Proses Pemakaman Astronaut yang Wafat di Luar Angkasa
CNN Indonesia
Sabtu, 08 Mei 2021 07:52 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi pemakaman astronaut di luar angkasa. (Foto: Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Misi perjalanan ke luar angkasa adalah misi yang mematikan. Ada banyak tragedi terkait penerbangan luar angkasa yang menjadi mimpi buruk bagi astronaut.
Dalam setengah abad terakhir, sekitar 30 astronaut dan kosmonaut tewas saat berlatih atau mencoba misi luar angkasa yang berbahaya. Tetapi sebagian besar kematian ini terjadi baik di tanah atau di atmosfer Bumi, di bawah batas ruang yang disebut garis Kármán, yang dimulai pada ketinggian sekitar 62 mil (100 kilometer).
Melansir Astronomy, dari 550 orang yang berkelana ke luar angkasa, hanya tiga yang benar-benar meninggal di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di awal perlombaan luar angkasa, NASA dan Uni Soviet mengalami lonjakan dalam kecelakaan jet mematikan yang menewaskan sejumlah pilot yang menguji pesawat berpeluncur roket canggih.
Misalnya, ada kebakaran Apollo 1 pada Januari 1967, yang menewaskan astronot Gus Grissom, Ed White, dan Roger Chaffee secara mengerikan. Selama simulasi peluncuran, percikan api di dalam kabin pesawat ruang angkasa yang di-ground-kan, yang diisi dengan oksigen murni, menyala.
Hal itu menyebabkan kebakaran tak terkendali yang dengan cepat melalap kru, menyebabkan kematian tragis saat mereka berjuang untuk membuka pintu palka bertekanan.
Pada 30 Juni 1971, tiga astronaut Soyuz 11 tewas ketika kembali ke Bumi. Ketiga astronaut itu adalah Kolonel Dobrovolsky, Vladimir N. Vol kov, dan Viktor I. Patsayev. Mereka adalah astronot Soviet kedua, ketiga, dan keempat yang tewas dalam misi luar angkasa.
Otoritas Uni Soviet menyatakan para kru meninggal akibat dekompresi. Pada ketinggian 104 mil (168 km), kombinasi mematikan dari katup bocor dan ruang hampa udara dengan cepat menyedot semua udara keluar dari kabin awak, menurunkan tekanannya.
Pada 23 April 1967, Vladimir M. Komarov meninggal ketika pesawat Soyuz 1 jatuh setelah sistem parasutnya terjerat.
Melansir Popsci, NASA kehilangan 18 orang dalam misi luar angkasa sejak sukses melaksanakan misi di Bulan. Namun, ada kemungkinan lebih tinggi bahwa astronaut akan mati saat misi manusia ke Mars, entah itu dalam perjalanan, saat tinggal di lingkungan yang keras, atau alasan lain.
Masalah apa pun yang muncul di Mars, misalnya masalah teknis atau kekurangan makanan dapat membuat seluruh kru atau koloni terdampar dan berjuang sendiri.
Ketika ada korban jiwa, seluruh kru telah meninggal, tidak ada yang tersisa untuk diselamatkan. Ahli bioetika Universitas Emory, Paul Wolpe membeberkan apa yang terjadi dalam misi ke Mars atau di stasiun luar angkasa bulan jika ada kematian.
"Mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelum tubuh dapat kembali ke Bumi," ujarnya.
Astronaut tidak pernah dilatih untuk menangani mayat di luar angkasa. "Dalam 16 tahun saya sebagai astronot, saya tidak ingat pernah berbicara dengan astronot lain tentang kemungkinan meninggal," ujar astronot pesawat ulang-alik Terry Virts.
Astronot Kanada dan mantan komandan ISS Chris Hadfield mengatakan astronot berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna pada saat peluncuran. Kematian awak kemungkinan besar diakibatkan oleh kecelakaan saat berjalan di luar angkasa.
"Anda bisa tiba-tiba disambar mikro-meteorit, dan tidak ada yang bisa Anda lakukan. Ini bisa membuat lubang di setelan Anda, dan dalam beberapa detik Anda tidak berdaya," ujar Hadfield.
Astronaut hanya memiliki waktu sekitar 15 detik sebelum mereka kehilangan kesadaran. Sebelum membeku, kemungkinan besar mereka akan mati karena sesak napas atau dekompresi.
10 detik terpapar ke ruang hampa udara akan memaksa air di kulit dan darah mereka menguap, sementara tubuh mereka mengembang ke luar seperti balon yang diisi udara. Paru-paru mereka akan runtuh, dan setelah 30 detik mereka akan lumpuh, jika mereka belum mati pada saat ini.
Hadfield menuturkan mayat di luar angkasa merupakan masalah yang serius. Fakta bahwa mayat adalah biohazard jelas merupakan perhatian terbesar dan menemukan ruang untuk menyimpannya sangat penting.
Karena NASA tidak memiliki protokol untuk kematian mendadak di ISS, komandan stasiun mungkin akan memutuskan bagaimana menangani jenazah tersebut.
"Jika seseorang meninggal saat menggunakan EVA, saya akan membawa mereka ke dalam airlock terlebih dahulu," kata Hadfield.
"Saya mungkin akan menahan mereka di dalam pakaian bertekanan mereka; tubuh benar-benar membusuk lebih cepat dengan pakaian antariksa dan kami tidak ingin bau daging busuk atau gas, ini bukan sanitasi. Jadi kami akan menyimpannya dalam setelan mereka dan menyimpannya di tempat yang dingin di stasiun," ujar Hadfield.
Seperti di kapal selam, jika kehilangan anggota awaknya dan tidak dapat segera mendarat, mereka menyimpan mayat di dekat torpedo, di tempat yang dingin dan terpisah dari tempat tinggal kru.
Pada 2005 NASA sebenarnya telah membuat riset soal mengatasi jenazah di luar angkasa. Mereka menggunakan teknik yang disebut promesi, yang pada dasarnya mengeringkan tubuh. Alih-alih menghasilkan abu kremasi, metode itu akan mengubah mayat beku menjadi jutaan potongan kecil daging es.
Mengutip IFL Science, belakangan NASA menciptakan ide pemakaman di luar angkasa yang sesuai etika. Bekerja sama dengan perusahaan pemakaman ekologi Promessa, salah satu kelompok mengusulkan gagasan bernama Body Back.
Ide pemakaman di luar angkasa, untuk astronaut yang meninggal dunia di sana, terinspirasi dari perjalanan yang akan dilakukan manusia ke Mars.
Adapun prosedurnya, tubuh pertama-tama harus disingkirkan dari pandangan dan dicegah mencemari udara di dalam pesawat ruang angkasa saat membusuk. Jenazah akan dimasukkan ke dalam kantong Gore-Tex dan disegel.
Tubuh tak akan dikirim kembali ke Bumi karena tak mungkin. Jenazah juga tak dapat dikremasi karena berpotensi menimbulkan bahaya. Sehingga tim dari NASA mempertimbangkan jika jenazah akan mendapatkan penguburan ekologis.
Caranya, tubuh akan dibekukan dan kemudian digetarkan dengan menggunakan lengan robot hingga berbentuk seperti debu. Bubuk jenazah kemudian bisa disimpan dan dapat dikembalikan kepada keluarga.
Ide tersebut sebenarnya sudah dikembangkan pada 2005 namun baru dimatangkan tahun 2013. Pendiri Promessa kemudian mengumumkan bahwa NASA beserta pihak swasta yang tak disebutkan, siap menggunakan rencana penguburan ekologis.
Dalam keadaan darurat selama perjalanan ke Mars, astronaut yang meninggal di luar angkasa, akan dimakamkan dengan cara pemakaman ekologis.
Misi perjalanan ke luar angkasa adalah misi yang mematikan. Ada banyak tragedi terkait penerbangan luar angkasa yang menjadi mimpi buruk bagi astronaut.
Dalam setengah abad terakhir, sekitar 30 astronaut dan kosmonaut tewas saat berlatih atau mencoba misi luar angkasa yang berbahaya. Tetapi sebagian besar kematian ini terjadi baik di tanah atau di atmosfer Bumi, di bawah batas ruang yang disebut garis Kármán, yang dimulai pada ketinggian sekitar 62 mil (100 kilometer).
Melansir Astronomy, dari 550 orang yang berkelana ke luar angkasa, hanya tiga yang benar-benar meninggal di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di awal perlombaan luar angkasa, NASA dan Uni Soviet mengalami lonjakan dalam kecelakaan jet mematikan yang menewaskan sejumlah pilot yang menguji pesawat berpeluncur roket canggih.
Misalnya, ada kebakaran Apollo 1 pada Januari 1967, yang menewaskan astronot Gus Grissom, Ed White, dan Roger Chaffee secara mengerikan. Selama simulasi peluncuran, percikan api di dalam kabin pesawat ruang angkasa yang di-ground-kan, yang diisi dengan oksigen murni, menyala.
Hal itu menyebabkan kebakaran tak terkendali yang dengan cepat melalap kru, menyebabkan kematian tragis saat mereka berjuang untuk membuka pintu palka bertekanan.
Pada 30 Juni 1971, tiga astronaut Soyuz 11 tewas ketika kembali ke Bumi. Ketiga astronaut itu adalah Kolonel Dobrovolsky, Vladimir N. Vol kov, dan Viktor I. Patsayev. Mereka adalah astronot Soviet kedua, ketiga, dan keempat yang tewas dalam misi luar angkasa.
Otoritas Uni Soviet menyatakan para kru meninggal akibat dekompresi. Pada ketinggian 104 mil (168 km), kombinasi mematikan dari katup bocor dan ruang hampa udara dengan cepat menyedot semua udara keluar dari kabin awak, menurunkan tekanannya.
Pada 23 April 1967, Vladimir M. Komarov meninggal ketika pesawat Soyuz 1 jatuh setelah sistem parasutnya terjerat.
Melansir Popsci, NASA kehilangan 18 orang dalam misi luar angkasa sejak sukses melaksanakan misi di Bulan. Namun, ada kemungkinan lebih tinggi bahwa astronaut akan mati saat misi manusia ke Mars, entah itu dalam perjalanan, saat tinggal di lingkungan yang keras, atau alasan lain.
Masalah apa pun yang muncul di Mars, misalnya masalah teknis atau kekurangan makanan dapat membuat seluruh kru atau koloni terdampar dan berjuang sendiri.
Ketika ada korban jiwa, seluruh kru telah meninggal, tidak ada yang tersisa untuk diselamatkan. Ahli bioetika Universitas Emory, Paul Wolpe membeberkan apa yang terjadi dalam misi ke Mars atau di stasiun luar angkasa bulan jika ada kematian.
"Mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelum tubuh dapat kembali ke Bumi," ujarnya.
Astronaut tidak pernah dilatih untuk menangani mayat di luar angkasa. "Dalam 16 tahun saya sebagai astronot, saya tidak ingat pernah berbicara dengan astronot lain tentang kemungkinan meninggal," ujar astronot pesawat ulang-alik Terry Virts.
Astronot Kanada dan mantan komandan ISS Chris Hadfield mengatakan astronot berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna pada saat peluncuran. Kematian awak kemungkinan besar diakibatkan oleh kecelakaan saat berjalan di luar angkasa.
"Anda bisa tiba-tiba disambar mikro-meteorit, dan tidak ada yang bisa Anda lakukan. Ini bisa membuat lubang di setelan Anda, dan dalam beberapa detik Anda tidak berdaya," ujar Hadfield.
Astronaut hanya memiliki waktu sekitar 15 detik sebelum mereka kehilangan kesadaran. Sebelum membeku, kemungkinan besar mereka akan mati karena sesak napas atau dekompresi.
10 detik terpapar ke ruang hampa udara akan memaksa air di kulit dan darah mereka menguap, sementara tubuh mereka mengembang ke luar seperti balon yang diisi udara. Paru-paru mereka akan runtuh, dan setelah 30 detik mereka akan lumpuh, jika mereka belum mati pada saat ini.
Hadfield menuturkan mayat di luar angkasa merupakan masalah yang serius. Fakta bahwa mayat adalah biohazard jelas merupakan perhatian terbesar dan menemukan ruang untuk menyimpannya sangat penting.
Karena NASA tidak memiliki protokol untuk kematian mendadak di ISS, komandan stasiun mungkin akan memutuskan bagaimana menangani jenazah tersebut.
"Jika seseorang meninggal saat menggunakan EVA, saya akan membawa mereka ke dalam airlock terlebih dahulu," kata Hadfield.
"Saya mungkin akan menahan mereka di dalam pakaian bertekanan mereka; tubuh benar-benar membusuk lebih cepat dengan pakaian antariksa dan kami tidak ingin bau daging busuk atau gas, ini bukan sanitasi. Jadi kami akan menyimpannya dalam setelan mereka dan menyimpannya di tempat yang dingin di stasiun," ujar Hadfield.
Seperti di kapal selam, jika kehilangan anggota awaknya dan tidak dapat segera mendarat, mereka menyimpan mayat di dekat torpedo, di tempat yang dingin dan terpisah dari tempat tinggal kru.
Pada 2005 NASA sebenarnya telah membuat riset soal mengatasi jenazah di luar angkasa. Mereka menggunakan teknik yang disebut promesi, yang pada dasarnya mengeringkan tubuh. Alih-alih menghasilkan abu kremasi, metode itu akan mengubah mayat beku menjadi jutaan potongan kecil daging es.
Mengutip IFL Science, belakangan NASA menciptakan ide pemakaman di luar angkasa yang sesuai etika. Bekerja sama dengan perusahaan pemakaman ekologi Promessa, salah satu kelompok mengusulkan gagasan bernama Body Back.
Ide pemakaman di luar angkasa, untuk astronaut yang meninggal dunia di sana, terinspirasi dari perjalanan yang akan dilakukan manusia ke Mars.
Adapun prosedurnya, tubuh pertama-tama harus disingkirkan dari pandangan dan dicegah mencemari udara di dalam pesawat ruang angkasa saat membusuk. Jenazah akan dimasukkan ke dalam kantong Gore-Tex dan disegel.
Tubuh tak akan dikirim kembali ke Bumi karena tak mungkin. Jenazah juga tak dapat dikremasi karena berpotensi menimbulkan bahaya. Sehingga tim dari NASA mempertimbangkan jika jenazah akan mendapatkan penguburan ekologis.
Caranya, tubuh akan dibekukan dan kemudian digetarkan dengan menggunakan lengan robot hingga berbentuk seperti debu. Bubuk jenazah kemudian bisa disimpan dan dapat dikembalikan kepada keluarga.
Ide tersebut sebenarnya sudah dikembangkan pada 2005 namun baru dimatangkan tahun 2013. Pendiri Promessa kemudian mengumumkan bahwa NASA beserta pihak swasta yang tak disebutkan, siap menggunakan rencana penguburan ekologis.
Dalam keadaan darurat selama perjalanan ke Mars, astronaut yang meninggal di luar angkasa, akan dimakamkan dengan cara pemakaman ekologis.