Proses Bikin Daging Buatan Lab, Akan Dijual di Singapura

CNN Indonesia | Sabtu, 05/12/2020 04:15 WIB
Daging buatan laboratorium bakal dijual di Singapura. Berikut proses pembuatan panganan itu. Ilustrasi daging buatan laboratorium (Istockphoto/Wiktory)
Jakarta, CNN Indonesia --

Daging buatan yang dibudidayakan di laboratorium bakal dijual pertama kali di dunia di Singapura setelah perusahaan rintisan teknologi pangan Eat Just menerima izin penjualan.

Eat Just mengumumkan bahwa mereka telah menerima persetujuan regulasi pertama di dunia oleh otoritas Singapura pada Rabu (2/12).

Proses pembuatan daging buatan ini, para ilmuwan akan menggunakan sel induk sapi, sel otot dan organ lainnya, dalam memulai proses pembuatan daging yang dibudidayakan.


Kemudian, sel-sel itu ditempatkan dalam cawan petri atau gelas laboratorium bakal dibubuhi asam amino dan karbohidrat yang berguna untuk membantu sel otot berkembang biak dan tumbuh lebih cepat. Setelah cukup banyak serat otot tumbuh, hasilnya adalah daging bakal menyerupai daging olahan atau gilingan.

Daging yang dibuat di laboratorium ini disebut bakal lebih ramah lingkungan ketimbang memelihara hewan sebenarnya.

Sebab, pembuatan daging di laboratorium membutuhkan energi 45 persen lebih sedikit,99 persen penggunaan lahan lebih sedikit, dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lebih sedikit 96 persen.

Melansir laman pendidikan dan teknologi GCFLearnFree, daging hasil laboratorium juga berpotensi mengurangi jumlah metana yang dihasilkan oleh peternakan konvensional. Peternakan dilaporkan menghasilkan metana sekitar 100 juta ton setiap tahunnya. 

Kemudian, tidak hanya sapi, ayam dan bebek juga tengah dalam proses budidaya laboratorium ini. Ilmuwan juga telah melakukan eksperimen dengan proses yang sama dari pertanian sel untuk menghasilkan susu, telur, dan kulit.

Sementara itu, laman World Animal Protection pun memaparkan setidaknya ada banyak manfaat dari produksi buatan daging ini. Salah satunya, tidak ada lagi 'kekejaman' yang dilakukan terhadap hewan, sebab dari 70 miliar hewan yang dibudidayakan setiap tahun di seluruh dunia, sekitar 50 miliar di antaranya adalah peternakan pabrik.

Kemudian, daging buatan ini dinilai memiliki kadar lemak jenuh yang lebih sedikit sehingga tidak menyebabkan banyak penyakit seperti kolesterol dan hipertensi.

Selain itu, konsumen tidak perlu takut terpapar zat kimia yang biasanya banyak terdapat pada produksi peternakan konvensional yang menggunakan suntik hormon guna menghasilkan hewan ternak yang maksimal pertumbuhannya.

Selain itu, daging buatan juga dinilai lebih aman dan bersih untuk dikonsumsi. Hal itu dikarenakan banyak bakteri jahat seperti salmonella dan E. coli hidup di usus hewan dan menyebar melalui kotorannya. Proses penyembelihan hewan dan penyiapan daging juga dapat mengakibatkan kontaminasi.

Terakhir, dengan pengadaan daging buatan ini, maka diharapkan dapat menurunkan angka kelaparan dan stunting di berbagai belahan dunia.

(khr/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK