Bos Telegram dan Whatsapp Singgung Apple-Google soal Pegasus

eks, CNN Indonesia | Kamis, 29/07/2021 01:00 WIB
Bos Whatsapp dan Telegram menyinggung peran Apple dan Google yang memegang duopoli sistem operasi smartphone dunia soal penyebaran spyware Pegasus. Ilustrasi. Bos Whatsapp dan Telegram menyinggung peran Apple dan Google yang memegang duopoli sistem operasi smartphone dunia soal penyebaran spyware Pegasus.(iStockphoto/stockcam)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bos dari dua aplikasi pesan instan terpopuler WhatsApp dan Telegram mempertanyakan peran aktif Apple dan Google menghalau spyware semacam Pegasus dalam sistem operasi mereka.

Bos WhatsApp Will Cathcart sangat vokal berbicara soal software pengintai semacam Pegasus. Hubungan antara WhatsApp dengan NSO, perusahaan pembuat Pegasus memang tidak harmonis. Pada Oktober 2020, WhatsApp mengajukan tuntutan kepada Grup NSO, perusahaan spyware asal Israel yang membuat Pegasus.

Tuntutan ini dilayangkan lantaran spyware itu setidaknya telah digunakan untuk memata-matai 1.400 pengguna WhatsApp di 2019.


Cathcart juga menyinggung Apple, menurutnya sistem operasi iOS di iPhone juga rentan peretasan Pegasus.

"Saya berharap Apple mulai membuat langkah...(Spyware) ini berpengaruh para jurnalis di seluruh dunia dan pembela hak asasi...jika satu ponsel tidak aman, berarti ponsel siapapun tidak aman," serunya.

Di sisi lain, bos Telegram menuduh Apple dan Google sengaja tak menghiraukan isu eksploitasi spyware ini.

"Alat ini bisa meretas ponsel iOS dan Android dan tidak ada cara untuk melindungi perangkat Anda dari (serangan ini). Tidak peduli aplikasi apa yang Anda gunakan, peretasan dilakukan pada sistem yang lebih dalam."

Menurut Snowden, sejak 2013 Apple dan Google sudah menjadi bagian dari program pengawasan global. Sebab, perusahaan-perusahaan ini harus memberikan akses backdoor (pintu belakang) ke dalam sistem operasi mereka. Lewat backdoor ini, agen AS disebut bisa mengakses informasi di ponsel cerdas mana pun di seluruh dunia. Backdoor ini biasanya disamarkan sebagai celah keamanan.

Durov juga menganggap pembelaan NSO Group terlalu lemah. NSO menyebut kalau mereka hanya menjual perangkat lunak seperti Pegasus kepada pemerintah dan badan keamanan resmi. Namun, menurut Durov hal ini tak menutup kemungkinan bahwa "siapa pun dapat mengeksploitasi (menggunakan Pegasus)."

Hal inilah yang terjadi dengan Pegasus. Sebab, spyware itu telah menyusup tidak hanya ke telepon para penjahat dan teroris, tetapi juga para pemimpin oposisi, jurnalis investigasi, pembela hak asasi manusia, dan bahkan kepala negara seperti perdana menteri, presiden, dan raja, seperti dikutip Phone Arena

Ketika Cathcart ditanyakan soal data 50 ribu nomor telepon yang diduga jadi sasaran klien NSO, Cathcart menyatakan kemungkinan data itu benar. Sebab, hal ini sejalan dengan penyelidikan WhatsApp sendiri pada 2019.

"Laporan itu sesuai dengan apa yang kami lihat atas penyerangan yang kami kalahkan dua tahun lalu, ini sangat konsisten dengan apa yang kami suarakan saat itu," jelasnya.

Pada 2019, WhatsApp melakukan penyelidikan terhadap peretasan Pegasus di aplikasinya setelah layanan pesan instan itu disebut menjadi pintu masuk Pegasus ke ponsel jurnalis surat kabar The Washington Post asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi, dan Jeff Bezos.

WhatsApp lantas menyebut telah menambal celah keamanan yang jadi jalan masuk Pegasus. Lantas, dari hasil penyelidikan ditemukan bahwa spyware itu menargetkan "pejabat senior pemerintah," jurnalis, hingga juru kampanye hak asasi manusia.

Namun, tuntutan WhatsApp mental di persidangan. Sebab, NSO berdalih mereka harus mendapat kekebalan hukum karena mereka tak memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana pembeli spyware itu akan menggunakan perangkat lunak yang mereka beli, seperti dilaporkan Apple Insider

(eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK