Pakar Ungkap Plus Minus Remdesivir, Obat Ebola untuk Covid-19

CNN Indonesia | Senin, 28/09/2020 05:37 WIB
Remdesivir yang umumnya digunakan untuk pasien Ebola dinilai efektif diberikan pada pasien Covid-19 dengan kondisi kritis meski harganya mahal. Obat remdesivir yang digunakan untuk penyakit ebola disebut efektif untuk pasien Covid-19 dalam kondisi kritis. Ilustrasi (AFP/ULRICH PERREY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman mengungkapkan 'plus minus' penggunaan obat Remdesivir dalam penanganan pasien terpapar virus corona (Covid-19).

Obat tersebut diperbincangkan setelah Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan keinginan memproduksinya di dalam negeri melalui Bio Farma.

Dicky mengatakan Remdesivir umumnya digunakan pada penanganan pasien wabah Ebola. Namun, kata dia, obat tersebut cukup efektif diberikan pada pasien Corona dengan kondisi kritis.

"Efektif, tapi pada pasien kritis," kata Dicky melalui sambungan telepon, Minggu (27/9).


Dicky menyebut pasien positif Covid-19 dalam kondisi kritis bisa membaik dengan persentase 68 persen setelah diberi obat tersebut.

"Kritisnya itu ya bagaimana orang yang sudah pakai alat bantu pernapasan seperti itu. Nah, dengan obat itu jadi jumlah dari virus yang menyerang turun. Misalnya napas terganggu jadi turun," kata Dicky.

"Tapi tetap yang harus diingat masyarakat, ini hanya untuk kasus tertentu. Bukannya tenang ada ini (Remdesivir)," ujarnya menambahkan.

Meskipun demikian, Dicky menyebut obat tersebut tidak praktis dalam penggunaannya. Pasien yang memakai obat ini harus menggunakannya dengan metode infus.

Kemudian dari sisi harga, ia bilang jauh dari kata murah jika berkaca dari pemasarannya di luar negeri. Harga obat untuk satu pasien Covid-19 mencapai US$2.340 atau sekitar Rp34,9 juta, menggunakan kurs Rp14.938.

"Itu biasanya untuk penggunaan lima hari per pasien, bukan harga murah," katanya.

Jika obat itu diproduksi di Indonesia, Dicky mengatakan semua tergantung bagaimana kerja sama Indonesia dengan pemilik hak paten Remdesivir, Gilead. Termasuk juga mengenai ketersediaan bahan baku di Indonesia.

"Jadi isunya dua hak patennya seperti apa negosiasinya, dan bahan baku. Indonesia kan untuk parasetamol saja bahan bakunya masih impor," ujar Dicky.

Sementara itu Epidemiolog dari Universitas Indonesia Syahrizal Syarif mengatakan obat ini memang menjadi rujukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) lantaran efektif mencegah replika virus.

"Kalau Bio Farma bisa dapat izin dari perusahaan Gilead pemilik paten remdisivir untuk produksi sendiri atau kerjasama, hebat. WHO anggap Remdesivir (obat Ebola) sebagai obat paling efektif untuk cegah replikasi virus Covid-19," kata Syahrizal.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan meminta PT Bio Farma(Persero) mempercepat produksi obat Remdesivir. Obat Remdesivir disebut bisa mengobati pasien positif Covid-19.

"Harus diupayakan untuk segera produksi dalam negeri. Kita cari bahan-bahannya itu nanti, jadi jangan ada hambatan," ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Minggu (27/9).

Permintaan tersebut disampaikan Luhut dalam rapat koordinasi (rakor) penyediaan obat covid-19, pada Sabtu (26/9). Rapat tersebut turut dihadiri oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir, dan Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito.

Menteri Kesehatan Terawan mengatakan bahwa dia akan mendukung semua riset yang dilakukan untuk memproduksi Remdesivir dalam negeri. Dalam hal ini, Kemenkes akan bekerja sama dengan BUMN farmasi dan BPOM.

"Kami akan koordinasi supaya segala sesuatu tepat sasaran, tepat waktu dan kita tidak membuat kebijakan yang justru kita tidak bisa menyelamatkan (pasien covid-19) seperti apa yang Pak Luhut sampaikan," ujarnya.

(ryh/fra)

[Gambas:Video CNN]