Alasan Perubahan Nama Virus Corona jadi Delta, Alpha

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 18/06/2021 18:30 WIB
WHO mengubah nama virus corona di dunia menjadi Delta, Alpha, Beta, dan Gamma. Ilustrasi virus corona. (Foto: iStockphoto/BlackJack3D)
Jakarta, CNN Indonesia --

Varian virus corona yang bermutasi di berbagai negara diberi nama berdasarkan huruf alfabet Yunani. Hal itu didasari untuk menghindari stigma wilayah saat ditemukannya mutasi Sars-CoV-2.

Sebelumnya Badan Kesehatan Dunia WHO telah menyebutkan empat varian yang menjadi perhatian publik. Mutasi itu dikenal sebagai varian Inggris (B.1.1.7), Afrika Selatan (B.1.351), Brasil (P.1) dan India (B.1.617.2).

Mutasi virus corona kini diberi huruf Alpha, Beta, Gamma, dan Delta untuk mencerminkan urutan deteksi virus dengan varian baru. Penamaan itu mengikuti pola alfabet Yunani. Keputusan penamaan varian virus ini dilakukan usai pertimbangan berbulan-bulan oleh para ilmuwan dunia.


Organisasi tersebut mengatakan alfabet Yunani digunakan untuk menggantikan nama ilmiah yang melibatkan kombinasi angka, simbol baca dan huruf. Hal ini dianggap untuk memudahkan laporan kepada publik.

Namun saat menyampaikan informasi ilmiah yang dianggap penting, penyebutan varian virus yang orisinal masih akan digunakan.

"Meskipun mereka memiliki kelebihan, nama-nama ilmiah ini bisa sulit untuk diucapkan dan diingat. Tetapi rentan terhadap kesalahan pelaporan," ujar WHO seperti dikutip The Guardian.

Sebagian orang kerap menggunakan nama varian berdasarkan tempat di mana mutasi terdeteksi. Hal itu dinilai akan menstigmatisasi dan diskriminatif pada masyarakat.

"Untuk menghindari hal ini dan untuk menyederhanakan komunikasi publik, WHO mendorong otoritas nasional, media, dan lainnya untuk mengadopsi label baru ini," ujarnya.

Secara historis penyakit sering dinamai berdasarkan lokasi yang dianggap titik mula asal penyebaran, seperti salah satunya virus Ebola, yang namanya diambil dari sungai Kongo.

Namun, penamaan semacam itu dianggap dapat mencoreng sejumlah wilayah dan seringkali tidak akurat, seperti halnya dengan 'flu Spanyol' pada 1918. Hingga kini, asal-usulnya tidak diketahui.

Dikutip USA Today, menyebut 'varian Afrika Selatan' dianggap bisa membuat siapapun takut untuk berkunjung ke Afrika Selatan, hingga kepada orang yang datang dari wilayah itu.

Beberapa waktu lalu pemerintah India memerintahkan platform media sosial untuk menghapus berita yang merujuk pada "varian India".

Perintah dari otoritas India itu dianggap sebagai contoh kepekaannya terhadap tuduhan bahwa mereka telah salah menangani pandemi Covid-19.

Kebencian dan aksi intimidasi kepada etnia Asia telah meningkat akibat menyebarnya virus Sars-CoV-2. Hal itu lantaran penyebaran virus pertama dideteksi di Wuhan, China.

Kelompok anti-ekstremis Amerika Serikat mengatakan peningkatan serangan terhadap orang Asia-Amerika sebagian disebabkan oleh Donald Trump, yang menyebut Covid-19 sebagai "virus China".

Pengganti Trump, Joe Biden dilaporkan telah menandatangani undang-undang untuk melindungi korban intimidasi yang mengalami serangan selama pandemi.

Nama-nama baru varian virus corona:

1. Varian Inggris B.1.1.7 disebut Alpha
2. Varian Afrika Selatan B.1.351 disebut Beta
3. Varian Brasil P.1 disebut Gamma
4. Varian India B.1.617.2 disebut Delta
5. Varian India B.1.617.1 disebut Kappa
6. Varian Amerika Serikat B.1.427/B.1.429 disebut Epsilon
7. Varian Brasil P.2 disebut Zeta
8. Varian B.1.525 disebut Eta
9. Varian Filipina P.3 disebut Theta
10. Varian Amerika Serikat B.1.526 disebut Iota

(can/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK