Ahli: Big Data Jadi Komoditas Utama di Era Digital Indonesia

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 09:18 WIB
Era digital saat ini membuat banyak perusahaan di Indonesia yang melirik potensi ekonomi dari big data. Ilustrasi big data mencari incaran perusahaan di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertumbuhan Ekonomi digital mendorong big data atau data agregat menjadi komoditas krusial di Indonesia. 'New oil' di Indonesia ini membuat berbagai perusahaan, baik itu swasta nasional maupun BUMN melakukan investasi atau akuisisi perusahaan yang memiliki data agregat yang sangat besar.

Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi bandung, Muhammad Ridwan Effendi mengakui saat ini banyak perusahaan di Indonesia yang melirik potensi ekonomi dari big data.

"Potensi ekonomi dari data agregat di Indonesia sangat besar. Dari preferensi masyarakat dalam melakukan komunikasi atau kebiasaan berbelanja semuanya tercatat di operator penyelenggara jaringan dan penyedia platform digital, sehingga big data sangat berharga dan harus dapat dimonetisasi oleh bangsa Indonesia," ujar Ridwan dalam keterangan resmi dikutip Jumat (16/10).


Ridwan juga mengingatkan jangan sampai perusahaan dari negara lain justru memanfaatkan big data masyarakat di Indonesia. Ridwan menyarankan agar perusahaan di Indonesia dapat memilih mitra yang strategis untuk memonetisasi big data.

Belakangan beredar informasi bahwa Telkom Group berencana untuk berinvestasi di Gojek. Jika benar, Ridwan menilai langkah tersebut merupakan kebijakan korporasi yang tepat.

"Akan banyak potensi ekonomi yang nantinya bisa didapat oleh kedua belah pihak dengan mengolah big data yang dimiliki Telkom maupun Gojek. Saat ini value dari perusahaan bukan lagi dilihat dari hardware saja, tetapi juga software, termasuk kepemilikan data agregat yang besar," ujar Ridwan.

Ridwan menjelaskan di era saat ini yang menguasai dan memiliki data agregat yang besar adalah perusahaan digital. Sehingga investasi ini nantinya akan membuka peluang bagi Telkom tersebut untuk dapat mengolah big data yang dimiliki Gojek.

"Jadi jika benar Telkom akan berinvestasi di Gojek, maka itu menjadi sangat strategis bagi kedua belah pihak untuk dapat memanfaatkan data agregat tersebut," ujar Ridwan.

Ridwan menduga jika kolaborasi strategis antara Telkom dan Gojek ini terjadi, maka yang akan diolah mereka adalah profiling masyarakat Indonesia. Data pengguna layanan telekomunikasi Telkom Group dan Gojek yang tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Segmen pengguna layanan Telkom maupun Gojek juga merata di semua kelas, baik itu kelas atas maupun bawah.

Ridwan menjelaskan Telkom memang memiliki profiling lengkap mengenai kebiasaan masyarakat Indonesia dalam berkomunikasi, namun Telkom sulit untuk mengetahui pola konsumsi masyarakat Indonesia.

"Yang memiliki profiling lengkap mengenai itu ada di Gojek, sehingga kolaborasi data agregat ini yang akan sangat berharga di kemudian hari. Kedua belah pihak memiliki nilai tawar masing-masing," tutur Ridwan.

Ridwan mengatakan dengan jaringan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia membuat nilai Telkom sangat tinggi. Sebab aset utama dari ekonomi digital adalah jaringan telekomunikasi yang handal dan tersebar di seluruh wilayah.

Sementara itu Gojek merupakan perusahaan digital yang menyediakan one stop solution bagi seluruh kebutuhan masyarakat. Dari layanan transportasi serta logistik, pengiriman makanan, penjualan pulsa, hingga layanan finansial.

"Dengan memiliki keunggulan masing-masing di bidangnya membuat investasi Telkom di Gojek nantinya sangat strategis. Dengan Telkom berinvestasi di perusahaan digital merupakan ikhtiar mereka untuk memonetisasi potensi ekonomi digital di Indonesia, dan itu akan sangat menjanjikan keuntungan," tutup Ridwan.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]