Ekonomi Minus, Sektor Telekomunikasi Tenggak Untung

CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2020 17:12 WIB
Di tengah ekonomi Indonesia yang minus 5,32 persen pada kuartal II 2020 akibat pandemi Covid-19, sektor telekomunikasi berjaya dan menenggak untung. Ilustrasi. Sektor telekomunikasi dan teknologi berhasil menggak untung di tengah pandemi Covid-19 dan ekonomi Indonesia yang minus 5,32 persen (Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sektor telekomunikasi, teknologi, dan media, berhasil menggak untung di tengah ekonomi Indonesia yang minus 5,32 persen pada kuartal II 2020 akibat pandemi Covid-19.

Peningkatan laba juga terjadi di perusahaan-perusahaan sektor telekomunikasi, teknologi, dan media. Padahal, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia rontok hingga minus 5,32 persen pada kuartal II 2020.

Realisasi ini merupakan minus terparah sejak kuartal I 1999 di era Presiden Habibie.


Tiga perusahaan telekomunikasi dan teknologi yang berhasil mencatat keuntungan tertinggi adalah perusahaan penyedia tower telekomunikasi, PT Tower Bersama Infrastructure, PT Bali Towerindo, dan Metrodata.

Laba PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) meningkat Rp128 miliar dari Rp382 miliar menjadi Rp510 miliar pada semester I 2020. Perusahaan ini fokus di bidang infrastruktur TIK berupa menara telekomunikasi.

Sementara, laba PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) naik Rp6,7 miliar menjadi Rp31,2 miliar. PT Bali Towerindo Sentra Tbk merupakan perseroan di Badung, Bali yang berdiri sejak 2006 yang memiliki layanan komunikasi data dan saluran televisi, Balifiber.

Sementara itu, PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) juga meningkat Rp4 miliar menjadi Rp156 miliar. Salah satu entitas Metrodata Electronics, PT Synnex Metrodata Indonesia (SMI) fokus pada bidang Network Solution dan IoT Business.

Selain sektor telekomunikasi dan teknologi ada beberaoa sektor lain yang juga mendulang untung saat pendemi yang mengancam terjadi resesi ekonomi. Beberapa sektor lain itu adalah sektor barang konsumsi dan farmasi, dan keuangan.

Indosat dan Smartfren rugi

Meski demikian, tidak semua perusahaan telekomunikasi dan teknologi mengalami keuntungan. Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia, Indosat dan Smartfren mencatat kerugian di tengah pandemi.

Indosat Tbk (ISAT) mencatat rugi bersih sepanjang semester I 2020 sebesar Rp341,1 miliar. Angka kerugian ini naik 2,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan angka Rp331,89 miliar.

Kerugian ini terjadi meski Indosat meraih kenaikan pendapatan 9,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan Indosat pada semester I 2020 sebesar Rp13,5 triliun.

Sementara itu, PT Smartfren Telecom Tbk meraih kenaikan pendapatan sebesar 41,98 persen pada semester I 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan periode Januari-Juni 2020 sebesar Rp4,30 triliun dari sebelumnya Rp3,03 triliun.

Namun, perseroan justru mencatat kenaikan rugi sebesar 13,99 persen, dari rugi Rp1,07 triliun menjadi minus Rp1,22 triliun. Sebab, beban usaha perseroan naik dari Rp4,31 triliun menjadi Rp5,17 triliun.

Sebelumnya, BPS baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 atau selama April-Juni lalu. Hasilnya, ekonomi terkontraksi hingga minus 5,32 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) dan minus 4,19 persen secara kuartalan.

Hal ini terjadi karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini menopang ekonomi nasional minus 2,96 persen. Padahal, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 2,78 persen pada kuartal II 2019 dan 2,97 persen pada kuartal I 2020.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]