Panpel Olimpiade Tokyo Cegah Ancaman Gelombang Panas Pakai AI

CNN Indonesia | Minggu, 01/08/2021 04:43 WIB
Bukan hanya risiko pandemi Covid-19, gelaran Olimpiade Tokyo pun diwarnai ancaman gelombang suhu panas. Bukan hanya risiko pandemi Covid-19, gelaran Olimpiade Tokyo pun diwarnai ancaman gelombang suhu panas.. (REUTERS/PHIL NOBLE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelaran Olimpiade Tokyo yang tengah berlangsung saat ini bukan hanya terancam kondisi pandemi global Covid-19, termasuk pula gelombang panas yang bisa mengganggu kesehatan bahkan berujung kematian.

Risiko gelombang panas itu bukan hanya bisa mengancam para atlet, melainkan juga ratusan staf, terutama di arena pertandingan yang terbuka.

Salah satunya yang dialami pemanah asal Rusia yang tiba-tiba pingsan, dan para pemain skate yang mengeluhkan kondisi cuaca yang sudah begitu menyengat meski baru pukul 09.00.


Untuk meminimalisasi risiko gelombang panas itu, selain memperbanyak kipas dan mesin pencurah air, panpel Olimpiade Jepang pun menggunakan sistem kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI). Mesin pintar produksi Alibaba Group itu akan mengabarkan para pekerja di lapangan mengenai kondisi suhu sekitar.

Untuk mencegah sengatan panas, staf di arena yang menggunakan alat kecil yang mengirimkan pengukuran detak jantung dan suhu tubuh ke cloud, di mana risiko sengatan panas dievaluasi algoritma yang menggabungkan data individu dan faktor lingkungan.

Sistem mengirimkan peringatan kepada mereka yang berisiko tinggi terkena sengatan panas melalui aplikasi, dengan tindakan pencegahan yang disarankan seperti beristirahat dan minum lebih banyak air.

"Saya pikir ini berguna dalam hal pencegahan sengatan panas, karena mengirimkan peringatan, bahkan ketika saya sendiri tidak menyadarinya (prekursor sengatan panas)," kata seorang staf berusia 21 tahun yang memandu peserta Olimpiade di Stadion Nasional Jepang, Tokyo.

Manajer bisnis global Alibaba Cloud, Selina Yuan, mengatakan pihaknay telah bekerja sama dengan pihak panpel Olimpiade sejak beberapa tahun sebelumnya, karena gelaran kejuaraan multievent itu digelar pada momen yang cukup panas. Apalagi, sambungnya, pemanasan global akibat perubahan iklim turut mempengaruhi kegiatan kompetisi di arena luar ruangan.

"Kami memulainya dengan mencoba teknologi komputer cloud kami untuk meningkatkan semua digitalisasi," ujar Selina.

Berdasarkan studi terbaru, gelaran olimpiade Tokyo ini memiliki tingkat temperatur tertinggi dibanding kota-kota lain sebelumnya. 

(Reuters/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK