Deretan Masalah di Balik Matahari Buatan China

CNN Indonesia | Jumat, 11/12/2020 08:17 WIB
Matahari buatan yang dibuat China berhasil menyala, meski hanya beberapa detik. Riset sejak 1990 itu tak selalu berjalan mulus. Ilustrasi matahari buatan China. (AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Artificial Sun atau matahari buatan yang dikembangkan oleh para peneliti China berhasil menyala, meski hanya beberapa detik. Penelitian yang sudah dilakukan sejak 1990-an ini bisa menjadi sumber energi baru, menggantikan energi fosil yang kita gunakan saat ini.

Namun penelitian ini juga tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa masalah yang menjadi hambatan para ilmuwan dalam pengembangan reaktor fusi nuklir Tokamak, si mesin silinder berbentuk donat yang mampu menghasilkan energi 15 kali matahari.

Profesor Fisika Nuklir Universitas Peking, Wang Yang mengatakan medan magnet yang digunakan HL-2M Tokamak tidak dapat membendung reaksi fusi dalam jangka waktu lama. Ini perlu menjadi perhatian karena energi panas yang dikeluarkan akan sangat besar.


"Tidak apa-apa untuk operasi jangka pendek, tidak ada bahan buatan manusia yang dapat menahan kerusakan kumulatif dari partikel sub-atom selama beberapa tahun atau dekade, butuh waktu lama untuk menemukan bahan yang tepat," kata Wang dilansir South China Morning Post, Kamis (10/12).

Upaya untuk membendung energi panas yang dihasilkan dari fusi ini juga menjadi perhatian Peneliti di National Spherical Torus Experiment (NSFX). Peneliti Plasma Fisik, Clayton Myers mengatakan proton dan elektron yang mengalir bebas di dalam Tokamak sulit untuk dibendung.

"Mereka [sub atom] ingin berceceran di mana-mana, namun, kita perlu menahannya, pada tekanan yang cukup tinggi dan untuk interval waktu yang cukup lama sehingga kita dapat menghasilkan lebih banyak energi daripada yang kita masukkan," tuturnya.

Energi matahari sendiri mengandung plasma dengan gravitasi sangat besar, Bumi bisa menahan energi tersebut dikarenakan gaya magnet di inti bumi. Sementara energi magnet yang dimiliki Tokamak tidak bisa dibandingkan dengan magnet milik Bumi.

"Kita membutuhkan magnet atau laser yang kuat untuk melakukannya, dan margin kesalahan sangat kecil. Sejumlah kecil plasma yang lolos dapat melukai dinding reaktor fusi, menyebabkan mesin mati," kata Myers.

Mengutip Gizmodo, China Fusion Engineering Test Reaktor (CFETR) mengatakan ada dua kendala utama yang dihadapi peneliti dalam mengembangkan reaktor ini. Kendala pertama adalah ketidakpastian berapa lama reaktor fusi tersebut bisa menyala dan menghasilkan energi panas.

Proyek reaktor fusi sendiri rencananya akan menjadi produk komersial pada 2050, sementara reaktor komersial perlu dijalankan selama bertahun-tahun atau bahkan hingga puluhan tahun.

Para ilmuwan di China masih mencari solusi atas pertanyaan ini dengan melakukan penelitian di Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST).

Kedua adalah ketidakpastian tentang panas yang dihasilkan. HL-2M Tokamak mampu mencapai suhu hingga 200 derajat celcius, sejauh ini baru fasilitas di China yang mampu melakukan simulasi panas tersebut.

(mel/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK