Mahasiswa Unpad Buat Bungkus Jenazah Covid-19 dari Singkong

CNN Indonesia | Sabtu, 17/10/2020 09:25 WIB
Mahasiswa Unpad membuat pembungkus jenazah Covid-19 dengan bahan pati singkong yang ramah lingkungan dan mudah terurai. Ilustrasi jenazah Covid-19. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) menggagas penelitian penggunaan plastik ramah lingkungan atau biodegradable dari bahan pati singkong untuk membungkus jenazah pasien Covid-19.


Tiga mahasiswa Unpad, yaitu Adira Rahmawaty, Muhammad Ilfadry Rifasta, dan Salsa Sagitasa mengungkapkan pati singkong terbukti sebagai bahan plastik yang paling bagus dan mudah terurai. Hal ini diperoleh berdasarkan tinjauan dari sejumlah literatur dari jurnal penelitian yang telah ada.

"Kami melihat bahwa plastik ramah lingkungan yang terbuat dari pati singkong ini lebih cepat terurai dari plastik biasanya," kata Adira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (14/10).


Meski demikian, Adira mengakui biodegradable berbahan singkong rentan sobek dan rapuh. Oleh karenanya, pati singkong dicampur dengan sejumlah komposisi kitosan sebagai plasticizer.

"Tim kami memodifikasi beberapa zat tambahan yang ditambahkan ke dalam pembuatan pati singkong ini untuk memperkuat dari segi ketahanan pada air dan tidak mudah robek," ujarnya.

Adira menjelaskan, plastik berbahan pati singkong akan terurai dalam waktu 12 hari untuk ukuran satu milimeter. Jika asumsi penggunaan plastik untuk membungkus jenazah adalah sebesar dua meter persegi, waktu yang diperlukan untuk terurai di tanah hanya enam bulan.

Berdasarkan gagasan Adira bersama tim, pembuatan plastik pati singkong untuk bungkus jenazah Covid-19 hampir sama dengan pembuatan plastik ramah lingkungan pada umumnya.

"Campuran kemudian dipanaskan dalam suhu tinggi sehingga menjadi tercampur dan cair. Cairan ini dituangkan ke dalam cetakan dan dikeringkan dalam oven selama 24 jam," kata Adira.

Kemudian, material didinginkan oleh desikator dan dibiarkan sampai terbentuk film plastiknya. Menurut Adira, Indonesia sendiri sudah ada produk plastik ramah lingkungan berbahan pati singkong dan sudah digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Namun, kata dia, plastik tersebut rata-rata rapuh dan mudah sobek.

"Karena itu, tim menambahkan zat tambahan untuk menutupi kelemahan plastik ramah lingkungan tersebut. Zat tambahan yang digunakan dalam komposisi kitosan antara lain gliserol, sorbitol, aloe vera, dan minyak kayu manis," ujarnya.

Menurut Adira, masing-masing zat ada fungsi masing-masing. Ia bersama tim melakukan literatur review terhadap komposisi bahan plastik pati singkong tersebut.

Adira menuturkan, proses pemulasaran jenazah pasien Covid-19 yang menerapkan protokol kesehatan yang ketat, salah satunya adalah membungkusnya dengan plastik untuk mencegah tidak adanya cairan yang keluar dari jenazah. Sayangnya, kata dia, hal itu menjadi persoalan tersendiri bagi kelestarian lingkungan.

"Pembungkusan jenazah menggunakan plastik menjadi masalah mengingat plastik merupakan komponen yang sulit diurai dalam tanah. Butuh waktu paling cepat 100 tahun agar plastik bisa terurai. Jika kematian Covid-19 terus bertambah, ini berpotensi meningkatkan pencemaran lingkungan," ujarnya.

Gagasan ilmiah tersebut berhasil menyabet juara III pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Online Tingkat Nasional (LKTI OTN) 2020 yang digelar Universitas Brawijaya dari 6 Mei hingga 8 September lalu. Meski masih berupa gagasan ilmiah, Adira berharap dapat dilakukan pengujian lebih jauh di laboratorium.

"Harapan kami tentunya bisa dilakukan penelitian lebih lanjut dan bisa diimplementasikan untuk mengurangi kerusakan lingkungan," ujarnya.

Wacana terkait penggunaan plastik pada pemulasaran jenazah pasien Covid-19 juga pernah ditanggapi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Manager Kampanye Energi dan Perkotaan Walhi Dwi Sawung menuturkan, pemerintah harus mulai memikirkan penggunaan plastik organik untuk membungkus tubuh jenazah pasien Covid-19. Langkah ini penting untuk menyelamatkan bumi dari sampah plastik.

Seperti diketahui, jenazah Covid-19 yang sudah dimakamkan tidak bisa menularkan virus. Berdasarkan berbagai literatur, belum ada satupun organisme penyebab kematian massal yang bisa bertahan lama setelah jenazah dikubur.

Organisme yang dimaksud, antara lain adalah organisme yang menyebabkan kematian massal di masa lalu, seperti wabah pes, kolera, tipes, hingga tuberkolosis.

"Tidak ada bukti ilmiah pula yang menyatakan bahwa organisme tersebut yang pada akhirnya dapat menginfeksi orang-orang di sekitar area pemakaman," ujar Peneliti Bidang Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (3/4). 

(hyg/DAL)

[Gambas:Video CNN]