Pemakaman Ekologis Astronaut: Dibekukan Sampai Jadi Debu

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 07:16 WIB
Teknik pemakaman jenazah astronaut di luar angkasa dengan cara Body Back. Jasad dibekukan kemudian digetarkan hingga menjadi debu Ilustrasi pemakaman astronaut dalam pesawat saat menjalani misi luar angkasa. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Astronaut yang melakukan perjalanan ke luar angkasa menjadi misi yang dianggap mematikan. Sebab ada banyak tragedi yang berpotensi jadi mimpi buruk bagi para astronaut, yakni kematian.

Untuk menyikapi hal itu, Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun membuat inovasi cara mengatasi jenazah di luar angkasa.

Studi tersebut dilakukan mulai 2005. Para ahli menyodorkan teknik dijuluki promesi yang pada dasarnya untuk mengeringkan tubuh. Teknik tersebut berbeda dengan kremasi yang menghasilkan debu. Metode promesi dikenal dengan membekukan jenazah hingga menjadi jutaan potongan kecil daging es.


Namun belakangan NASA menciptakan ide pemakaman di luar angkasa yang lebih ekologis. Ahli menunjuk perusahaan pemakaman ekologi Promessa, yang memiliki ide bernama Body Back.

Dikutip IFL Science, ide pemakaman di luar angkasa untuk astronaut yang gugur di sana terinspirasi dari perjalanan yang akan dilakukan manusia ke Mars. Ide Body Back dikembangkan dalam 20 tahun terakhir, namun baru dimatangkan pada tahun 2013.

Prosesnya yakni tubuh pertama-tama harus disimpan agar tidak mencemari udara di dalam pesawat ruang angkasa saat membusuk. Jenazah dimasukkan ke dalam kantong bernama Gore-Tex dan disegel.

Setelah jasad dibekukan, kemudian digetarkan dengan menggunakan lengan robot hingga menjadi debu. Bubuk jenazah itu kemudian bisa disimpan dan dikembalikan kepada keluarga begitu rombongan tiba di Bumi.

Perusahaan Promessa kemudian mengumumkan bahwa NASA beserta pihak swasta yang tak disebutkan, siap menggunakan rencana penguburan ekologis itu.

Tubuh jenazah tak akan dikirim kembali ke Bumi karena dianggap tidak memungkinkan. Jenazah juga tak dapat dikremasi karena berpotensi menimbulkan bahaya. Sehingga tim dari NASA mempertimbangkan jika jenazah akan mendapatkan penguburan ekologis.

Dalam keadaan darurat selama perjalanan ke Mars, astronaut yang meninggal di luar angkasa, akan dimakamkan dengan cara pemakaman ekologis seperti yang disebutkan.

Astronaut berpotensi gugur di luar angkasa

Lebih dari setengah abad terakhir sebanyak 30 astronaut dan kosmonaut dilaporkan tewas saat berlatih atau tengah melakukan misi luar angkasa yang dianggap berbahaya itu.

Sebab sebagian besar kematian ini terjadi baik di permukaan Bumu atau di atmosfer Bumi, di bawah batas ruang yang disebut garis Kármán, atau dimulai pada ketinggian sekitar 62 mil (100 kilometer).

Sebanyak kurang lebih total 550 orang yang melancong ke luar angkasa, hanya terdapat tiga yang benar-benar meninggal di sana dilansir astronomy.

Lembaga antariksa Amerika Serikat dan Uni Soviet dilaporkan mengalami lonjakan kecelakaan jet mematikan yang menewaskan sejumlah pilot yang menguji pesawat berpeluncur roket canggih.

Sebagai contoh ada insiden kebakaran Apollo 1 pada Januari 1967, yang menewaskan astronaut Gus Grissom, Ed White, dan Roger Chaffee secara mengerikan. Pada saat simulasi peluncuran, terdapat percikan api yang terlihat di kabin pesawat ruang angksa yang di-ground-kan, yang diisi dengan oksigen murni, menyala.

Hal itu menyebabkan kebakaran tak terkendali yang dengan cepat melalap kru, menyebabkan kematian tragis saat mereka berjuang untuk membuka pintu palka bertekanan.

(can/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK