Ahli China Klaim Covid-19 Bukan dari Wuhan, Tapi Asli India

CNN Indonesia | Sabtu, 28/11/2020 08:26 WIB
Peneliti asal China menuding bahwa Covid-19 bukan berasa dari Wuhan, namun dari India atau Bangladesh. Ilustrasi virus corona di Wuhan China. (AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah peneliti China menerbitkan jurnal ilmiah yang mengklaim bahwa asal virus corona Covid-19 bukan dari Wuhan, China. Mereka mengklaim memiliki teori baru yang menyatakan bahwa SARS-Cov-2 itu berasal dari India.

Penelitian ini telah ditinjau oleh sejawat (peer reviewed) dan diterbitkan dalam jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution dan tertulis dipimpin oleh Shen Libing, dari Ilmu Biologi, Institut Shanghai.

Sebelumnya, makalah yang berjudul 'The Early Cryptic Transmission and Evolution of Sars-CoV-2 in Human Hosts', bahkan mengklaim bahwa virus corona sudah ada di India dan Bangladesh. Namun penelitian oleh ahli China itu belum dilakukan peer reviewed.


Shen mengklaim berdasarkan mutasi dan sejarah evolusi virus di China, virus kelelawar tidak berkaitan dengan virus manusia. Atas dasar itu mereka mengklaim tidak ada yang bisa melacak pandemi Covid-19 sejak awal.

Mereka kemudian menggunakan metode baru yang hanya menghitung jumlah mutasi pada setiap jenis virus. Strain dengan lebih banyak mutasi telah ada untuk waktu yang lebih lama, dan mutasi yang lebih sedikit justru lebih dekat dengan nenek moyang asli SARS-CoV-2.

"Tim menemukan bahwa beberapa strain memiliki mutasi lebih sedikit daripada yang pertama kali dikumpulkan di Wuhan. Itu artinya Wuhan tidak bisa menjadi tempat pertama di mana penularan SARS-CoV-2 dari manusia ke manusia terjadi," klaim Shen mengutip SCMP, Jumat (27/11).

Lebih lanjut, makalah Shen tersebut menyatakan bahwa strain paling sedikit bermutasi ditemukan di delapan negara dari empat benua: Australia, Bangladesh, Yunani, AS, Rusia, Italia, India, dan Republik Ceko.

Shen mengklaim virus corona tidak bisa menular ke manusia dari semua tempat ini pada waktu yang bersamaan.

Area wabah corona pertama seharusnya memiliki keragaman genetik terbesar, menandakan bahwa wabah tersebut sudah ada lebih lama. Shen lalu mengklaim tidak ada daerah lain yang memiliki keragaman virus lebih banyak daripada India dan Bangladesh.

"Informasi geografis strain yang paling sedikit bermutasi dan keanekaragaman strain menunjukkan bahwa India menjadi tempat penularan SARS-CoV-2 dari manusia ke manusia yang paling awal terjadi," tegas Shen.

Shen kemudian menuding cuaca ekstrem mungkin telah memicu pandemi Covid-19 di India. Pada Mei 2019, India diserang gelombang panas terpanjang kedua. Kekeringan disebut memaksa hewan dan manusia ambil sumber air minum dari tempat yang sama.

"Ini mungkin telah meningkatkan kemungkinan virus menular ke manusia," kata Shen.

Namun, ilmuwan lain mempertanyakan temuan peneliti China Shen tersebut. Mereka mengatakan prinsip penelitian dan perangkat lunak yang digunakan tidak sesuai dengan standar yang diharapkan untuk jenis analisis filogenetik ini.

"Memilih urutan virus yang tampaknya memiliki jumlah perbedaan paling sedikit dari yang lain dalam kumpulan acak tidak mungkin menghasilkan 'nenek moyang' dari virus," kata Marc Suchard, profesor di Departemen Biostatistik dan Genetika Manusia di Universitas California, Los Angeles.

Penemuan Shen juga dibantah Mukesh Thakur, Ahli Virologi pemerintah India yang juga aktif di Zoological Survey of India. Thakur menekankan argumen yang dibangun oleh peneliti China tidak kuat.

"Tampaknya hasil salah tafsir," kata Thakur. 

Corona Disebut Muncul Pertama di Italia

Sementara itu, menurut para ilmuwan di Italia, pasien dalam uji coba kanker ditemukan telah mengembangkan antibodi virus korona beberapa bulan sebelum kasus resmi pertama di Wuhan, Tiongkok.

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Covid-19 tidak diketahui sebelum wabah pertama kali dilaporkan di Wuhan, pada Desember. Beberapa bulan kemudian, kasus resmi pertama terdeteksi di Eropa.

Menurut temuan yang diterbitkan oleh Institut Kanker Nasional Milan (NCI), sampel dari empat pasien, sejak awal Oktober 2019, ditemukan mengandung antibodi Covid-19.

"Hasilnya berarti pasien tertular virus corona pada September. Sekitar lima bulan sebelum Italia mencatat pasien Covid-19 resmi pertamanya pada 21 Februari di sebuah kota dekat Milan, di wilayah utara Lombardy," sebut temuan NCI itu, mengutip Sky News, (17/11).

Studi yang diterbitkan oleh majalah ilmiah NCI Tumori Journal membeberkan bahwa 11,6 persen sampel darah dari 959 sukarelawan sehat, yang terdaftar dalam uji coba skrining kanker paru antara September 2019 dan Maret 2020, telah mengembangkan antibodi corona jauh sebelum Februari.

"Ini adalah temuan utama: orang tanpa gejala tidak hanya positif setelah tes serologis, tetapi juga memiliki antibodi yang mampu membunuh virus," tulis alah satu peneliti dari jurnal tersebut, Giovanni Apolone.

"Artinya, virus corona dapat beredar di antara populasi dalam waktu lama dan dengan tingkat kematian yang rendah bukan karena menghilang tetapi karena melonjak lagi," pungkasnya.

(dal/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK