Pembekuan Darah AstraZeneca dan J&J, Ahli Curiga Adenovirus

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 20:37 WIB
Ahli curiga vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson yang menggunakan Adenovirus menjadi penyebab pembekuan darah. Ilustrasi Vaksin AstraZeneca. (REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika vaksin Covid-19 diluncurkan ke publik, regulator di setiap negara harus mewaspadai terhadap reaksi dari vaksin usai penyuntikan. Walaupun uji klinis dinyatakan aman, ada beberapa efek samping yang menyebabkan peyumbatan atau pembekuan darah di otak.

Kewaspadaan meningkat ketika regulator Eropa mengumumkan bahwa adanya penggumpalan darah yang merupakan efek samping dari vaksin AstraZeneca.

Regulator vaksin Amerika Serikat merekomendasikan jeda dalam distribusi vaksin Johnson & Johnson (J&J) menyusul enam temuan kasus yang sama di antara penerima suntikan.


Platform pengembangan yang digunakan oleh kedua vaksin itu menggunakan Adenovirus, yang memasukkan gen virus corona yang sudah dilumpuhkan ke dalam tubuh menggunakan virus yang direkayasa secara genetik.

Dikutip BBC, Johnson & Johnson telah menghentikan distribusi vaksin jenis tersebut di Uni Eropa mulai minggu ini. Hal itu menanggapi kasus serupa usai dosis vaksin AstraZeneca dibatasi peredarannya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengusulkan untuk memberi jeda distribusi sementara untuk berhati-hati. Satu pasien meninggal karena mengalami komplikasi pembekuan darah, dan satu orang dalam kondisi kritis.

Tetapi para ilmuwan masih mencari tahu mengapa efek samping hanya menerpa orang tertentu dan kebanyakan merupakan wanita muda.

Beberapa ahli medis sekarang bertanya-tanya apakah teknologi itu dapat dikaitkan dengan pembekuan darah.

"Mengapa kami melihat beberapa kasus ini untuk J&J dan AstraZeneca? Kami tidak tahu. Mungkin, bagaimana vektor diperkenalkan, karena itulah perbedaan terbesar," ujar perawat rumah sakit di Universitas Maryland St. Joseph Medical Center, Vivek Cherian.

Hingga kini regulator belum menemukan masalah pembekuan darah, terjadi pada penyuntikan vaksin Pfizer dan Moderna yang menggunakan teknologi pengembangan mRNA.

Reaksi vaksin Adenovirus

Gumpalan darah yang dimaksud yakni central venous sinus thrombosis (CVST) yang terbentuk di otak, sehingga dapat menyebabkan sakit kepala atau stroke. Dalam setahun, rata-rata kondisi ini terjadi sekitar lima orang dari satu juta orang.

Pada awal April pejabat medis Eropa telah mengidentifikasi 34 juta orang, dan menemukan 169 kasus CVST usai menerima suntikan vaksin virus Corona dari AstraZeneca.

Namun itu hanya lima kasus per satu juta suntikan. Hal ini membuat para peneliti ragu, apakah gumpalan darah di otak disebabkan oleh vaksin Corona dari AstraZeneca.

Pembekuan Darah Vaksin Masih Butuh Penelitian

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK