Strategi NASA Hadapi Asteroid Fiktif yang Hantam Bumi Oktober

eks, CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 18:49 WIB
NASA dan para ahli berbagi strategi yang akan dilakukan untuk menghadapi tumbukan asteroid fiktif yang diskenariokan hantam Bumi pada Oktober. Ilustrasi. NASA dan para ahli berbagi strategi yang akan dilakukan untuk menghadapi tumbukan asteroid fiktif yang diskenariokan hantam Bumi Oktober. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

NASA dan sejumlah ilmuwan lain berbagi strategi untuk menghancurkan asteroid fiktif 2021 PDC yang diskenariokan akan menghantam Bumi pada Oktober 2021.

Strategi ini dibahas dalam acara Planetary Defence Conferece (PDC 2021) yang berlangsung akhir April lalu. Dalam konferensi dua tahunan ini, NASA memberikan simulasi jika ada asteroid yang akan menghantam Bumi.

Dalam skenario ini, asteroid itu diceritakan terdeteksi pada 19 April dengan kemungkinan 5 persen menabrak Bumi pada 20 Oktober. Sehingga, para ilmuwan dan pemerintah dunia hanya punya waktu 6 bulan untuk menyelamatkan warga mereka.


Berdasarkan hasil diskusi hari kedua PDC 2021, para ilmuwan memperkirakan asteroid ini akan menghantam Eropa atau Afrika Utara.

Para ahli mempertimbangkan berbagai misi yang bisa dilakukan untuk menghancurkan asteroid atau membelokkan benda angkasa itu dari jalurnya yang akan menghantam Bumi. Namun, mereka memperhitungkan misi ini tak akan berhasil menghalangi tabrakan tepat waktu.

"Jika membandingkan skenario hipotesis 2021PDC di kehidupan nyata, dengan kemampuan yang ada saat ini, kita tak bisa meluncurkan pesawat ruang angkasa dalam waktu singkat," ujar salah satu peserta seperti dikutip Science Alert

Mereka juga mencoba meledakkan asteroid itu menggunakan perangkat peledak nuklir.

"Menerapkan misi gangguan nuklir dapat secara signifikan mengurangi risiko kerusakan akibat benturan," demikian kesimpulan para ahli.

Namun, lantaran dalam simulasi itu 2021PDC bisa berukuran 34,75m hingga setengah mil, membuat keampuhan peledak nuklir untuk menghancurkan asteroid tak pasti.

Berdasarkan simulasi hari ke-3, disebutkan pada 30 Juni lintasan dampak 2021PDC mulai menunjukkan kepastian akan membentur Eropa timur. Pada Hari ke-4, disimulasikan jadi hari seminggu sebelum tumbukan asteroid. Simulasi itu menceritakan kemungkinan 99 persen asteroid akan menghantam dekat perbatasan antara Jerman, Republik Ceko, dan Austria.

"Skenario terburuk yang kami siapkan disini bukan tumbukan di kota besar di Bumi dengan populasi tinggi; sebaliknya tumbukan terjadi di antara kota-kota besar, sehingga tingkat kerusakan menjangkau beberapa wilayah sekaligus sehingga berdampak pada populasi yang lebih tinggi," kata Lorien Wheeler, seorang insinyur di Pusat Penelitian NASA di Ames, California yang berspesialisasi dalam teknik simulasi tingkat lanjut, seperti dikutip Space

Ledakan akibat tumbukan setara dengan energi ledakan bom nuklir besar. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah melakukan evakuasi wilayah yang terkena bencana, sebelum asteroid datang.

Demikian akhir cerita dari skenario tabrakan asteroid 2021PDC dalam konferensi itu.

Kita tentu saja berharap bisa menghindari kejutan tabrakan asteroid yang memusnahkan dinosaurus 65 juta tahun yang lalu. Saat itu, asteroid musnah ketika asteroid selebar 10 km menabrak bumi.

Namun, kemampuan pengamatan manusia di Bumi terhadap benda angkasa yang lewat masih lemah. Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan sering kelewatan mengamati banyak benda angkasa berukuran besar dan berbahaya yang mendekat.

Sebagai contoh, Komet Neowise yang lewat dekat Bumi pada jarak 64 juta mil pada Juli tahun lalu. Komet ini adalah bongkahan es antariksa selebar 5 km. Tidak ada yang menyadari komet ini sedang mendekat, sampai akhirnya terdeteksi oleh teleskop luar angkasa NASA empat bulan jelang mendekat ke Bumi.

(eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK