2 Dugaan Motif Sesungguhnya Elon Musk Serang Apple

CNN Indonesia
Rabu, 30 Nov 2022 07:37 WIB
Apa alasan sesungguhnya dari serangan miliarder Elon Musk terhadap Apple? Beberapa pihak menduga itu terkait persaingan dan dendam. Cek rinciannya di sini. Alasan Elon Musk menyerang Apple diduga bukan cuma karena urusan free speech. (Foto: AFP/FREDERIC J. BROWN)
Jakarta, CNN Indonesia --

CEO Twitter Elon Musk diduga menyerang Apple tak cuma karena urusan kebebasan berpendapat (free speech) dan pajak 30 persen di App Store. Isu persaingan usaha dan dendam pribadi mengemuka.

Pada Senin, lewat serangkaian tweet, Musk mengklaim Apple "mengancam untuk menahan" Twitter dari App Store.

CEO Tesla itu juga menuding Apple berkontribusi besar pada penurunan iklan di Twitter. Itu berita buruk. Menurut Washington Post, pengeluaran iklan Apple senilai US$48 juta menyumbang lebih dari 4 persen pendapatan Twitter untuk kuartal pertama tahun ini.

"Apakah mereka (Apple) membenci kebebasan berpendapat di Amerika," kicu Musk.

Dalam tweet terpisah, orang terkaya di dunia ini juga menyindir CEO Apple, "apa yang terjadi di sini @tim_cook?"

Apple sejauh ini belum mengonfirmasi atau mengomentari deretan kicauan Musk itu.

Diketahui, Twitter mengalami eksodus pengiklan sejak Musk mengambil alih perusahaan, Oktober. Apple bukan satu-satunya pengiklan yang keluar. Ada pula Volkswagen, Pfizer, dan General Mills.

Menurut laporan Media Matters, sejak akuisisi itu, Twitter kehilangan setengah dari 100 pengiklan teratasnya. Musk sempat menyalahkan para aktivis yang disebutnya menekan pengiklan yang memicu "penurunan pendapatan besar-besaran."

Menggoyang dominasi

Dikutip dari Fortune, serangan Musk terhadap Apple ini pada dasarnya membawa masalah yang jauh lebih besar yang membayangi hubungan antara kedua perusahaan.

Apple adalah penengah utama masalah konten di internet dengan caranya memutuskan aplikasi mana yang tersedia untuk pengguna iPhone.

Beberapa tahun lalu, Apple dilaporkan mempertimbangkan untuk mengeluarkan Uber dari App Store karena melanggar aturan mereka. Jika itu terjadi, perusahaan efektif ambruk: warga tidak bisa mendapat pesanan Uber di iPhone mereka.

Mantan kepala bagian kepercayaan dan keamanan Twitter Yoel Roth, yang berhenti tak lama setelah Musk mengambil alih perusahaan, dalam opininya di New York Times, menguraikan apa yang bisa terjadi pada Twitter pasca-Musk. Terutama dalam hal klaim "kebebasan berbicara".

Roth secara khusus mengutip Google dan Apple, bersama dengan pengiklan dan regulator, sebagai kekuatan kuat yang harus dihadapi Twitter dalam hal menangani moderasi kontennya.

"Kegagalan untuk mematuhi pedoman Apple dan Google akan menjadi bencana besar, mempertaruhkan pengusiran Twitter dari toko aplikasi mereka dan mempersulit miliaran pengguna potensial untuk mendapatkan layanan Twitter," tulis Roth.

"Ini memberi Apple dan Google kekuatan yang sangat besar untuk membentuk keputusan yang diambil Twitter," lanjutnya.

Pada Selasa (29/11), sebagai tanggapan terhadap investor David Sacks yang menyebut Microsoft, Apple, Google, dan Amazon sebagai "penjaga gerbang", Musk men-tweet bahwa "ini adalah masalah nyata".

"Apple dan Google secara efektif mengontrol akses ke sebagian besar Internet melalui toko aplikasi mereka," kicaunya.

Twitter dan Apple sejauh ini belum merespons permintaan komentar dari Fortune.

Dendam pribadi

Menurut buku karya jurnalis The Wall Street Journal Tim Higgins, Power Play: Tesla, Elon Musk, and the Bet of the Century, dikutip dari The Verge, Elon Musk pernah menuntut untuk menjadi CEO Apple dalam sebuah pembicaraan via telepon dengan CEO Apple saat itu Tim Cook pada 2016.

Diceritakan dalam buku itu, Cook menyarankan Musk agar Apple mengakuisisi Tesla, dan Musk mengatakan dia ingin menjadi CEO. Cook dilaporkan setuju. Namun, Musk melanjutkan bahwa posisi yang inginkan adalah CEO Apple.

"Menurut seorang mantan ajudan yang mendengar [Musk] menceritakan kembali pertukaran itu," kata buku tersebut, Cook menjawab "Persetan denganmu," sebelum kemudian menutup teleponnya.

Musk dan Apple sama-sama menyatakan bahwa percakapan itu tidak mungkin terjadi karena Musk dan Cook tidak pernah ngobrol.

Dalam sebuah kicauannya pada 2021, Musk mengatakan bahwa "Cook dan saya tidak pernah berbicara atau menulis satu sama lain."

Dia juga mengatakan berusaha untuk bertemu dengan Cook tentang akuisisi Tesla oleh Apple. Namun, pertemuan itu ditolak oleh Cook. (Musk sebelumnya membahas percobaan pertemuan ini pada Desember.)

Ketika dimintai komentar tentang percakapan tersebut, Apple merujuk kepada pernyataan Cook selama wawancara dengan Kara Swisher dari The New York Times.

"Anda tahu, saya belum pernah berbicara dengan Elon, meskipun saya sangat mengagumi dan menghormati perusahaan yang dia bangun," kata Cook.

Musk juga mengklaim bahwa sebagian besar buku itu salah. "Higgins berhasil membuat bukunya palsu sekaligus membosankan," kata Musk dalam sebuah kicauan.

CEO SpaceX itu juga dalam pernyataannya di Los Angeles Times menyatakan sebagian besar buku itu "omong kosong".

"Sebagian besar, tetapi tidak semua, dari apa yang Anda baca dalam buku ini adalah omong kosong," ujarnya dalam catatan kaki buku tersebut.

(tim/arh)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER