Komodo, Hewan Endemik RI yang Punya Cara Unik untuk Kawin

CNN Indonesia | Senin, 02/11/2020 06:20 WIB
Komodo tergolong selektif dalam proses kawin atau reproduksinya, terutama bagi Komodo betina. Ilustrasi komodo. (AFP/JUNI KRISWANTO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada fakta menari di balik proses pemilihan pasangan kawin Komodo. Kadal raksasa yang memiliki nama latin Varanus komodoensis ini tergolong selektif dalam proses reproduksinya, terutama bagi Komodo betina.

Melansir dari Komodo Travel, setahun sekali saat musim kawin tiba yang biasanya terjadi pada periode Mei hingga Agustus, komodo betina akan memberikan 'pengumuman' lewat bau dari kotorannya. Merespons hal itu, beberapa komodo jantan akan aktif bergulat memperebutkan hak kawin dari komodo betina.

Komodo jantan bakal bertarung untuk merebut pilihan komodo betina sekaligus menunjukkan kuasa dan dominasinya. Mereka akan bertarung layaknya pria bergulat hingga salah satu menyerah sampai tersungkur di tanah.


Kemudian, ketika salah satu komodo jantan kalah, maka pemenang akan menjulurkan lidah panjangnya pada tubuh komodo betina untuk melihat penerimaan sang betina.

Ketika gayung bersambut dari betina, maka kedua binatang reptil ini akan kawin dengan cara komodo jantan menggosokkan dagu di tubuh komodo betina dan menyatukan kedua alat reproduksi mereka.

Kemudian, selama bulan September, komodo betina akan bertelur rata-rata 20-30 telur di liang galian bukit. Setelah masa inkubasi selama 7-8 bulan, calon bayi komodo akan menggunakan 'gigi telur' khususnya untuk memecahkan cangkang telur agar bisa lepas.

Setelah berhasil menembus cangkang telur, bayi komodo tersebut bakal kelelahan dan seringkali beristirahat dalam waktu lama sebelum menggali jalan keluar dari sarangnya.

Sebab, bayi komodo yang baru lahir umumnya tidak berdaya sehingga mudah menjadi sasaran predator. Komodo membutuhkan tiga sampai lima tahun untuk menjadi dewasa, dan dapat hidup lebih dari 50 tahun.

Lebih lanjut, selain selektif saat memilih pasangan kawin, reproduksi komodo juga tidak jauh dari incest atau hubungan perkawinan sedarah. Hal itu terjadi karena komodo betina mempunyai kromosom kelamin jantan dan betina, sehingga komodo betina dapat bereproduksi secara aseksual dalam proses yang disebut partenogenesis.

Partenogenesis terjadi ketika sel telur lain, bukan sperma, membuahi sel telur. Proses biologis pembuatan sel telur, yang disebut oogenesis itu biasanya menghasilkan tubuh kutub yang berisi duplikat DNA telur. Ini adalah kejadian yang langka bagi vertebrata atau hewan dengan tulang belakang seperti Komodo.

Kemudian kelemahannya semua bayi komodo yang dihasilkan dari partenogenesis berjenis kelamin jantan, sehingga populasi komodo betina akan semakin punah.

Selain itu, manusia juga menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup komodo, seperti orang-orang yang merusak habitat komodo dengan tujuan lain, Atau turis wisatawan yang datang dengan menawarkan makanan dan mengganggu proses kawin komodo.

"Mereka akan tumbuh untuk kawin dengan ibunya sendiri. Oleh karena itu, dalam satu generasi, berpotensi ada populasi yang dapat berkembang biak secara normal di pulau baru," kata Peneliti dari Kebun Binatang Chester Kevin Buley dilansir dari Live Science, Selasa (27/10).

Melansir dari Unesco, Komodo adalah spesies kadal terbesar yang masih hidup, tumbuh dengan panjang rata-rata 2 hingga 3 meter. Spesies tersebut merupakan representasi terakhir dari populasi peninggalan kadal besar yang pernah hidup di seluruh Indonesia dan Australia.

Satwa endemik ini terdapat di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Baru-baru ini, Komodo tengah ramai dibicarakan lantaran warganet mengecam aksi rencana pembangunan Jurassic Park di area Taman Nasional Komodo yang dinilai bisa membahayakan kelangsungan hidup dan habitat binatang reptil ini.

(khr/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK