Twitter Sembunyikan Cuitan Donald Trump Kebal Covid-19

CNN Indonesia | Senin, 12/10/2020 07:49 WIB
Twitter menyatakan cuitan Trump kebal Covid-19 melanggar kebijakan perusahaan terkait penyebaran informasi menyesatkan dan berpotensi berbahaya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (AP/Alex Brandon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Twitter menandai cuitan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berisi klaim kebal terhadap Covid-19 melanggar kebijakan perusahaan. Twitter menyembunyikan cuitan itu, namun tetap dapat diakses dengan peringatan.

Twitter menyatakan cuitan Trump melanggar aturan perusahaan tentang menyebarkan informasi menyesatkan dan berpotensi berbahaya terkait Covid-19. Meski begitu cuitan tetap dapat diakses dengan cara memilih 'View' lantaran kepentingan publik.

Kebijakan ini membuat cuitan Trump tidak dapat di-retweet, dikomentari, disukai, ataupun dibagikan. Pengguna hanya bisa memberikan 'quote retweet'.



Twitter memiliki aturan soal informasi terkait virus corona yang berpotensi berbahaya, seperti mengklaim kelompok tertentu kebal atau mempromosikan minum pemutih sebagai obat.

"Sesuai standar dengan pemberitahuan kepentingan publik ini, keterlibatan dengan Tweet akan dibatasi secara signifikan," kata juru bicara Twitter dalam sebuah pernyataan diberitakan cnet.com, Minggu (11/10).

Penandaan cuitan itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Facebook dan Twitter sama-sama mengambil tindakan terhadap unggahan lain Trump yang secara keliru menyatakan bahwa flu musiman lebih mematikan daripada Covid-19.

Twitter juga meminta Trump mencabut cuitan yang berisi alamat email seorang kolumnis karena melanggar aturan unggahan informasi pribadi.

Unggahan Trump di media sosial itu dilakukan setelah dia didiagnosis positif Covid-19. Trump kembali bekerja di Gedung Putih pada Senin setelah pulang dari Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed usai dokter kepresidenan mengatakan kesehatannya membaik saat dia menanggapi perawatan untuk Covid-19.

Lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia telah meninggal akibat virus corona jenis baru, Covid-19. Hingga Minggu (11/10) data dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan lebih dari 214 ribu kematian di AS pada hari Minggu.

(jnp/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK