harian.

Direktur Pusat CDC, Redfield menyatakan hasil studi menunjukkan lebih dari 295 juta penduduk Amerika Serikat masih dapat terinfeksi virus Covid-19.

Universitas Johns Hopkins mencatat sekitar 6,9 juta orang AS atau sekitar 2 persen dari total populasi telah tertular Covid-19. Angka kematian di AS juga telah menyentuh 200 ribu orang.


AS menjadi negara dengan jumlah kematian dan penularan Covid-19 terbanyak di dunia. Bahkan para ahli memperingatkan bahwa penyebaran virus bisa lebih buruk dengan pembukaan sekolah dan ketika di musim dingin.

Setidaknya 22 negara bagian, sebagian besar di jantung AS dan melaporkan peningkatan kasus Covid-19 baru dibandingkan minggu sebelumnya. Secara nasional, AS rata-rata menangani lebih dari 43.000 kasus baru per hari.

Angka ini meningkat dua kali lipat dari bulan Juni ketika batasan lockdown dilonggarkan.

Pakar penyakit menular, Jeanne Marrazzo menyoroti angka kematian di AS yang tak lagi mengalami penurunan. Padahal penurunan jumlah kematian terjadi pada Agustus.

Dilansir dari CNN, Marrazzo menyebut kemungkinan penambahan 100 ribu kematian di Amerika Serikat hingga akhir tahun ini.

Dilansir dari CNBC, para peneliti dari Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan Universitas Washington memperkirakan total lebih dari 378 ribu orang Amerika akan meninggal karena Covid-19 pada 1 Januari.

"Intinya adalah bahwa tidak masalah di sisi mana Anda berada secara politik. Angka adalah angka. Anda tidak bisa berdebat dengan angka. Dan angka ini tidak menuju ke arah yang benar," tutur Marazzo.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]