Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Eijkman barangkali adalah prasasti terbesar yang ditorehkan Sangkot Marzuki, seorang ilmuwan biologi molekuler pada dunia ilmiah Indonesia. Pada 15 Agustus 2009, Sangkot Marzuki dianugerahi Bintang Mahaputra Utama RI atas jasanya membangun Eijkman dan menjadikannya laboratorium dengan reputasi dunia.
Tahun 2014 Sangkot meninggalkan posisi orang nomor satu di Eijkman. Eijkman saat ini tengah disorot karena statusnya di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sudah menjadi lab berkelas dunia, Eijkman dikhawatirkan bakal melempem dengan statusnya sekarang.
Kepada Dewi Safitri dari CNN Indonesia melalui koneksi Zoom, dari Sydney Australia, Sangkot menyampaikan keresahan terkait tata cara pemerintah/BRIN mengelola peleburan Eijkman dan proyeksinya tentang kehilangan angkatan peneliti potensial karena kehilangan Eijkman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana reaksi Anda melihat keributan soal peleburan Eijkman?
Sebenarnya soal isu Eijkman akan dilebur dalam BRIN sudah berapa bulan kita tahu, sejak awal tahun 2021. Tapi prosesnya baru akhir 2021 keluar putusan bahwa mulai 1 Januari Lembaga Eijkman sudah tidak ada lagi dan pindah ke Cibinong - nah itu mulai dari situ.
Pertama, saya tentu sedih melihat lembaga yang telah kami bangun bersama selama lebih seperempat abad modalnya hanya bangunan yang sudah ditutup 25 tahun sebelumnya dan nyaris dirobohkan waktu itu, stafnya tidak ada hanya saya seorang diri, mulai dari zero, dan kemudian jadi satu lembaga yang dikenal di dunia, boleh dikata dihormati di dunia - jadi sedih lah melihatnya. Lebih prihatin lagi melihat apa yang terjadi pada Lembaga Eijkman itu dampaknya terhadap perkembangan sains Indonesia ke depan. Karena Lembaga Eijkman kan selalu dilihat sejawat kawan-kawan yang bergerak dalam bidang bioteknologi sebagai model, contoh terbaik. Dan kalau Lembaga Eijkman yang menjadi contoh terbaik dibubarkan begitu saja maka bagaimana nanti akibatnya terhadap perkembangan sains di Indonesia secara keseluruhan.
Apakah ada yang menghubungi terutama dari pihak BRIN sebelum peleburan ini?
Enggak ada. Saya kan sudah sejak 2014 mundur dari posisi Direktur Lembaga Eijkman. Sejak saat itu Eijkman memang mulai masuk birokrasi - di bawah Kemenristek. Sebelumnya pada masa kepemimpinan saya Eijkman itu agak di luar, saya bertanggung jawab langsung pada Menristek. Ada dua entitas Lembaga Eijkman saat itu yang paralel: pertama proyek pengembangan Lembaga Eijkman yang menangani keuangan, pemerintah dan sebagainya, dan lembaganya sebagai lembaga. Pak Habibie mengerti perbedaannya. Dan memang SK pendiriannya sebagai Eijkman dan SK yang mengangkat saya sebagai direktur mengatakan saya bertanggung jawab langsung kepada menteri.
Ide melebur Eijkman di bawah BRIN sudah kami dengar sebelumnya. Di bawah Kepala BRIN/Menristek (waktu itu) Prof Bambang Brodjonegoro, pada waktu itu idenya Eijkman akan dipindahkan ke Cibinong. Waktu itu dipandang Gedung Eijkman yang sekarang ini ada dianggap terlalu kecil dan rencana mendirikan menara beberapa tingkat di tengahnya (di kawasan RSCM Jalan Diponegoro Jakarta) dianggap berbahaya untuk keamanan gedung sekitarnya.
Jadi ide Pak Bambang adalah Lembaga Eijkman akan dipindahkan sebagai entitas yang intact, ke Cibinong. Jadi masih oke lah akan dipindah sebagai sebuah lembaga. Akhirnya BRIN berubah bentuknya Kemenristek dibubarkan, nah yang sekarang ini peleburannya kan berbentuk pemindahan dengan mengambil komponen-komponen sumber daya manusianya, peralatannya, dipindahkan ke Cibinong. Jadi tidak intact lagi, grup-grup riset yang kita bangun selama 25 tahun itu, kalau itu terjadi akan bubar.
Bubar maksudnya tidak akan bisa menjalani aktivitas seperti grup riset sebelumnya?
Jelas. Karena yang boleh diterima masuk ke BRIN dan pindah ke Cibinong hanya mereka yang berstatus ASN. Sedangkan di Eijkman kita adalah kelompok penelitian: satu tim kerjasama ada leader-nya, ada postdoc-nya, kemudian research assistant - satu grup semuanya kerja sama. Tidak mungkin seorang peneliti yang statusnya ASN pindah ke Cibinong tapi tidak diikuti tenaga pendukungnya akan bisa kerja.
Ide awal pendirian Eijkman sebagai Lembaga berkualitas world class, apakah sudah dipikirkan status kelembagaannya sehingga bisa bertahan lama termasuk akibat persoalan-persoalan seperti sekarang. Kami dengar sebagian dari yang dipersoalkan sebagai alasan peleburan adalah akuntabilitas keuangan?
Keadaan terakhir, 5 sampai dengan 10 tahun terakhir beda sekali dengan situasi waktu saya baru mulai. Waktu itu Pak Habibie sangat prihatin dengan perkembangan sains di Indonesia. Waktu itu justru Pak Habibie melihat yang menghambat riset justru adalah birokrasi berlebihan. Beliau melihat birokrasi ini tidak cocok dengan kegiatan ilmiah di Indonesia. Proses yang diambil untuk memutuskan arah Eijkman waktu itu, itu 35 tahun lalu ya, adalah memotong birokrasi. Jadi seakan-akan beliau melakukan satu eksperimen dengan hipotesis bahwa yang menghambat riset adalah birokrasi. Metodenya adalah bagaimana hasilnya kalau birokrasi ini dikurangi sebanyak mungkin. Itu sebabnya Lembaga Eijkman ini bertanggung jawab langsung pada Menristek.
Dan hasilnya ternyata kita lihat cepat sekali, tahun 1995 dari zero people zero building, dalam 3 tahun sudah pantas Lembaga Eijkman dibuka oleh Presiden RI. Jadi hipotesisnya betul jalan. Nah kalau kita lihat ini sebagai eksperimen, pertanyaannya: apakah hasilnya itu reproduceable - bisa nggak itu diulangi pada Lembaga lain sebelum diterima sebagai jawaban atas sebuah hipotesis. Kalau lembaga lain didirikan dengan cara yang sama, bisa nggak hasilnya juga tumbuh lebih cepat?
Kalau ada klaim soal akuntabilitas tidak memadai, saya tidak setuju. Karena kita sebagai Lembaga melakukan hal yang sama tanggung jawab yang sama, kita diperiksa dan sebagainya enggak ada bedanya (dengan instansi lain). Dengan Eijkman berdiri sendiri atau masuk ke dalam BRIN, tidak ada bedanya (soal akuntabilitas ini). Karena pendanaan APBN (sebelumnya) kan dikelola oleh orang-orang di Kementerian Ristek, kita di Lembaga Eijkman tinggal menerima pengelolaannya.
 Sangkot Marzuki (kanan) saat menjadi Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama Presiden ke-3 RI BJ Habibie. Habibie yang menginisiasi Eijkman dibentuk.(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Spt/15) |
Jadi eksperimen Pak Habibie mengurangi birokrasi itu berdampak baik?
Ya jadi kalau dikatakan Lembaga Eijkman hanya satu proyek itu menihilkan apa yang kita kerjakan selama ini. Karena di mana-mana di dunia internasional itu Lembaga Eijkman diterima. Sebagai sebuah lembaga. Kita bekerja sama secara internasional sebagai Lembaga Eijkman betul-betul sebagai sebuah lembaga, lembaga yang dihormati. Bahwa statusnya itu kemudian yang dicari belum sampai selesai itu masalah lain, tapi sebagai lembaga tidak ada masalah sama sekali untuk bergerak - dan diterima baik di Indonesia maupun di kalangan internasional.
Peneliti Kecewa, 'Rumah' Eijkman Kini Tak Ada
Kantor Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman di Jakarta. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)
Sejak awal yang diinginkan statusnya apa untuk Eijkman?
Pada awalnya kita satu lembaga yang langsung bertanggung jawab pada pemerintah sementara disamping kita ada lembaga yang namanya Proyek Pengembangan Lembaga Eijkman untuk memenuhi ketentuan peraturan saat itu terkait penerimaan dana pemerintah, saat itu ya. Saya tidak bisa menerapkan peraturan saat itu 25 tahun lalu, dengan standar aturan saat ini. Pak Habibie menargetkan Eijkman sebagai LPMD Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Dalam SK ada pernyataan Menristek "menunggu Keppres, SK ini diterbitkan". Jadi sudah ditargetkan ke sana, tapi sampai saya step down dari posisi direktur, masalah status masih belum tuntas.
Saat saya turun itu lah kemudian benar-benar Lembaga Eijkman masuk dalam birokrasi Kementerian Ristek, masuk dalam Ristek Dikti saat itu. Tahun 2014 saya step down dan dari 2014 masih dicarikan bentuk untuk Lembaga Eijkman. Ini makan waktu saya banyak sekali, kebutuhan mencarikan status final untuk Lembaga Eijkman. Ini adalah tantangan terbesar selama saya memimpin Lembaga Eijkman 1992 sampai dengan 2014.
Dari situasi sekarang ini yang paling Anda khawatirkan apa?
Kalau ini diteruskan dengan peneliti harus berstatus ASN sementara yang lain ditinggalkan, itu boleh dibilang hilang sudah Lembaga Eijkman. Sebagian yang cukup besar dari awak Lembaga Eijkman itu memang tidak bermaksud bergabung dalam BRIN. Kalau bukan ASN kan mereka bisa cari tempat sendiri.
Anda melihat seolah legacy Eijkman sampai di sini saja?
Betul. Tapi itu keprihatinan pertama. Ada keprihatinan yang lebih besar lagi: bagaimana dampak dari kepercayaan dunia internasional, kepercayaan para peneliti di Indonesia terhadap dukungan pemerintah pada pengembangan ilmu pengetahuan - kepercayaan itu akan hilang.
Banyak peneliti kita yang akan (memilih) pergi. Orang mungkin bilang "biarkan saja mereka pergi". Tapi siapa lagi yang cukup gila seperti saya kembali ke Indonesia membangun ke depan setelah melihat apa yang terjadi saat ini, mengorbankan kemapanan di LN, berkiprah di tingkat internasional, dihargai, dengan salah satu lab paling aktif di Monash University kembali ke Indonesia membangun semua ini 25 tahun dan kemudian apa yang dibangun ini hilang. Hilang begitu saja.
Apa kira-kira sikap Pak Habibie kalau beliau melihat ini?
Pak Habibie akan bereaksi. Saya yakin sekali. Pak Habibie tahu betul bahwa meningkatkan peran pemerintah/birokrasi terhadap kegiatan kelembagaan itu akan membunuh kegiatan ilmiah.
Karena cara berpikirnya sangat berbeda. Pak Bambang (Brodjonegoro, mantan Menristek) menginginkan BRIN hanya sebagai coordinating body, otonomi masing-masing lembaga tetap penting. Tidak bisa misalnya ditentukan dari atas bahwa ini grup kamu dan ini orang-orangnya. Bukan begitu cara lembaga penelitian dibangun.
Kalau di Lembaga Eijkman ini kalau ada orang baru, bukan saya yang memilih. Mereka sendiri mencari orang yang cocok dengan grupnya kemudian dilaporkan kepada saya, sebagai direktur. Saya ikut menilai, tapi bukan Pak Habibie ikut campur. Kita dikasih kebebasan penuh.
Kita sudah sampaikan ini. Kan sebelumnya saya juga pernah menjabat sebagai Ketua AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) sampai 2018. Sudah dari awal AIPI menyampaikan bahwa superbody, dimana semua kegiatan dikontrol dari atas itu akan merusak kegiatan ilmiah di Indonesia. Dari awal kita sudah mengatakan itu dan bukan hanya saya. Semua penelitian itu butuh ekosistem yang sehat. Tapi ekosistem ini, budaya ilmiah ini seperti juga pada semua manusia ini tidak bisa disamaratakan. Yang cocok di Lembaga Eijkman ini belum tentu cocok di lembaga lain, tetapi idenya barangkali bisa sama.
Bagaimana sikap ilmuwan diaspora Indonesia melihat ini? Apakah muncul misalnya sikap: sudah lah tidak usah pulang ke Indonesia kalau begini.
Sangat, sangat. Beberapa hari yang lalu saya ada diskusi melalui Zoom dengan peneliti Eijkman dari grup Human Genome Diversity. Salah satu alumni yang sedang di luar mengatakan: kalau pulang saya akan pulang kemana? Rumahnya sudah tidak ada, Lembaga Eijkman. Ini kehilangan sangat besar. Bukan cuma mereka, juga research assistant yang tidak bisa diterima di BRIN karena belum S3 sebagai syarat ASN itu akan hilang semua. Padahal sudah dididik untuk tugas-tugas yang sangat critical untuk jalannya suatu lembaga penelitian.