Sri Mulyani Sunat Insentif Nakes, Netizen Respons Negatif

CNN Indonesia | Kamis, 04/02/2021 09:08 WIB
Menurut analisa Drone Emprit, cuitan soal 'insentif nakes' meningkat usai pemotongan diputuskan yang isinya kebanyakan sentimen negatif. Ilustrasi tenaga kesehatan. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar media sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi, membongkar perbincangan netizen di media sosial selama periode 28 Januari - 3 Februari mengenai 'insentif nakes' yang dikatakan mengarah ke sentimen negatif.

Perbincangan dijelaskan dicari menggunakan keyword 'insentif' dan filter 'nakes', dan 'tenaga kesehatan'. Ismail menjelaskan volume perbincangan sekitar 5 ribu mention, terbagi dari 122 mention di media online dan 4.776 mention di media sosial.

"Sentimennya sangat negatif (81 persen) terhadap pemotongan insentif ini," tulis Ismail dalam cuitannya.


Dalam diagram dijelaskan 81 persen atau sekitar 4.000 mention adalah sentimen negatif, sedangkan komentar positif 12 persen, dan netral 7 persen.

Lebih rinci dijelaskan komentar sentimen negatif itu mencuat sejak 3 Februari, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 1 Februari memutuskan tetap memberikan insentif bagi tenaga kesehatan namun jumlahnya dikurangi.

Menurut Ismail kabar soal insentif nakes sudah menyebar sejak pekan lalu, saat isunya diangkat media. Namun respons publik pada periode itu belum tinggi.

Setelah Sri Mulyani membuat keputusan respons publik naik pesat dan sentimennya dikatakan sangat negatif.

"Tren negatif atas pengurangan insentif ini baru naik pada hari ini [3 Feb] setelah resmi diputuskan. Padahal rencana ini sudah mulai terdengar seminggu lalu," ujar Ismail.

Respons publik yang naik usai keputusan Sri Mulyani dijelaskan sebagian besar berasal dari kalangan nakes yang kemudian digaungkan pengikut masing-masing. Selain itu klaster respons juga mengerucut pada Lapor Covid yang membuat pos pengaduan hak nakes.

Dari hasil analisa emosi pengguna media sosial atas reaksi insentif nakes dijelaskan berupa emosi terkejut, sedih, marah dan takut.

"Tidak ada yang senang dengan pengurangan insentif ini. Yang paling dominan adalah terkejut, marah, takut, sedih, namun juga akhirnya nerimo. Terkejut karena kurang dihargai; marah karena korupsi marak dan yg garda depan disunat," tulis Ismail.

Kesimpulan lain dari analisa ini dikatakan nakes akan tetap bekerja profesional seperti saat sebelum insentif dipotong dan dampak hal ini cenderung mengarah ke penilaian terhadap pemerintah menangani pandemi.

(can/fea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK