Makin Dini Dapat Hp Bocah Makin Stres dan Susah Tidur?

CNN Indonesia
Minggu, 04 Des 2022 12:28 WIB
Para ahli dari Standford University membantah asumsi bahwa makin dini dapat Hp maka makin depresi bocah. Simak penuturannya di sini. Ilustrasi. Studi mengungkap kaitan usia anak dapat ponsel pertama kali dengan tingkat stres. (Foto: Istockphoto/LDProd)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ponsel kerap dikaitkan dengan berbagai dampak buruk pada psikologi anak. Asumsinya, makin dini dapat Hp makin tinggi pula tingkat depresi bocah. Benarkah demikian?

Faktanya, sebuah studi dari Universitas Stanform tidak menemukan kaitan antara usia anak saat pertama kali memiliki ponsel dengan stres, depresi, atau gangguan tidur.

Meski demikian, peneliti menggarisbawahi perlu adanya studi yang mendalami tentang penggunaan perangkat teknologi ini oleh anak.

Dilansir dari laman Universitas Stanford, penelitian ini dilakukan pada lebih dari 250 anak selama 5 tahun. Anak-anak yang baru mendapatkan ponsel pertamanya ini diteliti terkait perubahan kondisi antara sebelum dan sesudah memiliki ponsel.

"Kami menemukan bahwa apakah anak-anak dalam penelitian ini memiliki ponsel atau tidak, dan ketika mereka memiliki ponsel pertama mereka, tampaknya tidak memiliki kaitan yang berarti dengan kesejahteraan dan penyesuaian mereka," kata penulis utama Xiaoran Sun yang merupakan sarjana postdoctoral di Stanford Medicine dan Stanford Data Science saat penelitian dilakukan.

Maka dari itu, Sun mengatakan kepada orang tua yang bertanya-tanya kapan harus memberi anak mereka telepon, "sepertinya tidak ada patokan tertentu tentang menunggu sampai kelas delapan atau usia tertentu."

Penelitian sebelumnya tentang efek kepemilikan ponsel anak-anak memiliki hasil yang beragam, dengan beberapa penelitian menunjukkan ponsel mengganggu tidur atau nilai, sementara yang lainnya tidak menunjukkan efek.

Studi sebelumnya disebut terbatas karena kebanyakan dari mereka mengumpulkan data hanya pada satu atau dua titik waktu.

Dalam penelitian Stanford Medicine yang dipublikasikan di Society for Research in Children Development, anak-anak berusia 7 sampai 11 tahun saat penelitian dimulai dan 11 sampai 15 tahun pada akhir penelitian. Setiap anak dan salah satu orang tua mereka berpartisipasi dalam penilaian pada awal dan setiap tahun sesudahnya, dengan total lima penilaian per peserta.

Pada setiap penilaian, orang tua ditanya apakah anak mereka memiliki ponsel dan apakah itu smartphone. Titik tengah waktu antara kunjungan terakhir saat anak tidak memiliki ponsel dan kunjungan pertama saat dia memiliki ponsel dihitung sebagai usia perolehan.

Pada setiap kunjungan, anak-anak menyelesaikan kuesioner standar untuk menilai gejala stres. Orang tua melaporkan nilai sekolah terbaru anak dan waktu tidur dan bangun anak untuk hari sekolah dan hari libur. Para orang tua juga menjawab kuisioner tentang rasa kantuk anaknya di siang hari.

Kemudian, setelah setiap kunjungan, anak-anak memakai akselerometer di pinggul kanan mereka selama seminggu, dan data tersebut digunakan sebagai ukuran objektif dari onset tidur dan durasi tidur setiap malam.

Analisis dikendalikan untuk beberapa kemungkinan faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, termasuk usia anak pada awal penelitian, jenis kelamin anak dan urutan kelahiran, negara kelahiran anak dan orang tua, status perkawinan dan tingkat pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, seberapa sering bahasa Inggris diucapkan di rumah, dan seberapa jauh perkembangan anak melalui pubertas.

Sekitar 25 persen anak menerima ponsel pada usia 10,7 tahun, dan 75 persen pada usia 12,6 tahun. Dan hampir semua anak memiliki ponsel pada usia 15 tahun.

Hasilnya, secara keseluruhan kepemilikan teknologi tidak ditemukan terkait baik secara positif maupun negatif dengan kondisi kesejahteraan anak, termasuk stres.

Para peneliti mencatat mungkin lebih penting untuk mempelajari apa yang dilakukan anak-anak dengan teknologi mereka daripada sekadar apakah mereka memiliki ponsel.

[Gambas:Video CNN]

(lom/lth)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER