Evolusi Otak Manusia Modern, Ahli Kaitkan Jawa Populasi Baru

CNN Indonesia | Sabtu, 17/04/2021 17:16 WIB
Tim peneliti berhasil mengungkapkan kapan dan di mana otak manusia modern berevolusi. Ilustrasi otak manusia modern. (Allan Ajifo/Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim peneliti internasional di Universitas Zurich dilaporkan berhasil mengungkapkan kapan dan di mana otak manusia modern berevolusi. Mereka menyimpulkan bahwa otak manusia modern berevolusi sekitar 1,7 juta tahun yang lalu di Afrika.

Tim peneliti mengatakan evolusi terjadi pada masa ketika Homoerectus muncul dan budaya perkakas batu di Afrika menjadi semakin kompleks.

Melansir Science Daily, populasi pertama dari genus Homo muncul di Afrika sekitar 2,5 juta tahun yang lalu. Mereka sudah berjalan tegak, tapi otaknya hanya setengah dari ukuran manusia saat ini.


Populasi Homo paling awal di Afrika itu memiliki otak primitif mirip kera, seperti nenek moyang mereka yang punah, australopithecus.

"Analisis kami menunjukkan bahwa struktur otak manusia modern muncul hanya 1,5 hingga 1,7 juta tahun yang lalu dalam populasi Homo Afrika," kata Christoph Zollikofer dari Departemen Antropologi Universitas Zurich.

Para peneliti menggunakan computed tomography untuk memeriksa tengkorak fosil Homo yang hidup di Afrika dan Asia sekitar 1 hingga 2 juta tahun lalu. Mereka kemudian membandingkan data fosil dengan data referensi dari kera besar dan manusia.

Terlepas dari ukurannya, otak manusia berbeda dengan otak kera besar, terutama dalam lokasi dan pengaturan wilayah otak individu.

"Ciri khas manusia terutama adalah daerah di lobus frontal yang bertanggung jawab untuk perencanaan dan pelaksanaan pola pemikiran dan tindakan yang kompleks, dan pada akhirnya juga untuk bahasa," kata penulis pertama Marcia Ponce de León.

Dia berkata area itu secara signifikan lebih besar di otak manusia, area otak yang berdekatan bergeser lebih jauh ke belakang.

Melansir Neuroscience, populasi Homo pertama di luar Afrika, di Dmanisi (sekarang disebut Georgia) memiliki otak yang sama primitifnya dengan kerabat Afrika mereka. Oleh karena itu, otak manusia purba tidak menjadi sangat besar atau sangat modern sampai sekitar 1,7 juta tahun yang lalu.

Namun, manusia purba ini cukup mampu membuat berbagai alat, beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru Eurasia, mengembangkan sumber makanan hewani, dan merawat anggota kelompok yang membutuhkan bantuan.

Selama kurun waktu tersebut, kebudayaan di Afrika menjadi semakin kompleks dan beragam, terbukti dengan ditemukannya berbagai jenis perkakas batu. Para peneliti berpikir bahwa evolusi biologis dan budaya mungkin saling bergantung.

"Kemungkinan bentuk bahasa manusia yang paling awal juga berkembang selama periode ini," kata León.

Bahkan, tim peneliti menyinggung fosil yang ditemukan di Jawa. Peneliti berkata fosil yang ditemukan di Jawa memberikan bukti bahwa populasi baru itu sangat sukses. Tak lama setelah kemunculan pertama mereka di Afrika, mereka diketahui telah menyebar ke Asia Tenggara.

Teori sebelumnya dinilai tidak banyak mendukung penelitian karena kurangnya data yang dapat diandalkan. Masalahnya, otak nenek moyang manusia saat ini tidak terawetkan sebagai fosil.

Struktur otak mereka hanya dapat disimpulkan dari jejak yang ditinggalkan oleh lipatan dan alur pada permukaan bagian dalam tengkorak fosil.

Karena jejaknya sangat bervariasi dari individu ke individu, para peneliti menilai tidak mungkin untuk secara jelas menentukan apakah fosil Homo tertentu memiliki otak yang lebih mirip kera atau lebih mirip manusia.

Namun, para peneliti sekarang dapat menutup celah ini untuk pertama kalinya dengan menggunakan analisis tomografi terkomputasi dari berbagai tengkorak fosil.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK