Nasib Vaksin Covid-19, Ketika Virus Corona Terus Bermutasi

jps, CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2021 07:19 WIB
Para ahli memperkirakan nasib vaksin Covid-19 yang saat ini sudah dikembangkan ketika virus corona SARS-CoV-2 terus bermutasi. Para ahli memperkirakan nasib vaksin Covid-19 yang saat ini sudah dikembangkan ketika virus corona SARS-CoV-2 terus bermutasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalismaaa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Munculnya varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang lebih mudah menular telah memicu perdebatan apakah vaksin Covid-19 yang dikembangkan hingga saat ini akan terus memberikan perlindungan terhadap mutasi virus corona.

Sebab, kecepatan teknologi pengembangan vaksin yang ada saat ini dinilai masih belum bisa mengimbangi kecepatan mutasi virus corona.

Ahli menilai strategi global dinilai perlu untuk memastikan bahwa vaksin Covid-19 tetap berkhasiat meski virus corona SARS-CoV-2 bermutasi. Sebab, ahli khawatir jika berlanjut mutasi jadi lebih berbahaya. Namun, hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan varian baru yang terdeteksi di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil akan berdampak pada keampuhan vaksin.


"Virus itu sendiri tidak memiliki tingkat mutasi yang sangat cepat, tetapi ada begitu banyak penularan dan begitu banyak kasus di seluruh dunia membuat virus berada di bawah tekanan yang sangat besar," kata Katrina Pollock, vaksinologi Imperial College London, melansir The Guardian

Vaksin Covid-19 akan terus diperbarui

Ketua konsorsium Covid-19 Genomics UK (Cog-UK), Sharon Peacock mengatakan kehadiran vaksin akan mempengaruhi virus. Menurutnya, virus akan mencoba menemukan cara baru untuk bertahan atau disebut dengan evolusi.

Terkait dengan hal itu, Peacock mengatakan vaksin Covid-19 kemungkinan akan terus diperbaharui mengikuti mutasi virus seperti vaksin influenza. Untuk melakukan itu, laboratorium di seluruh dunia akan terus-menerus mengurutkan genom virus Covid-19 yang dikumpulkan dari sampel pasien dan memaparkan virus ini ke antibodi dari orang yang telah divaksinasi.

Hal itu memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi strain mana yang membuat orang sakit, sejauh mana mereka menyebar, dan seberapa baik perlindungan vaksin musim sebelumnya terhadap mereka.

Dua kali setahun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui mengkoordinasikan pertemuan para ahli yang menggunakan data itu untuk memutuskan vaksin influenza berikutnya.

Dalam kasus flu, vaksin dibuat dengan menumbuhkan strain virus yang dipilih dalam telur yang telah dibuahi, menonaktifkannya, dan kemudian mengemas protein dari empat jenis flu yang berbeda menjadi satu vaksin.

"Semua itu membutuhkan waktu lama dan banyak telur," kata Peter Openshaw, mantan presiden British Society for Immunology.

Teknologi mRNA permudah pembaruan vaksin

Teknologi yang lebih baru, seperti vaksin RNA dinilai dapat membuat vaksin baru lebih mudah dibuat, karena tidak melibatkan pengembangan virus apa pun. Sebaliknya, vaksin RNA mengandung sepotong kecil kode genetik yang memberi sel manusia instruksi untuk membuat protein lonjakan virus yang memicu respons imun.

"Anda bisa memasukkan koordinat genetik dan memprogram ulang sintesis untuk membuat untai baru RNA yang cocok dengan strain yang paling sering beredar. Dalam enam minggu 

Langkah Pemerintah Soal Nasib Vaksin Covid-19

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK