Fakta Rudal Iskander Rusia, Dipakai Armenia Hantam Azerbaijan

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 19:21 WIB
Konflik dengan Azerbaijan, militer Armenia menggunakan peluru kendali atau rudal buatan Rusia yang bernama Iskander. Ilustrasi rudal di konflik Armenia dan Azerbaijan. (Istockphoto/ Aapsky)
Jakarta, CNN Indonesia --

Konflik antara Armenia dan Azerbaijan memanas setelah pertempuran yang menewaskan puluhan tentara dan warga sipil tewas di wilayah sengketa Nargono-Karabakh pada Senin (28/9).

Dalam konflik ini, tentara Armenia menggunakan peluru kendali buatan Rusia yang bernama Iskander. Rudal Iskander atau SS-26 Stone ini diproduksi dan juga digunakan oleh tentara Rusia.

Ada dua versi rudal, yaitu Iskander-M dan Iskander-E. Rudal Iskander-E tidak digunakan oleh Rusia, namun diekspor ke luar negeri. Iskander-M dioperasikan oleh Angkatan Darat Rusia sejak tahun 2006. Rudal memiliki jangkauan 400 hingga 500 kilometer dan memiliki sistem panduan serta optik.


Rudal mampu membawa hulu ledak hingga 700 kilogram dengan menggunakan kendaraan maneuverable re-entry vehicle (MaRV). Hulu ledak konvensional yang dapat dilengkapi oleh Iskander termasuk hulu ledak cluster, bahan peledak bahan bakar udara, penghancur bunker, dan hulu ledak electromagnetic pulse (EMP).

Iskander-E

Dilansir dari Missile Defence Advocacy Alliance, varian Iskander-E memiliki jangkauan 280 km dan kapasitas hulu ledak 480 kg. Iskander-E telah diekspor ke negara-negara seperti Suriah.

Pada 2016, Armenia menjadi pembeli pertama Iskander-E dan memamerkannya pada akhir tahun itu Aljazair kemudian membeli 4 resimen Iskander-E, dengan total 48 TEL dan 120 kendaraan pendukung 

Dilansir dari Missile Threat, kedua versi rudal tersebut menggunakan road-mobile TEL yang dapat membawa hingga dua rudal, masing-masing dapat ditargetkan secara independen dan mampu mengubah target dalam penerbangan.

Konflik antara Armenia dan Azerbaijan yang terjadi di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh pada Senin (28/9) dini hari sejauh ini menewaskan puluhan tentara dan warga sipil, serta ratusan lainnya luka-luka.

Hingga saat ini belum diketahui motif yang memicu pertempuran antara kedua negara. Namun konflik kali ini disebut sebagai bentrokan terbesar yang pernah terjadi sejak 2016. Berdasarkan catatan otoritas Nagorno-Karabakh, penembakan tepatnya terjadi di ibu kota wilayah Stepanakert dan kota Martakert dan Martuni.

Melansir CNN, Armenia mengatakan pihaknya menanggapi serangan rudal yang diluncurkan Azerbaijan pada Minggu (27/9). Sementara Azerbaijan menyalahkan Armenia atas bentrokan tersebut.

Menanggapi dugaan penembakan proyektil oleh Azerbaijan, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan menulis di Twitter-nya bahwa negaranya telah "menembak jatuh dua helikopter dan tiga UAV, (juga) menghancurkan tiga tank".

Sebagai akibat dari ketegangan yang meningkat, pemerintah Armenia memutuskan memberlakukan darurat militer dan memerintahkan "mobilisasi umum".

Keputusan serupa turut diambil Azerbaijan. Parlemen memutuskan memberlakukan darurat militer, yang efektif mulai tengah malam dan Presiden Ilham Aliyev menyetujui keputusan itu.

Infografis Perbandingan Militer Armenia-AzerbaijanInfografis Perbandingan Militer Armenia-Azerbaijan
(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]