ANALISIS

Pro-Kontra Booster Sinovac dan Ancaman Infeksi Pasca-Vaksin

Dewi Safitri, CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 09:39 WIB
Kemunculan varian baru dan ancaman pandemi berkepanjangan membuat sejumlah negara mempertimbangkan booster atau dosis ketiga vaksin. Sejumlah negara tengah meneliti apakah dibutuhkan booster vaksin Covid-19. (AP/Lewis Joly)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam satu bulan terakhir, sedikitnya ratusan kasus infeksi Covid-19 dilaporkan terjadi pada tenaga kesehatan (nakes) dan warga yang sudah mendapatkan suntikan vaksin Sinovac dengan dosis lengkap.

Jumlah kasus di seluruh Indonesia belum pernah dirilis secara resmi oleh pemerintah, tetapi dapat mencapai ribuan setelah dilaporkan terjadi setidaknya di Kudus, Semarang, Jepara, Tulungagung, Ponorogo, Jakarta, Tangsel, Bogor, Bandung dan Palembang.

Sebagian kasus dilaporkan merupakan infeksi ringan hingga sedang tanpa gejala parah yang memerlukan perawatan intensif atau alat bantu pernafasan.


Menurut Mikrobiolog Ines Atmosukarto, situasi ini bukan menunjukkan vaksin Sinovac tidak berfungsi. Apalagi, sejak awal uji klinis Sinovac memang menunjukkan efikasi yang lebih rendah dari beberapa vaksin lain yang kini umum dipakai.

"Tetap saja, vaksin meski lebih rendah efikasinya, masih jauh lebih bagus dari pada tidak vaksin dan akibatnya (kalau terinfeksi) mereka semua bergejala parah. Yang perlu diingat saya baca di RSHS Bandung, ada 212 orang terinfeksi setelah vaksinasi tetapi hanya 12 yang perlu perawatan rumah sakit. Ini tanda vaksin Sinovac is working," tegas Ines.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 PB IDI Prof Zubairi Djoerban memberi penegasan serupa. Mengutip data vaksinasi di AS yang hingga April lalu telah mencakup 101 juta penerima, Zubairi mengatakan bahkan vaksin yang dianggap sangat efektif seperti Pfizer, Moderna dan Johnson and Johnson sekalipun, tak menjamin kekebalan sempurna.

"Ada lebih dari 10ribu kasus infeksi Covid di AS padahal mereka sudah divaksinasi. Ya tentu di tengah situasi gelombang pandemi di Indonesia sekarang ini, infeksi pada nakes ini mengkhawatirkan sekali. Tetapi di Amerika, Italia, Spanyol, di mana-mana lah, memang risiko penularan lebih tinggi pada nakes daripada warga umumnya."

Belum Ada Bukti Booster Dibutuhkan

Dalam wawancara dengan Bloomberg (20/6), ahli Kesehatan WHO Soumya Swaminathan mengatakan hingga kini belum ada bukti yang bisa dipakai sebagai pembenaran dibutuhkan vaksinasi tambahan (booster) bagi orang yang sudah divaksinasi.

Booster sendiri dapat berbentuk suntikan kedua dengan jenis vaksin berbeda, suntikan vaksin ketiga setelah dosis lengkap, atau vaksin reguler tiap tahun untuk memperkuat kekebalan seperti vaksin flu.

Narasi Booster yang Bisa Didorong Strategi Pemasaran

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK