Sejarah Hacker Rusia dan Dampak Serangan Siber ke Berbagai Negara

CNN Indonesia
Kamis, 10 Mar 2022 07:17 WIB
Hacker dari Rusia meretas negara pecahan Uni Soviet seperti Estonia, Georgia, dan Ukraina pada 2007. Kemudian menyebar ke blok barat seperti Jerman hingga AS. Ilustrasi hacker Rusia. (Foto: iStock/sestovic)

Tercatat mulai 2014 hingga 2015, Rusia melakukan serangan siber digerakkan kelompok bernama Cozy Bear atau APT 29, yang bersekutu dengan badan intelijen Rusia, SVR (agen lanjutan dari mantan KGB), dituduh meretas badan-badan pemerintah AS (termasuk sistem email Gedung Putih dan Pentagon), Komite Nasional Demokrat (DNC), perusahaan sektor swasta, dan universitas.

Kemudian mulai 2014 hingga 2020 kelompok peretas Ruia lainya yang dikenal dengan nama APT-28 atau Fancy Bear meretas sistem digital di Gedung Putih, parlemen Jerman dan Norwegia, Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa, jurnalis, dan berbagai organisasi lain dan swasta.

Kelompok itu juga dituduh mengganggu pemilihan AS pada 2016 dan 2020, menurut laporan Forbes.

Tiga hari sebelum pemilihan presiden Ukraina pada 2014, sebuah kelompok peretas yang berbasis di Rusia, menjatuhkan komisi pemilihan negara itu dalam serangan semalam.

Bahkan sistem cadangan diturunkan, tetapi pakar komputer Ukraina dapat memulihkan sistem sebelum hari pemilihan.

Polisi Ukraina mengatakan mereka menangkap peretas yang mencoba menipu hasilnya. Serangan itu bertujuan untuk menciptakan kekacauan dan menyakiti kandidat nasionalis sambil membantu kandidat pro-Rusia.

Penyelidik Jerman menemukan peretas telah menembus jaringan komputer Bundestag Jerman, peretasan paling signifikan dalam sejarah Jerman pada Maret 2015, menurut laporan NBC.

Dinas intelijen domestik Jerman mengatakan, Rusia berada di balik serangan itu dan mereka mencari informasi tidak hanya tentang cara kerja Bundestag, tetapi juga para pemimpin Jerman dan NATO.

Peretas yang diyakini berasal dari Rusia, mengambil alih pusat kendali pembangkit listrik Ukraina, mengunci pengontrol dari sistem dan akhirnya 235.000 rumah tanpa listrik pada Desember 2015.

Pergerakan peretas asal Rusia ini tidak main-main dalam melancarkan aksinya, mulai Juni 2015 hingga November 2016, mereka menembus sistem komputer partai Demokrat, dan mendapatkan akses email pribadi pejabat Demokrat yang kemudian informasi itu didistribusikan ke berbagai media global.

Kelompok itu juga diduga mencoba meretas komputer pemerintah Belanda yang menyelidiki jatuhnya Malaysia Airlines pada 2014 di Ukraina. Sebab hakim pengadilan Belanda meyakini pesawat Malaysia Airlines MH17 jatuh karena dihantam rudal Rusia. Penyelidik internasional mengatakan rudal BUK dibawa dari pangkalan militer Rusia.

(can/mik)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER