Asteroid Perlu Dideteksi Posisinya Cegah Malapetaka Bumi

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 20:16 WIB
Benda-benda luar angkasa merupakan ancaman serius bagi penduduk Bumi. Karena itu perlu dideteksi keberadaannya. Ilustrasi asteroid membahayakan Bumi. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asteroid, cuaca antariksa, dan benda antariksa lain merupakan hal yang perlu dideteksi. Ketiganya merupakan ancaman serius bagi penduduk Bumi. Cuaca antariksa sendiri adalah lingkungan sekitar lapisan magnetosfer, ionosfer, dan termosfer planet Bumi.

Di Amerika Serikat, ketiga masalah itu ditangani lembaga yang berbeda. Misalnya, NASA dan Angkatan Luar Angkasa AS melacak puing-puing luar angkasa; National Oceanic and Atmospheric Administration memantau 'cuaca ruang angkasa'; dan NASA's Planetary Defense Coordination Office mencari asteroid yang berpotensi berbahaya dan lainnya di dekat-Bumi benda (NEO).

Sedangkan Badan Antariksa Eropa (ESA) diketahui telah menyatukan semua kegiatan itu di bawah payung program Space Situational Awareness. Didirikan pada tahun 2009, program itu dibagi menjadi tiga segmen yang meliputi puing-puing ruang angkasa, cuaca antariksa, dan NEO.


Melansir Live Science, Space Situational Awareness ESA menggunakan jaringan teleskop, radar, dan stasiun pengukur jarak untuk mendeteksi dan melacak objek luar angkasa. Kemudian, ESA memproses data yang dihasilkan di kontrol misi ESA di Darmstadt, Jerman. Kontrol misi kemudian akan mengeluarkan peringatan jika dianggap perlu.

ESA juga sedang mempertimbangkan metode untuk menghilangkan puing-puing ruang angkasa secara aktif. Misi ClearSpace-1 ESA, yang direncanakan diluncurkan tahun 2025, akan menjadi yang pertama di dunia yang menghilangkan sepotong puing ruang angkasa dari orbit. ClearSpace-1 akan menargetkan bagian tertentu dari sampah luar angkasa.

Puing luar angkasa yang menjadi perhatian karena dinilai memiliki kecenderungan untuk berkembang biak, yakni ketika meledak. Peristiwa itu menghasilkan ribuan fragmen yang lebih kecil, tapi memiliki risiko yang sama besarnya dengan objek aslinya.

Terkait cuaca ruang angkasa, ilmuwan ESA bekerja dengan cara yang menggabungkan data dari berbagai sumber, baik di darat maupun di luar angkasa dengan model komputer untuk mengetahui apa yang mungkin terjadi.

Namun, hasilnya tidak ditujukan untuk masyarakat umum, prakiraan cuaca antariksa ditujukan pada sektor bisnis yang paling mungkin terkena dampak. Misalnya, maskapai penerbangan dan sistem distribusi daya hingga operator pesawat ruang angkasa dan agen wisata aurora.

Beberapa cuaca luar angkasa yang mendapat perhatian adalah solar flare dan coronal mass ejections (CME). Bagi lingkungan ruang angkasa, efek merugikan dari cuaca antariksa adalah radiasinya yang tinggi dapat merusak panel surya satelit dan merusak sistem elektronik, terutama selama badai matahari yang parah.

Pada akhirnya itu akan berdampak pada TV satelit dan layanan broadband, serta untuk kapal dan pesawat yang mengandalkan satelit untuk navigasi.

Terkait dengan asteroid, ESA mengandalkan jaringan pengamat di seluruh Eropa, baik profesional maupun sukarelawan untuk menentukan posisi NEO saat ini.

Pengamatan itu kemudian dimasukkan ke dalam tim analisis pusat yang memprediksi orbit di masa depan, menilai risiko tabrakan, dan jika perlu mengeluarkan peringatan kepada otoritas sipil jika perkiraan titik dampak berada di dalam Eropa.

Pada satu sisi, ESA juga menyelidiki cara untuk membelokkan NEO yang masuk afmosfer sebelum menghantam Bumi.

Melansir Space, NEO diketahui tidak selalu berada di dekat Bumi, mungkin berada ratusan juta mil jauhnya di sisi lain matahari. Tapi mereka bergerak di sepanjang orbit yang melintasi orbit Bumi, atau mendekatinya. Hal itu meningkatkan risiko tabrakan di masa depan.

Dalam laman resmi, ESA menjelaskan NEO adalah asteroid atau komet dengan ukuran mulai dari meter hingga puluhan kilometer yang mengorbit Matahari dan yang orbitnya mendekati Bumi. Dari 600.000 asteroid yang diketahui di tata surya, lebih dari 20.000 adalah NEO.

Contoh NEO adalah 25143 Itokawa , sebuah objek berdiameter sekitar 300 m yang pernah dikunjungi oleh pesawat luar angkasa Jepang Hayabusa pada tahun 2005.

NEO berpotensi menghantam planet Bumi, terutama ketika ukurannya besar. Hantaman NEO bisa menghasilkan kerusakan yang cukup parah. Oleh karena itu, NEO membutuhkan upaya deteksi dan pelacakan aktif.

Saat ini, Segmen NEO ESA mengamati NEO, memprediksi orbitnya, menghasilkan peringatan dampak bila diperlukan, dan terlibat dalam tindakan mitigasi potensial. Sistem SSA-NEO didasarkan pada data observasi dan pelacakan sindikasi dan federasi yang disediakan oleh sejumlah besar sumber Eropa dan internasional.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK