Jakarta, CNN Indonesia -- Invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 dikhawatirkan berdampak pada bagi industri dan organisasi sains dunia.
Perang yang sedang berlangsung juga berpotensi perang nuklir dan kerusakan berbagai situs nuklir Ukraina yang diduga akan menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan secara global.
Dilansir dari Live Science, berikut 6 dampak invasi Rusia ke Ukraina bagi Dunia Sains:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Potensi Mangkraknya proyek ISS
Rusia sudah melontarkan ancamannya untuk keluar dari proyek Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) jika sanksi ke negaranya tidak dicabut.
Menurut Live Science, Rusia hanya berkomitmen untuk proyek ISS sampai 2024 bukan 2030 seperti yang diusulkan NASA dan mitra lainnya, yakni Amerika Serikat, Jepang, Kanada dan Uni Eropa). Para ahli mengatakan mundurnya Rusia dari program tersebut berarti tanggung jawab ISS yang 10 tahun terakhir dipegang Rusia beralih ke NASA.
Lebih jauh lagi, ancaman itu menandakan betapa buruknya tindakan Rusia di Ukraina karena telah merusak hubungan dalam komunitas ilmiah antara negara itu dan seluruh dunia, yang berarti bahwa setiap kerjasama yang berhubungan dengan sains dengan Rusia mungkin akan sulit.
2. Ancaman kesehatan serius
Rusia melakukan serangan tangki asam nitrat ke Kota Rubizhne di Timur Ukraina pada 5 April. Serangan itu menyebabkan tangki yang pecah mengeluarkan gumpalan asap kuning-cokelat.
Pusat Pencegahan Penyakit (CDC) menjelaskan cairan asam nitrat itu berubah warna menjadi cokelat setelah terkena air atau oksigen, menghasilkan asap berwarna kuning atau merah dengan bau yang tajam.
Paparan asam nitrat itu dapat mengiritasi mata, kulit dan selaput lendir dan juga dapat menyebabkan paru-paru basah atau edema paru, di mana kelebihan cairan menumpuk di organ. Paparan bahan kimia ini juga dapat mengiritasi dan mengobarkan jaringan paru-paru yang dapat menyebabkan bronkitis serta mendorong erosi gigi.
CDC menambahkan asam yang bersifat "sangat korosif" biasanya digunakan dalam pembuatan pupuk, pewarna dan polimer, menurut CDC.
"Ini adalah zat yang agak beracun. Kami tidak tahu kemana awan beracun ini akan pergi," kata Gubernur Rubizhne, Serhiy Haidai dalam sebuah video yang diposting di halaman Facebook-nya.
3. Kekhawatiran terjadinya perang nuklir
Reaktor nuklir Chernobyl yang rusak menjadi salah satu kecelakaan nuklir terburuk dalam sejarah yang terjadi pada April 1986. Dunia berharap hal itu tidak pernah terjadi kembali.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selaku pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah diberitahu bahwa pasukan Rusia yang menduduki pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl telah menyerahkan kendali" secara tertulis kepada personel Ukraina.
Laporan ini datang dari Energoatom, operator tenaga nuklir Ukraina. Energoatom mengatakan bahwa pasukan Rusia menandatangani dokumen yang secara resmi mengkonfirmasikan penyerahan pabrik kembali ke kendali Ukraina.
Ada laporan tentang tentara Rusia yang terpapar radiasi dosis tinggi saat berada di pabrik dan di sekitar zona eksklusi. Tetapi IAEA belum dapat mengkonfirmasi laporan tersebut dan masih melakukan penyelidikan.
Selain itu, dalam masa invasi Rusia ke Chernobyl di Ukraina ada penjarah yang mencuri bahan radioaktif dari laboratorium pemantauan radiasi di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir yang sudah tidak beroperasi. Dikhawatirkan ada risiko bahwa bahan ini akan digunakan dalam apa yang disebut bom kotor.
Kepala Pengawas nuklir PBB, Rafael Mariano Grossi disebut telah berbicara dengan pejabat senior pemerintah tentang menjaga integritas fasilitas nuklir negara itu.
IAEA telah menyatakan bahwa mereka akan menawarkan bantuan teknis untuk memastikan keselamatan dan keamanan fasilitas nuklir negara itu dan membantu mencegah risiko kecelakaan yang dapat membahayakan manusia dan lingkungan.
"Kehadiran IAEA, di mana diperlukan untuk memastikan keselamatan dan keamanan, sangat penting. Kami siap memberikan dukungan yang diperlukan sekarang," kata Grossi.
Terlebih, pasukan Rusia disebut telah menghancurkan sebuah laboratorium yang terletak di zona eksklusi Chernobyl di mana sampel radioaktif disimpan.
Laboratorium, yang biaya pembangunannya sekitar 6 juta euro, dibuka pada tahun 2015 dan bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan limbah radioaktif di pabrik.
Badan Negara Ukraina tentang Manajemen Zona Pengecualian melaporkan di media sosial bahwa militer Rusia kini telah menghancurkan fasilitas tersebut dan menyebut bahwa bahan radioaktif telah berada di tangan musuh.
Dampak Perang Rusia-Ukraina ke Dunia Sains
Ilustrasi perang nuklir. (Foto: AFP/)
4. Serangan Siber
Ukrtelecom, penyedia internet terbesar di Ukraina dalam hal jangkauan geografis, menjadi target serangan siber besar.
Layanan Komunikasi Khusus Negara Ukraina melaporkan, selama serangan yang dilakukan oleh pasukan Rusia, Ukrtelecom membatasi layanannya kepada pengguna pribadi dan klien bisnis untuk mempertahankan cakupan militer, keamanan teknis, dan dinas intelijen Ukraina. Perusahaan dapat memulihkan konektivitas ke semua pengguna setelah beberapa jam.
5. 'Panic Buying' Obat-obatan
Menurut Reuters, warga Rusia telah mengalami 'panic buying' obat-obatan seperti pil tidur, kontrasepsi, obat kanker, obat jantung, hormon dan antidepresan menyusul peningkatan lebih lanjut sanksi dan boikot Barat.
Informasi dari perusahaan analisis data Rusia DSM Group telah menunjukkan bahwa, dalam dua minggu antara 28 Februari sampai 13 Maret, orang Rusia membeli kebutuhan farmasi berjumlah 270,5 juta item dengan nilai beli sekitar US$104 miliar atau sekitar Rp1,5 juta triliun.
Sergei Shulyak selaku Direktur Umum DSM Group mengatakan bahwa lonjakan itu karena ada ketakutan di masyarakat.
"Ketakutan pertama adalah segalanya bisa menjadi lebih mahal dan ketakutan kedua adalah obat-obatan yang mereka butuhkan tidak akan tersedia dalam beberapa waktu. Ketakutan itu menggerakkan orang. Mereka mengantre di apotek dan membeli semuanya," katanya.
Shuylak menjelaskan bahwa dia memperkirakan lonjakan akan stabil dari waktu ke waktu, karena banyak produsen Rusia masih mampu memproduksi obat generik dan produsen asing masih dapat memasoknya, meskipun dengan harga yang lebih tinggi.
Namun, dia mengungkapkan kekhawatiran bahwa memburuknya hubungan dengan Barat dapat membuat produsen obat Rusia tidak dapat memperoleh beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat produk obat.
6. Krisis Energi Global
New York Times melaporkan bahwa Badan Energi Internasional, sebuah organisasi antar pemerintah otonom memperingatkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina kemungkinan akan menciptakan krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Badan tersebut didirikan setelah krisis minyak 1973 dengan tujuan untuk membantu menstabilkan pasar energi global. Badan tersebut juga mengeluarkan beberapa rekomendasi untuk membantu negara-negara mengurangi ketergantungan mereka pada minyak.
"Mengurangi permintaan adalah cara mengatasi situasi tanpa hanya memompa lebih banyak minyak," kata Fatih Birol, direktur eksekutif badan tersebut menurut nature.
Rekomendasi badan tersebut termasuk mengurangi batas kecepatan, pengurangan tarif angkutan umum, mempromosikan penggunaan kereta api di atas pesawat terbang, jika memungkinkan; mendorong carpooling, melembagakan hari bebas mobil di kota-kota, dan mengurangi perjalanan dengan menyuruh orang bekerja dari rumah tiga hari seminggu.
Badan ini juga mengajukan beberapa rekomendasi untuk diterapkan dalam jangka panjang, seperti membangun infrastruktur yang diperlukan untuk memprioritaskan kendaraan listrik.