Mengingat Kembali Klaim Matahari Bunuh Corona, Ada Buktinya?

CNN Indonesia
Rabu, 06 Jul 2022 16:25 WIB
Sinar Matahari sejak awal pandemi diklaim bisa mematikan Virus Corona. Namun, dua musim panas terlewati dengan tiga gelombang Covid-19 dan 156.766 korban jiwa. Ilustrasi. Sejak awal pandemi para pejabat gencar mempromosikan sinar Matahari sebagai obat Covid-19. (Foto: iStockphoto/nicoletaionescu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para pejabat berbagai negara sejak awal pandemi Covid-19 mengklaim berjemur di bawah sinar Matahari bisa membunuh Virus Corona. Apakah klaim itu punya bukti setelah tiga gelombang Covid-19 dan lebih dari 150 ribu korban jiwa?

Pemerintah dan DPR pada dasarnya sejak awal pandemi sudah menawarkan beragam resep, mulai yang tradisional hingga kekinian. Contohnya, sinar Matahari.

Presiden Joko Widodo, sambil merujuk pada pernyataan pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Homeland Security) yang bukan seorang ilmuwan, pada 2020, menyatakan suhu panas akan memperpendek masa hidup Virus Corona.

"Tadi pagi saya mendengar pernyataan dari pejabat Departement of Homeland Security dari pemerintah AS yang menyampaikan hasil penelitian bahwa suhu udara, sinar matahari, dan tingkat kelembapan udara sangat mempengaruhi kecepatan kematian virus Covid-19 di udara dan permukaan yang tidak berpori," tuturnya, Jumat (24/4/2020).

"Semakin tinggi temperatur, semakin tinggi kelembapan, dan paparan langsung sinar matahari akan semakin memperpendek masa hidup virus Covid-19 di udara dan di permukaan yang tidak berpori," imbuhnya.

Senada, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyarankan warga berjemur di bawah sinar Matahari pagi supaya terhindar dari Covid-19.

"Kita beruntung punya negara yang banyak sinar matahari sebagai negara tropis, sering-sering untuk berjemur, terutama di matahari pagi. Kita semua belajar dari dulu, namanya matahari pagi itu banyak mengandung manfaat termasuk vitamin D dan lain-lain," kata Tito, Selasa (3/3/2020).

Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga meminta masyarakat berolahraga, mengonsumsi vitamin, hingga berjemur di bawah sinar Matahari pagi.

"Supaya kita imun, tahan sehingga kita tidak terpapar," ujarnya, Kamis (16/4/2020).

Dua tahun berlalu, Indonesia sudah melalui tiga gelombang Corona, di antaranya akibat varian Delta dan Omicron. Setelah awal 2022, kasus Covid-19 sempat menurun.

Kini angka kasus kembali merangkak naik. Per Selasa (5/7), kasus harian bertambah 2.577. Total kasus pun menjadi 6.097.928, dengan jumlah keseluruhan kasus kematian mencapai 156.766 orang.

Apakah bisa disimpulkan klaim para pejabat itu salah? Benarkah sinar Matahari tak berefek apa pun pada kesehatan?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengatakan klaim berjemur di bawah sinar Matahari sebagai obat Covid-19 itu adalah hoaks.

"FAKTA: Menjemur diri di bawah sinar matahari atau suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat celcius TIDAK melindungi Anda dari Covid-19," cetus WHO dalam laman resminya.

Setiap orang, kata lembaga itu, dapat tertular Covid-19 tidak peduli seberapa cerah atau panas cuacanya. Virus Covid-19 dapat menyebar di iklim panas maupun sebaliknya.

"Cara terbaik melindungi diri Anda dari Covid-19 adalah dengan menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain dan sering mencuci tangan," kata WHO.

Kendati demikian, dikutip dari Science Daily, sebuah penelitian menyebut peningkatan paparan sinar matahari, khususnya Ultraviolet-A (UVA), dapat menurunkan tingkat kematian akibat Covid-19.

Para peneliti dari University of Edinburgh membandingkan semua kematian yang tercatat akibat Covid-19 di benua AS dari Januari hingga April 2020 dengan tingkat UV untuk 2.474 negara bagian AS pada periode waktu yang sama.

"Hubungan antara kematian, musim, dan garis lintang Covid-19 cukup mencolok, di sini kami menawarkan penjelasan alternatif untuk fenomena ini," ungkap Profesor Chris Dibben, Ketua Geografi Kesehatan di Universitas Edinburgh.

Studi tersebut menemukan bahwa orang yang tinggal di daerah dengan tingkat paparan sinar UVA tertinggi, yang 95 persen berasal dari sinar matahari, memiliki risiko kematian akibat Covid-19 yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki tingkat paparan lebih rendah.

Analisis ini diulang di Inggris dan Italia dan mendapatkan hasil yang sama.

Pengurangan risiko kematian akibat Covid-19 yang diamati tidak dapat dijelaskan oleh tingkat vitamin D yang lebih tinggi, kata para ahli.

Bagaiamana bisa? Dalam tindak lanjut penelitian ditemukan paparan sinar matahari menyebabkan pelepasan oksida nitrat di kulit yang dapat mengurangi kemampuan SARS Coronavirus2, penyebab Covid-19, untuk bereplikasi.

"Masih banyak yang tidak kita pahami tentang Covid-19, yang telah mengakibatkan begitu banyak kematian di seluruh dunia. Hasil penelitian awal ini membuka paparan sinar matahari sebagai salah satu cara yang berpotensi mengurangi risiko kematian," ujar Richard Weller, koresponden peneliti sekaligus konsultan dermatologi di Universitas Edinburgh.

Makalah ini telah diterbitkan dalam British Journal of Dermatology, sebuah publikasi resmi dari British Association of Dermatologists.

[Gambas:Video CNN]

(ttf/lth)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER