Peneliti Asing Dilarang ke Taman Nasional, Datanya Sukses Bantah KLHK?

CNN Indonesia
Selasa, 20 Sep 2022 15:10 WIB
Peneliti asing Erik Meijaard kena tangkal KLHK diduga karena mengkritik Menteri LHK Siti Nurbaya. Data siap yang lebih benar? KLHK melarang peneliti orang utan Erik Meijaard masuk taman nasional. (Foto: Tangkapan Layar Twitter/@emeijaard)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti asal Belanda Erik Meijaard dilarang masuk wilayah Taman Nasional dan Konservasi Sumber Daya Alam di Indonesia diduga buntut tulisannya soal konservasi orang utan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebelumnya melarang Erik Meijaard dkk. masuk ke kawasan Taman Nasional karena publikasi soal orang utan yang dianggap mendiskreditkan pemerintah.

Pemberitahuan pelarangan itu tertuang dalam surat Nomor S.1447/MENLHK-KSDAE/KHSS/KSA.2/9/2022 yang ditembuskan kepada seluruh Balai Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

"Memperhatikan perkembangan publikasi secara nasional dan internasional yang ditulis oleh peneliti asing an sdr Erik Meijaard dkk tentang satwa antara lain berkenaan dengan orangutan, dengan indikasi negatif dapat mendiskreditkan pemerintah cq Kementerian LHK," demikian salah satu poin surat tersebut.

Memangnya apa yang salah dengan publikasi Meijaard yang merupakan profesor kehormatan di University of Queensland itu?

Meijaard dan peneliti Julie Sherman sebelumnya menulis di Jakarta Post menanggapi komentar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya lewat tulisan berjudul 'Orangutan conservation needs agreement on data and trends'.

Dalam tulisannya, Meijaard tak setuju dengan pernyataan Siti yang menyebut orang utan Sumatra, Tapanuli, dan Borneo "jauh dari kata punah" (far from exctinction) dan "akan terus tumbuh" (will continue to have growing populations) jika merujuk pada bukti di lapangan.

Menurut Meijaard beragam bukti penelitian menunjukkan fakta yang sebaliknya.

"Beragam penelitian saintifik seperti "First integrative trend analysis for a great ape species in Borneo (Nature, July 17, 2017), Global Demand for Natural Resources Eliminated More Than 100,000 Bornean Orangutans (Current Biology, March 5, 2018);

"dan 'Effectiveness of 20 years of conservation investments in protecting orangutans' (Current Biology, April 25, 2022) menunjukkan bahwa ketiga spesies orangutan itu telah menurun jumlahnya dalam beberapa dekade terakhir dan tidak ada bukti populasinya sedang bertumbuh," tulis Meijaard.

Lebih lanjut, Meijaard mengatakan penurunan tersebut juga didukung oleh survei dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sendiri. Mengutip Antara, BKSDA Kalimantan Tengah menyebut 23 ribu orang utan kini tinggal di hutan Kalimantan Tengah.

Jumlah itu, kata Meijaard, menurun dari sekitar 27,387 ribu dalam data pemerintah yang dipublikasikan pada 2016. "Karena itu, kami menggarisbawahi bahwa data ekstensif yang kami akses tidak konsisten dengan yang diacu oleh Menteri dengan indikasi "populasi yang sedang tumbuh"

"Dari data yang diambil komunitas sains dan konservasi pun, tidak ada bukti bahwa kita telah dibodohi. Penurunannya (populasi orang utan, red) nyata dan didukung oleh data" tulis Meijaard.

Masih dalam tulisan yang sama, Meijaard yang juga Visiting Prof. di Charles University, Praha, Ceko, itu mengatakan para penliti orang utan dan kelompok konservasi telah berkolaborasi puluhan tahun.

Hasil penelitian mereka pun biasanya dibagi dan diunggah di basis data Indonesia dan internasional seperti di A.P.E.S yang dikelola oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN). "Yang juga bisa diakses oleh Pemerintah Indonesia," tulisnya.

"Estimasi populasi dan tabel waktu dikembangkan dari basis data itu dan data itu menunjukkan penurunan ketiga populasi orangutan tersebut," tulis Meijaard lagi.

Kendati tak sepakat dengan Siti, Meijaard mengaku ada poin-poin lain yang ia setujui. Salah satunya adalah soal penurunan kehilangan hutan yang menurun di masa Presiden Joko Widodo.

Akan tetapi, Meijaard tetap menyarankan otoritas konservasi Indonesia "untuk mempertahankan kepercayaan kepada jurnal sains yang sudah di-peer-reviewed. Di era informasi palsu, kami menyambut baik debat konstruktif seputar data yang terbuka dan transparan".

CNNIndonesia.com telah menghubungi Menteri LHK Siti Nurbaya, Sekretaris Jendral KLHK Bambang Hendroyono, dan Humas KLHK Nunu terkait itu. Namun, ketiganya belum merespons pesan teks maupun telepon.

Sebelumnya, Siti, dikutip dari Forest Hints, menyebut orang utan Sumatra, Tapanuli, dan Borneo jauh dari kata punah. Politikus Partai NasDem ini menuding kampanye negatif terhadap kehidupan orang utan di Indonesia.

"Sayangnya, kelompok ini sengaja membangun narasi sesuai dengan keinginan sendiri untuk mencapai tujuan pribadi, terlepas dari apakah bukti yang disebutkan mereka cocok dengan fakta di lapangan atau data dari waktu ke waktu. Karena itu, kita harus tetap memantau bukti nyata di lapangan dan bukti waktu ke waktu dan tidak dibodohi," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(lth/arh)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER