5 Fakta Gempa di Mamuju yang Berpotensi Tsunami

CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2021 14:16 WIB
Fakta-fakta terkait dengan gempa yang terjadi di Sulawesi Barat, pada Jumat (15/1). Gempa di Mamuju, Sulawesi Barat. (Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gempa dahsyat melanda wilayah Mamuju, Majene, dan kawasan lain sekitar Sulawesi Barat, pada Jumat (15/1). Fenomena itu membuat banyak bangunan runtuh, ribuan orang luka, dan sejumlah orang dikabarkan meninggal dunia.

Tim penyelamat masih berusaha untuk menyelamatkan sejumlah orang yang dilaporkan tertimbun reruntuhan bangunan. Kondisi di kawasan itu juga masih belum kondusif karena sejumlah sejumlah fasilitas umum seperti listrik belum menyala.

Berikut fakta-fakta terkait dengan gempa yang terjadi di Sulbar:


Gempa dangkal

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyampaikan gempa yang terjadi di Sulbar adalah jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Pusat gempa dilaporkan berada di 6 kilometer laut Majene dengan kedalaman 10 km.

BMKG mengatakan gempa tersebut akibat dari aktivitas sesar atau patahan lokal di kawasan tersebut. Gempa bumi dangkal merupakan gempa yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan laut. Gempa itu kerap menimbulkan kerusakan yang besar.

Puluhan gempa susulan

BMKG mengatakan puluhan gempa bumi terjadi sejak Kamis (14/1) hingga Jumat (15/1). BMKG mencatat gempa pertama terjadi pada Kamis (14/1), sekitar pukul 13.35 WIB dengan magnitudo 5,9.

Sedangkan gempa yang menyebabkan kerusakan parah dan menimbulkan korban jiwa terjadi pada Jumat (15/1), pukul 01.28 WIB. BMKG mencatat magnitudo gempa sebesar 6,2.

Berpotensi tsunami

BMKG menyatakan Sulawesi Barat berpotensi diterjang tsunami jika ada gempa susulan dalam waktu dekat. Salah satu penyebab potensi itu adalah adanya longsor bawah laut.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat di Majene untuk bersiaga dan siap dievakuasi jika terjadi gempa susulan.

Dia juga mengimbau masyarakat menghindari bangunan rentan. Sebab gempa yang terjadi di Majene sejak kemarin punya kekuatan meruntuhkan bangunan.

Pernah diterjang tsunami

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan gempa bumi akibat sesar naik di bagian barat Provinsi Sulawesi Barat pernah memicu terjadinya tsunami di Majene pada 1969.

Kala itu, gempa magnitudo 6,9 yang menewaskan 63 orang itu diikuti dengan gelombang tsunami setinggi 10 meter.

Dia meminta masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG.

Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya dengan berita bohong (hoaks) mengenai prediksi dan ramalan gempa yang akan terjadi dengan kekuatan lebih besar dan akan terjadi tsunami.

Potensi longsor

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Kasbani mengatakan ada potensi tanah longsor imbas gempa bumi yang melanda Mamuju dan Majene di Sulawesi Barat.

Tanah longsor bisa terjadi lantaran morfologi dan umur batuan di kawasan sekitar Mamuju dan Majene yang menjadi lokasi gempa.

Kedua kawasan itu diketahui tersusun oleh batuan berumur pratersier (terdiri - dari batuan metamorf, metasedimen), tersier (terdiri - dari batuan sedimen, batu gamping, gunung api) dan endapan kuarter (terdiri - dari endapan pantai dan aluvial).

"Batuan berumur pratersier dan tersier yang telah mengalami pelapukan akan berpotensi terjadi gerakan tanah/ longsoran apabila dipicu guncangan gempa bumi kuat di daerah ini," tulisnya dalam keterangan resmi, Jumat (15/1).

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK