ANALISIS

Menakar Indonesia di Tengah Perang Kecerdasan Buatan

CNN Indonesia | Senin, 15/03/2021 08:13 WIB
Ketika dunia tengah menggaungkan kecerdasan buatan, mampukah Indonesia bersaing? Ilustrasi kecerdasan buatan (Diolah dari Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kecerdasan buatan atau disebut Artificial Intellegence (AI) menjadi hal yang asing bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Pasalnya istilah itu terbilang jarang digaungkan di kegiatan sehari-hari.

Beberapa teknologi terbarukan seperti ponsel hingga teknologi kendaraan saat ini sudah dilibatkan dengan kecerdasan buata tersebut. Salah satunya pada ponsel yang saat ini banyak disematkan AI dalam kecanggihanya.

Presiden Joko Widodo mengatakan dalam Rapat Kerja Nasional Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indonesia berada di tengah perang kecerdasan buatan AI.


Pakar Informasi dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Budi Rahadjo mengatakan Indonesia mampu bersaing dalam perang AI, karena secara keilmuan Indonesia bisa mengejar ketertinggalan tersebut.

"Menurut saya kita ketinggalan secara implementasi, secara kelimuan mah tidak," ujarnya kepada CNNIndonesia.com (8/3) melalui sambungan telepon.

Hal ini menurut Budi menjadi salah satu penghalang dalam mengembangkan teknologi AI. Kata dia, di beberapa negara seperti di China dan Amerika Serikat selalu bersaing di bidang implementasi.

Dihubungi terpisah, pengamat Teknologi dan Informatika Universitas Indonesia Wisnu Jatmiko, yang juga sebagai peneliti AI, mengatakan Indonesia masih dapat berakselerasi dengan negara lain dalam pengembangan AI. Hanya saja patut difokuskan pada sektor yang diungguli. Di antaranya sektor pertanian dan perikanan.

Hal itu disebutnya merupakan segmen yang dinilai unggul dan dapat menjadi produk andalan di bidang AI.

"Kita bermain di segmen yang kita menang, salah satunya AI di bidang pertanian atau perikanan dan kelautan," ujar Wisnu.

Pada sektor perikanan dan kelautan, kata dia, pengembangan dapat dilakukan dengan cara memprediksi algoritma dari fase ternak ikan dan musim panen ikan. Para peneliti nantinya dapat mengolah data dari fase tersebut, dan dituangkan dalam bentuk kecerdasan buatan.

Dengan cara tersebut menurutnya Indonesia tidak perlu investasi besar-besaran, lantaran sudah ada ekosistem yang menurutnya mungkin sudah tersedia.

"Enggak perlu kita investasi besar-besaran. Ada ekosistem yang mungkin sudah disediakan, kan nantinya penangkapan udang bisa semua dengan AI," jelasnya.

Lebih lanjut Budi menjelaskan untuk menguasai dunia lewat AI ada beberapa langkah yang menurutnya harus ditempuh. Yaitu Indonesia harus memiliki sumber komputasi untuk mengolah data menjadi teknologi AI atau disebut Graphics Processing Units (GPU).

Ia berharap Indonesia memiliki komputasi tersebut yang dapat digunakan bersama.

"Seharusnya kita punya komputing resourcers yang dishare bersama. Indonesia ga punya makanya kita berharap BPPT punya," tandasnya.

Di samping itu menurut Wisnu, dengan digaungkanya flagship AI oleh BPPT sejak tahun lalu, ia berharap Indonesia bisa turut mengambil peran dalam khasanah kecerdasan buatan itu.

Wisnu berharap BPPT dapat menciptakan ekosistem yang menunjang pengembangan AI di dalam negeri. Ia mengaku setuju dengan lima bidang yang menjadi prioritas pengembangan oleh BPPT, yakni bidang kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan dan mobilitas/smart city.

Cara seperti menciptakan camp untuk menggodok talenta yang kompeten, kata dia, menjadi salah satu jalan untuk serius dalam mengembangkan AI.

Apa Itu AI dan Persaingan dengan Negara Lain

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK