Jakarta, CNN Indonesia -- Situs 4chan disorot usai penembakan massal di Buffalo, New York, Amerika Serikat (AS), Sabtu (14/5) yang menewaskan 10 orang karena diduga menjadi tempat pelaku mendapat inspirasi sekaligus menyebarkan video kejahatannya.
Pelaku penembakan yang diduga bernama Payton Gendron (18), selain menyebarkan video kejahatannya, juga mengaku terinspirasi lewat video-video kebencian yang dilihatnya di forum 4chan.
Salah satu video yang diduga menginspirasi Gendron adalah video penembakan di Christchurch, Selandia Baru, 2019. Mengutip NBC News, Gendron mengaku menjadi radikal lewat 4chan saat bosan di awal pandemi Covid-19 2020.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) masih mendalami motif penembakan tersebut. Namun diduga motifnya terkait kebencian rasialis.
Pasalnya, 11 dari 13 orang yang ditembak berkulit hitam. Para korban sedang berbelanja di Tops Friendly Market yang berada di lokasi.
Dikutip dari CNN, pada Sabtu (14/5) sore, seorang pengguna anonim di forum online 4chan menulis, "20 menit yang lalu saya baru saja menyaksikan penembakan massal di sebuah supermarket top secara langsung dengan 20 penonton lainnya."
Forum yang semua penggunanya anonim itu tampaknya menjadi pusat penyiaran pembantaian di supermarket Buffalo, AS, di hari yang sama.
Berdasarkan sebuah dokumen setebal 180 halaman yang dilihat CNN, pria yang dicurigai melakukan penembakan yang menewaskan 10 orang itu dipengaruhi oleh diskusi di forum 4chan, termasuk bagaimana dia terinspirasi dengan menonton video penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, 2019, yang juga disiarkan secara langsung.
"[Penembakan Buffalo] ini adalah serangan yang kasus Christchurch selangkah demi selangkah, baik itu dalam hal serangan di dunia nyata; merencanakan dan memilih target; serta [serangan] online; mengoordinasikan siaran streaming langsung dan menyebarkan manifesto di papan pesan," tutur Ben Decker, CEO Memetica, sebuah perusahaan analisis ancaman siber, kepada CNN.
Forum 4chan, yang dibuat pada 2003, mengklaim menerima 22 juta pengunjung unik setiap bulan, dengan setengahnya dikatakan berada di Amerika Serikat.
Situs ini mengaku tetap menggelar forum dengan berbagai topik -- termasuk video game, meme, dan anime -- serta mengklaim memiliki aturan untuk melawan rasisme. Namun, pendekatannya lemah dalam hal moderasi konten. Artinya, ujaran kebencian yang tidak diizinkan oleh lebih banyak platform arus utama menyebar lebih bebas di sini.
Selain 4chan, ada pula situs serupa bernam 8kun, yang awalnya bernama 8chan, yang dikaitkan dengan kasus penyebaran konten sejenis.
Tak lama setelah penembakan Buffalo, beberapa pengguna di 4chan tidak membahas tentang kematian korban, tapi berbagi metode untuk mengunggah ulang video penembakan itu agar dapat dilihat oleh lebih banyak orang.
Twitch, layanan milik Amazon tempat penembak menyiarkan langsung bagian dari serangan itu, mengaku telah menghapus video tersebut dua menit setelah insiden itu dimulai karena melanggar kebijakannya.
Namun, sejumlah pihak keburu merekamnya. Pada Minggu (15/5), salinan video itu beredar di internet. Beberapa di antaranya bahkan telah dilihat jutaan kali.
Platform seperti Facebook dan Twitter melarang berbagi video itu di situs mereka. Namun, platform-platform itu jelas-jelas masih bersusah payah menahan penyebarannya.
Tanggapan perusahaan media sosial di halaman berikutnya...
[Gambas:Video CNN]
Buffali
Lokasi penembakan massal Buffalo, NY, AS. (Foto: REUTERS/STRINGER)
Juru bicara Facebook, Twitter, YouTube, dan Reddit sama-sama mengklaim melarang berbagi video penembakan itu di situs mereka dan bekerja untuk mengidentifikasi serta menghapus salinannya. Sementara, TikTok tidak menanggapi permintaan klarifikasi CNN.
Facebook menyertakan peringatan bahwa tautan tersebut melanggar standar komunitasnya tetapi masih memungkinkan pengguna untuk mengklik dan menonton video. Perusahaan induk Facebook Meta (FB) mengatakan telah menghapus tautan tersebut setelah CNN menanyakannya.
Juru bicara Meta pada Sabtu (14/5) menetapkan acara tersebut sebagai "serangan teroris," yang memicu tim internal perusahaan untuk mengidentifikasi dan menghapus akun tersangka, serta mulai menghapus salinan video dan dokumen dan tautan ke mereka di situs lain.
Menurut The New York Times, video tersebut diunggah di layanan Streamable dan dihapus setelah dilihat lebih dari 3 juta kali, dan tautannya dibagikan di Facebook dan Twitter.
Seorang juru bicara Streamable mengatakan kepada CNN bahwa perusahaan itu "bekerja dengan sigap" untuk menghapus salinan video tersebut "dengan cepat. Namun, ia tidak menanggapi ketika ditanya bagaimana satu video mencapai jutaan penayangan sebelum dihapus.
Salinan dokumen yang diduga ditulis oleh penembak diunggah ke Google Drive dan situs penyimpanan online lain yang lebih kecil dan dibagikan selama akhir pekan melalui tautan ke platform tersebut. Google tidak menanggapi permintaan komentar tentang penggunaan Drive untuk menyebarkan dokumen itu.
Peristiwa penembakan di Buffalo terjadi di tengah-tengah usaha Elon Musk membangkitkan sejumlah akun yang diblokir Twitter karena ujaran kebencian dan SARA, termasuk akun mantan Presiden AS Donald Trump.
 Infografis Pola Rekrutmen Buzzer. (Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen) |
Musk sendiri berdalih keputusannya itu dilatarbelakangi kebebasan berbicara. Namun para ahli menilai langkah Musk justru membuat Twitter bisa menjadi ladang ujaran kebencian.
"FBI memperingatkan tentang kekerasan ekstrim dan Elon Musk sepertinya tidak mengerti atau tidak peduli soal itu dan dia berpikir moderasi konten adalah hal yang buruk," kata mantan Duta Besar AS untuk Organisasi Pengembangan dan Operasi Ekonomi (OECD) seperti dilansir Euronews.
Sementara itu, Pakar Komunikasi Digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan mengatakan, negara harus hadir untuk tetap menjaga masyarakat tetap kondusif. Penyensoran oleh negara pun dianggap bisa dilakukan.
"Iya harus begitu. Negara tidak boleh tunduk oleh sebuah perusahaan platform. Negara harus punya visinya masing-masing," katanya.
"Twitter yang di bawah Elon Musk berpotensi enggak sesuai dengan definisi kebebasan berekspresi masing-masing negara dan budaya," ujar Firman menambahkan.