Ahli Ungkap Faktor Luhut Gagal Turunkan Corona dalam Sebulan

CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 16:08 WIB
Menurut epidemiolog, pengendalian Covid-19 tak bergantung pada individu yang memimpin seperti Luhut tapi kepada sistem kesehatan. Ilustrasi Luhut Binsar Panjaitan belum bisa turunkan angka positif Covid-19 di Indonesia. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman merespons kasus positif virus corona Covid-19 yang tak kunjung menurun di bawah kepemimpinan Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan

Bagi Dicky, pengendalian Covid-19 tak bergantung pada individu yang memimpin tapi kepada sistem kesehatan.

"Pengendalian pandemi Covid-19 ini harus berbasis atau mengandalkan sistem kesehatan. Siapapun itu tidak bisa mengandalkan individu,  satu-dua orang bahkan lembaga adhoc itu juga tak akan efektif dalam mengendalikan pandemi sekompleks Covid-19," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (16/6).


Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta Luhut menangani Covid-19 di sembilan provinsi prioritas dalam waktu dua pekan, terhitung sejak 15 September lalu.

Permintaan Jokowi adalah menurunkan angka positif Covid-19, menurunkan angka kematian, dan meningkatkan angka sembuh. Namun, sudah sebulan berjalan, angka positif malah meningkat.

Berdasarkan sejarah Indonesia, Dicky mengungkap sistem kesehatan yang andal bisa membawa Indonesia melewati sebuah wabah pandemi global. Ia menjelaskan sistem kesehatan yang efektif bisa juga digunakan dan dimanfaatkan untuk menghadapi pandemi.

"Dari awal selalu saya sampaikan ini bukan perkara Luhut, Erick (Menteri BUMN), atau Airlangga (Menko Perkonomian) siapapun tapi negara ini memerlukan sistem kesehatan," ujar Dicky.

Dicky mengingatkan sistem kesehatan juga harus diperkuat untuk mengantisipasi pengendalian pandemi yang akan datang. Dicky yakin ke depannya akan ada berbagai pandemi yang akan menjadi tantangan global. Oleh karena itu, sistem kesehatan ini harus diperkuat.

"Selain itu, yang menjadi juga PR besar kita adalah kita belum sangat memiliki strategi nasional yang kuat komprehensif dalam pandemi ini," tutur Dicky.

Dicky juga menjelaskan Indonesia belum menempatkan sektor kesehatan sebagai sektor pemimpin utama sebagai komando pengendalian pandemi. Menurut Dicky, sektor kesehatan harus segera dijadikan sebagai sektor pemimpin dalam pengendalian pandemi Covid-19.

"Ya tidak akan efektif. Sebagus apapun orang yang jadi komandan bila itu tidak berdasarkan pada sistem kesehatan yang memang harus berperan dan paling tepat merespons pandemi ini," tutur Dicky.

CNNIndonesia.com menggunakan data harian yang dihimpun Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 untuk melihat tren kasus Covid-19 di sembilan provinsi prioritas.

Kembilan provinsi prioritas yang penularannya tinggi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, Sumatera Utara, dan Papua.

Empat pekan berselang Covid-19 ditangani oleh purnawirawan jenderal TNI tersebut, akumulasi kasus positif Covid-19 di sembilan provinsi prioritas belum ada tren penurunan.

Di pekan awal September (1-7 September), akumulasi kasus positif sebanyak 16.682 kasus, kemudian meningkat di pekan kedua menjadi 17.942.

Pada pekan ketiga September menjadi pertama kalinya Luhut turun tangan. Di pekan ini yakni 15-21 September, akumulasi kasus positif justru meningkat menjadi 19.026 kasus.

Selanjutnya (22-28 September) kembali meningkat menjadi 19.836 kasus positif. Kasus positif sempat turun di minggu ketiga Luhut, (29 September-5 Oktober) sebanyak 18.962 kasus. Namun di pekan selanjutnya (6-12 Oktober) akumulasi kasus kembali meningkat menjadi 19.557 kasus.

Data terbaru pada 13-14 Oktober menunjukkan penambahan sebanyak 5.533 kasus. Dalam sebulan ditangani Luhut ada tambahan 82.914 kasus positif atau rata-rata penambahan kasus positif di angka 2.763 per hari.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]