11 Aplikasi yang Pernah Dihapus dari App Store, Twitter Menyusul?

CNN Indonesia
Rabu, 30 Nov 2022 16:38 WIB
Di tengah isu Twitter bakal dihapus dari App Store, berikut riwayat 'pemberangusan' sejumlah app oleh Apple dan alasannya. Ilustrasi. Apple diklaim akan menghapus Twitter dari App Store. (Foto: Splitshire)
Jakarta, CNN Indonesia --

Elon Musk, orang terkaya dunia, tengah mengobarkan 'perang' terhadap Apple usai berang menanggapi wacana penghapusan Twitter dari App Store. Jika memang demikian, app tersebut bukan satu-satunya yang pernah bernasib nahas.

"Apple juga mengancam untuk menghapus Twitter dari App Store, tapi tidak mengatakan kepada kami alasannya," cuit Musk di akunnya @elonmusk.

"Apple telah menstop iklan di Twitter. Apakah mereka benci kebebasan berbicara di Amerika? Apa yang terjadi di sini @tim_cook?" lanjut dia, sembari menautkan akun CEO Twitter, Tim Cook.

Isu penghapusan Twitter di App Store mengemuka setelah akuisisi Musk yang dikhawatirkan membuat platform itu akan dipenuhi ujaran kebencian dan hoaks. Apalagi, Musk juga telah memulihkan akun mantan presiden AS Donald Trump yang provikatif.

Sejumlah perusahaan pun menyetop untuk beriklan di Twitter setelah akuisisi ini, termasuk Apple, yang punya kebijakan sendiri soal diskriminasi dan ujaran kebencian. Setiap aplikasi yang ingin 'berdagang' di App Store harus mematuhi kebijakan tersebut.

Karena itulah, muncul isu Apple akan menghapus Twitter dari toko aplikasi mereka tersebut.

Apple sendiri punya rekam jejak melarang sejumlah aplikasi, salah satunya Parler, medsos yang punya kecenderungan terhadap sayap kanan sebelum memulihkannya kembali.

Selain itu mengutip ZDNet, Apple sudah memblokir 1,6 juta aplikasi dari iPhone karena dianggap mencurigakan. Pada 2021, Apple menolak 34.500 aplikasi yang bermuatan fitur tak terdokumentasi atau tersembunyi, berkurang dari tahun sebelumnya yang mencapai 48 ribu app.

Perusahaan pimpinan Tim Cook itu juga menolak 157 ribu aplikasi yang dianggap spam, menjiplak, atau mengecoh pengguna, meningkat dari 2020 yang mencapai 150 ribu app. Di tahun yang sama, Apple menolak 343 ribu aplikasi yang melanggar privasi, meningkat dari 215 ribu pada tahun sebelumnya. 

"Ulasan manusia adalah komponen yang membedakan dari proses Tinjauan Aplikasi," kata Apple dalam unggahan blognya, sambil mencatat bahwa tim meninjau setiap aplikasi dan setiap pembaruan untuk memastikan kepatuhan dengan pedoman App Store.

Apple juga mengaku menggunakan "alat yang memanfaatkan pembelajaran mesin, heuristik, dan data yang terkumpul sejak App Store pertama kali diluncurkan" untuk mendeteksi potensi masalah dan pelanggaran aplikasi.

Dilansir dari PC Mag, ada sejumlah aplikasi populer yang pernah jadi 'korban' Apple di App Store. Berikut rinciannya:

1. I Am Rich

I Am Rich pantas masuk ke dalam aplikasi tiada guna. App buatan Armin Heinrich ini hanya digunakan untuk flexing alias pamer.

Saat digunakan, I Am Rich hanya akan menampilkan lingkaran merah berkilau dan sejumlah mantra tentang kesuksesan dan kekayaan. Harga aplikasi ini mencapai US$999 atau Rp15,7 juta (1USD= Rp15.730).

Di situlah letak maksud aplikasi tersebut. Pembeli I Am Rich jelas orang kaya yang tak perlu lagi pusing mengeluarkan uang hanya untuk benda tak berguna.

2. Slash

Slash sebetulnya hanya aplikasi yang menampilkan foto sebuah pisau dengan iringan musik film Psycho. Akselerometer pada aplikasi ini kemudian mendeteksi 'pergerakan menusuk dengan cepat'.

Sepintas, aplikasi Slash tak berbahaya. Sayangnya, ia dirilis di saat kurang tepat yakni ketika banyak insiden penusukan di Britania Raya. Slash kemudian di-take down Apple hanya beberapa hari setelah dijual.

3. Fortnite

Fortnite adalah salah satu aplikasi game terbesar di dunia. Akan tetapi, gamers jangan berharap bisa memainkannya di iPhone atau iPad.

Game ini hilang dari App Store setelah tak setuju dengan kebijakan tarif 30 persen dari Apple untuk setiap aplikasi yang mejeng di sana. Epic Games selalu pemilik Fortninte ingin biaya yang lebih murah dan mengakhiri tarif tersebut.

Mereka lalu mengeluarkan Fortnite dengan opsi pembelian sendiri dan harga yang lebih murah. Tindakan itu membuat Apple murka lalu menghapus Fortnite dari App Store.

4. Metadata+

Metadata+ adalah aplikasi buatan programer, Josh Begley. Aplikasi ini berfungsi mengirim push notification ke layar iPhone setiap kali ada drone Amerika Serikat yang menembak di Pakistan, Somalia, atau Yaman.

Aplikasi ini sebetulnya sempat mendapat persetujuan Apple. Namun itu tak berlangsung lama karena Apple langsung menghapusnya dengan alasan 'konten berisi hal yang tidak menyenangkan'.

5. Sexy Bikini Fart

Aplikasi ini menampilkan foto 18 model berbikini yang bisa menimbulkan suara kentut yang ditambah dengan bermacam-macam suara perut kembung.

Sempat aktif sejenak, akibat dinilai kasar dan suaranya terlalu berisik, Apple menghapusnya dari App Store.

Tawkon Radiation hingga Baby Shaker di halaman berikutnya...

Tawkon Radiation Detector hingga Baby Shaker

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER