Hasil Survei Ahli soal Konspirasi Corona dan Keraguan Vaksin

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Kamis, 15/10/2020 08:05 WIB
Survei ini guna menakar kepercayaan masyarakat terhadap teori konspirasi pandemi Covid-19 termasuk vaksinnya. Pandemi Covid-19 dipercaya sebagian orang sebagai konspirasi. (Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini bagi sejumlah orang dianggap sebagai teori konspirasi. Para peneliti pun melakukan survei untuk menakar teori konspirasi tersebut di Inggris, Amerika Serikat (AS), Irlandia, Meksiko, dan Spanyol.

Studi itu guna mengungkapkan kepercayaan masyarakat terhadap teori konspirasi di balik pandemi Covid-19 termasuk vaksinnya. Studi itu dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science .

Melansir Phsy, Kamis (15/10) ilmuwan dari Universitas Cambridge mengumpulkan data dari sampel nasional di setiap negara. Mereka meminta peserta untuk menilai kebenaran beberapa pernyataan, termasuk enam mitos populer tentang Covid-19.


Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa teori konspirasi tertentu telah mengakar di sebagian besar populasi. Sementara sebagian besar orang di kelima negara menilai kesalahan informasi itu tidak dapat dipercaya.

Konspirasi yang dianggap paling valid secara keseluruhan adalah klaim bahwa Covid-19 direkayasa di laboratorium Wuhan, China. Sekitar 22-23 persen responden di Inggris dan AS menilai pernyataan itu 'dapat dipercaya'.

Di Irlandia angka itu naik menjadi 26 persen, sedangkan di Meksiko dan Spanyol melonjak menjadi 33 persen dan 37 persen masing-masing.

Sebanyak 22 persen publik Meksiko dan 18 persen publik Irlandia juga mempercayai bahwa konspirasi bahwa Covid-19 hasil rekayasa lab bagian dari skenario untuk kepentingan vaksinasi global. Sedangkan Spanyol, AS, dan Inggris sebesar 13 persen.

Sementara itu konspirasi menara telekomunikasi 5G memperburuk gejala Covid-19 tidak begitu tinggi, tapi tetap signifikan dipercaya. Sebanyak 16 persen publik Meksiko dan Spanyol percaya dengan konspirasi itu.

"Klaim misinformasi tertentu secara konsisten dipandang dapat dipercaya oleh sebagian besar masyarakat. Kami menemukan hubungan yang jelas antara mempercayai konspirasi virus corona dan keraguan seputar vaksin di masa depan," kata direktur Cambridge Social Decision-Making Lab, Sander van der Linden.

"Selain menandai klaim palsu, pemerintah dan perusahaan teknologi harus mencari cara untuk meningkatkan literasi media digital di masyarakat. Jika tidak, mengembangkan vaksin yang berfungsi mungkin tidak cukup," ujarnya menambahkan.

Melansir laman resmi Universitas Cambridge, penelitian juga menunjukkan bahwa orang tua di semua negara, kecuali Meksiko yang disurvei tidak rentan terhadap misinformasi Covid-19. Peneliti mengatakan orang tua di Meksiko sangat rentan.

Sedangkan tudingan keterlibatan kelompok politik sayap kanan atau konservatif di Irlandia, Meksiko, dan Spanyol sebagai pihak terkait Covid-19 juga diketahui cukup dipercaya. Sedangkan di Inggris dan AS tidak begitu banyak.

Di sisi lain, masyarakat diketahui masyarakat Spanyol, Meksiko, dan AS tidak begitu mempercayai politisi dapat secara efektif mengatasi krisis. Sedangkan di Inggris dan Irlandia cukup dipercaya.

Peneliti juga bertanya kepada peserta tentang sikap mereka terhadap vaksin virus corona di masa depan. Mereka juga diminta untuk menilai kepercayaan klaim konspirasi Covid-19 dengan skala satu hingga tujuh.

Rata-rata, peningkatan sepertujuh dalam anggapan keandalan misinformasi seseorang dikaitkan dengan penurunan hampir seperempat atau 23 persen kemungkinan mereka akan setuju untuk divaksinasi. Sebanyak 28 persen kemungkinan seseorang merekomendasikan vaksinasi kepada teman dan keluarga yang rentan.

Para peneliti mengendalikan banyak faktor lain, mulai dari usia hingga politik ketika memodelkan tingkat 'keraguan vaksin' dan menemukan hasil yang konsisten di semua negara kecuali Spanyol.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]