Studi: Vaksin AstraZeneca Terkait dengan Pembekuan Darah

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 17/04/2021 14:39 WIB
Para ahli menemukan vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca terkait dengan pembekuan darah yang banyak terjadi di Eropa. Para ahli menemukan vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca terkait dengan pembekuan darah yang banyak terjadi di Eropa.(Foto: REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ahli menemukan vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca terkait dengan pembekuan darah yang banyak terjadi di Eropa. Penelitian dari University College London Hospitals ini baru saja dipublikasikan di New England Journal of Medicine.

Hasil ini didapat setelah peneliti dari menganalisis 22 pasien yang mengalami pembekuan darah setelah menerima vaksin AstraZeneca. Gejala pembekuan darah ini umumnya didapat lima hari setelah menerima vaksin dosis pertama. Pasien mengalami gumpalan darah di otak, pembuluh vena dan juga arteri.

Peneliti mendapati respons antibodi pasien tidak seperti pada umumnya. Reaksi ini tampak seperti reaksi langka yang terjadi pada penggunaan obat pengencer darah heparin.


Menurut peneliti, berdasarkan teori yang ada, reaksi kekebalan menjadi dasar pembekuan darah tersebut. Peneliti menyebut reaksi sistem imun dengan trombosis sehingga menyebabkan pembekuan yang tidak terkontrol.

Namun, temuan ini belum dapat dijelaskan secara detail. Kasus ini juga terhitung jarang terjadi dalam populasi umum.

"Risiko trombositopenia (jumlah trombosit yang rendah) dan risiko tromboemboli vena (bekuan darah) setelah vaksinasi SARS-CoV-2 tampaknya tidak lebih tinggi daripada risiko latar belakang pada populasi umum, sebuah temuan yang konsisten dengan sifat langka dan sporadis dari sindrom ini," tulis peneliti, dikutip dari CNN.

Peneliti menjelaskan berdasarkan kasus yang ada, pasien mengalami pembekuan darah setelah menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca. Hingga saat ini belum diketahui kelompok orang yang berisiko tinggi mengalami gejala ini.

"Sebagian besar pasien yang termasuk dalam laporan ini adalah wanita yang berusia kurang dari 50 tahun, beberapa di antaranya menerima terapi penggantian estrogen atau kontrasepsi oral. Persentase yang sangat tinggi dari pasien mengalami trombosis di tempat yang tidak biasa," tulis peneliti.

Peneliti menyarankan setiap orang yang mengalami gejala pembekuan darah setelah menerima vaksin harus segera mendapatkan pengobatan yang tepat. Pasien harus diberi obat anti-pembekuan, selain heparin. Penambahan darah juga dapat membantu menggantikan trombosit yang habis.

Kondisi ini juga dikaitkan dengan vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson. CDC tengah menyelidiki kasus ini.

Saat ini, beberapa negara Eropa telah membatasi orang yang mendapatkan vaksin AstraZeneca. Belgia misalnya, membatasi penggunaannya hanya pada orang berusia di bawah 55 tahun. Sementara itu, beberapa negara lain telah menghentikan penggunaan vaksin ini.

(ptj)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK