LIPI Ungkap Potensi Gempa Intraplate Jabar Sebabkan Kerusakan

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 12:12 WIB
BMKG mengatakan gempa berkekuatan magnitudo (M) 5,6 mengguncang Pangandara, Jawa Barat, pada Minggu (25/10), dipicu patahan di dasar laut. Ilustrasi gempa pangandaran dipicu patahan lempeng dasar laut. (Foto: AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menduga gempa berkekuatan magnitudo (M) 5,6 mengguncang Pangandaran, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang terjadi pada Minggu (25/10), dipicu patahan atau deformasi.

Menurut Daryono, patahan terjadi pada badan lempeng Indo-Australia yang menukik ke bawah Lempeng Eurasia.

"Melihat kedalaman gempa ini 62 km, gempa ini diduga dipicu oleh adanya patahan atau deformasi pada badan lempeng Indo-Australia yang menghunjam ke bawah Lempeng Eurasia," ujar Daryoni dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10).


Daryono menuturkan bidang kontak antara dua lempeng itu berada di kedalaman sekitar 50 km. Sehingga, pusat gempa berada di bawah bidang kontak antar lempeng jika gempa memiliki kedalaman 62 km.

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan gempa beberapa hari lalu dikenal sebagai gempa intraplate. Salah satu ciri gempa itu adalah akan memberikan dampak guncangan (ground motion) yang lebih besar dari yang semestinya.

Fakta itu, kata dia tampak pada dampak gempanya, dengan kekuatan 5,6 yang mampu menyebabkan kerusakan 29 rumah rusak dengan spektrum guncangan yang luas mencapai Semarang dan Yogyakarta.

"Gempa intraplate dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar seperti halnya peristiwa gempa Padang berkekuatan 7,6 kedalaman 87 km pada 30 September 2009 yang menyebabkan sebanyak 1.117 orang meninggal," ujarnya.

Waspada gempa intraplate di Jawa Barat

Di sisi lain, Daryono menyampaikan gempa tersebut perlu diantisipasi mengingat guncangannya yang berdampak merusak dan dirasakan hingga hingga semarang dan Yogyakarta. Dijelaskan Daryono masyarakat harus waspada sebab, gempa intraplate di Jawa Barat bisa terjadi dengan waktu yang tidak bisa diprediksi.

"Bisa (terjadi gempa intraplate) tetapi tidak bisa diprediksi," ucap Daryono.

Kendati demikian, warga diminta tidak cemas berlebihan terkait gempa tersebut.

"Kami mengimbau kepada masyarakat agar jangan terlalu cemas dan khawatir terkait kajian potensi gempa dan tsunami tersebut. Namun, harus tetap waspada dan merespons dengan upaya mitigasi yang nyata," ujar Daryono.

Berdasarkan analisa, menurutnya lokasi pusat gempa diketahui relatif dekat dengan pusat gempa pembangkit tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 yang menyebabkan 668 orang meninggal.

"Pusat gempa 25 Oktober 2020 kemarin, terletak di sebelah utara sejauh 131 km dari pusat gempa berkekuatan 7,7 pembangkit tsunami Pangandaran 2006," ujarnya.

Daryono menambahkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami karena pusatnya berada di kedalaman menengah dengan kekuatan di bawah 7,0. Sehingga tidak terlalu berdampak mengganggu kolom air laut.

Lebih dari itu, dia berkata gempa itu merupakan bagian dari rangkaian aktivitas gempa di selatan Jawa Barat yang akhir-akhir ini mengalami peningkatan, seperti halnya kluster selatan Cilacap-Pangandaran, Sukabumi-Cipamingkis, dan Bayah, Lebak.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan penyebab gempa bumi dengan magnitudo 5,9 yang mengguncang barat daya Kabupaten Pangandaran kemungkinan akibat aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Jawa Barat.


Berdasarkan keterangan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Sukabumi, Tasikmalaya, dan Pangandaran dengan intensitas III-IV MMI, di Cilacap, Kuningan, Garut, dengan intensitas III MMI, serta di Kab. Bandung, Banyumas, Kutoarjo, Kebumen, Banjarnegara, Kulonprogo, Bantul, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Bandung dengan intensitas II-III MMI. 

(jps/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK