Alasan Misi Artemis II NASA Tak Mendarat di Bulan: Uji pada Manusia
CNN Indonesia
Jumat, 07 Apr 2023 07:54 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Misi Artemis II belum sampai mendarat di Bulan. (Tangkapan layar web nasa.gov)
Jakarta, CNN Indonesia --
Misi Artemis II dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tak sampai mendaratkan manusia di Bulan, tetapi hanya mengorbitnya. Alasannya, NASA belum menguji coba sederet teknologi, sistem, dan prosedur untuk mendukung pendaratan itu.
Lewat Program Artemis, NASA akan mengirim manusia ke Bulan untuk pertama kalinya sejak lebih dari 50 tahun lalu setelah misi Apollo. Untuk jangka panjangnya, program ini akan menempatkan manusia di Mars.
Untuk mewujudkannya, beberapa tahapan program dilakukan. Misi Artemis I yang memakai kru manekin tuntas dengan sukses.
Misi Artemis II mengangkut empat kru manusia, yakni astronaut NASA Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch; dan astronaut Kanada Jeremy Hansen. Mereka rencananya diluncurkan ke orbit Bulan pada November 2024.
Dengan perjalanan pulang pergi sekitar empat hari, misi ini diperkirakan akan berlangsung lebih dari 10 hari.
Orion tidak membutuhkan tenaga pendorong untuk kembali ke Bumi. Pesawat ini menggunakan lintasan hemat bahan bakar yang memanfaatkan medan gravitasi Bumi-Bulan hingga membuatnya mengelilingi sisi jauh Bulan.
Tim akan ditarik kembali secara alami oleh gravitasi Bumi untuk kembali ke Bumi.
Sejumlah teknologi yang digunakan pada misi Artemis disebut belum diuji coba langsung dalam lingkungan sebenarnya. NASA pun butuh data untuk menunjang rencana perjalanan ke Bulan dan Mars di masa depan yang dicanangkan dalam program Artemis.
Misi Artemis II tidak mendarat di Bulan karena sederet teknologi penunjang belum diuji coba oleh NASA. Barulah di Misi Artemis III NASA akan mendaratkan manusia di Bulan.
Berikut beberapa hal yang diuji di orbit Bulan ini:
Penunjang kehidupan
Dalam hal perjalanan, Artemis II akan mirip dengan Artemis I; penerbangan uji coba dengan memakai roket Space Launch System (SLS) dan pesawat antariksa Orion.
Bedanya, Artemis II memakai kru sungguhan di dalamnya yang akan membantu menguji sistem yang berpusat pada manusia, seperti sistem pendukung kehidupan, komunikasi, dan kontrol penerbangan.
"Profil misi Artemis II yang unik akan dibangun di atas uji coba penerbangan Artemis I yang tanpa awak dengan mendemonstrasikan berbagai kemampuan SLS dan Orion yang diperlukan dalam misi luar angkasa," kata Mike Sarafin, manajer misi Artemis dari NASA, dikutip dari Space.
"Misi ini akan membuktikan bahwa sistem pendukung kehidupan kritis Orion siap untuk menopang astronaut kami dalam misi berdurasi lebih lama di masa mendatang dan memungkinkan kru untuk mempraktikkan operasi yang penting untuk keberhasilan Artemis III," tambahnya.
Tingkat radiasi lingkungan luar angkasa di sekitar Bulan jauh lebih kuat daripada yang ditemukan di orbit rendah Bumi tempat Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berada.
Oleh karena itu, NASA perlu mengumpulkan data tentang kemampuan Orion untuk menjaga para astronot tetap aman dan sehat selama misi berlangsung.
Uji pesawat di halaman berikutnya...
Manuver Orion
Selain memeriksa sistem pendukung kehidupan kru, Artemis II akan digunakan untuk menguji seberapa baik Orion dapat bermanuver di ruang angkasa di bawah kendali manusia.
Ketika Orion mencapai orbit Bumi yang tinggi pada hampir 24 jam setelah peluncuran, Orion akan memisahkan diri dari Interim Cryogenic Propulsion Stage (ICPS), yang pada dasarnya merupakan tahap kedua SLS.
Setelah Orion terpisah dari ICPS, para kru akan menggunakan kontrol dan kamera di dalam pesawat untuk menyejajarkan diri mereka dengan pendorong tahap kedua yang telah dibuang untuk menguji kualitas penanganan kapsul dan sistem terkait.
Orion akan menggunakan European Service Module (ESM) buatan Airbus untuk melakukan apa yang disebut dengan translunar injection (TLI), sebuah manuver pendorong yang akan menempatkannya pada jalur menuju Bulan.
Pesawat dan awaknya kemudian akan berayun sejauh 10.300 kilometer mengelilingi sisi jauh Bulan sebelum memulai perjalanan pulang ke Bumi selama empat hari.
Dikutip dari laman NASA, pada sisa perjalanan, para astronaut akan terus mengevaluasi sistem pesawat ruang angkasa, termasuk mendemonstrasikan operasi keberangkatan dan kepulangan dari Bumi, mempraktikkan prosedur darurat, dan menguji tempat penampungan radiasi.
Uji roket hingga hardware
Selain itu, banyak elemen perangkat keras yang diperlukan untuk mendaratkan manusia di permukaan Bulan belum selesai.
Roket reusable Starship milik SpaceX, yang dipilih NASA untuk menjadi pendarat bulan berawak pertama dalam program Artemis, masih belum melakukan uji coba terbang mengelilingi Bumi.
Kemudian, NASA dan kontraktor terkait juga masih mengembangkan pakaian Bulan, kendaraan penjelajah Bulan generasi lanjut, dan perangkat keras lainnya yang akan dibutuhkan untuk beroperasi di permukaan Bulan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Misi Artemis II dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tak sampai mendaratkan manusia di Bulan, tetapi hanya mengorbitnya. Alasannya, NASA belum menguji coba sederet teknologi, sistem, dan prosedur untuk mendukung pendaratan itu.
Lewat Program Artemis, NASA akan mengirim manusia ke Bulan untuk pertama kalinya sejak lebih dari 50 tahun lalu setelah misi Apollo. Untuk jangka panjangnya, program ini akan menempatkan manusia di Mars.
Untuk mewujudkannya, beberapa tahapan program dilakukan. Misi Artemis I yang memakai kru manekin tuntas dengan sukses.
Misi Artemis II mengangkut empat kru manusia, yakni astronaut NASA Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch; dan astronaut Kanada Jeremy Hansen. Mereka rencananya diluncurkan ke orbit Bulan pada November 2024.
Dengan perjalanan pulang pergi sekitar empat hari, misi ini diperkirakan akan berlangsung lebih dari 10 hari.
Orion tidak membutuhkan tenaga pendorong untuk kembali ke Bumi. Pesawat ini menggunakan lintasan hemat bahan bakar yang memanfaatkan medan gravitasi Bumi-Bulan hingga membuatnya mengelilingi sisi jauh Bulan.
Tim akan ditarik kembali secara alami oleh gravitasi Bumi untuk kembali ke Bumi.
Sejumlah teknologi yang digunakan pada misi Artemis disebut belum diuji coba langsung dalam lingkungan sebenarnya. NASA pun butuh data untuk menunjang rencana perjalanan ke Bulan dan Mars di masa depan yang dicanangkan dalam program Artemis.
Misi Artemis II tidak mendarat di Bulan karena sederet teknologi penunjang belum diuji coba oleh NASA. Barulah di Misi Artemis III NASA akan mendaratkan manusia di Bulan.
Berikut beberapa hal yang diuji di orbit Bulan ini:
Penunjang kehidupan
Dalam hal perjalanan, Artemis II akan mirip dengan Artemis I; penerbangan uji coba dengan memakai roket Space Launch System (SLS) dan pesawat antariksa Orion.
Bedanya, Artemis II memakai kru sungguhan di dalamnya yang akan membantu menguji sistem yang berpusat pada manusia, seperti sistem pendukung kehidupan, komunikasi, dan kontrol penerbangan.
"Profil misi Artemis II yang unik akan dibangun di atas uji coba penerbangan Artemis I yang tanpa awak dengan mendemonstrasikan berbagai kemampuan SLS dan Orion yang diperlukan dalam misi luar angkasa," kata Mike Sarafin, manajer misi Artemis dari NASA, dikutip dari Space.
"Misi ini akan membuktikan bahwa sistem pendukung kehidupan kritis Orion siap untuk menopang astronaut kami dalam misi berdurasi lebih lama di masa mendatang dan memungkinkan kru untuk mempraktikkan operasi yang penting untuk keberhasilan Artemis III," tambahnya.
Tingkat radiasi lingkungan luar angkasa di sekitar Bulan jauh lebih kuat daripada yang ditemukan di orbit rendah Bumi tempat Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berada.
Oleh karena itu, NASA perlu mengumpulkan data tentang kemampuan Orion untuk menjaga para astronot tetap aman dan sehat selama misi berlangsung.
Uji pesawat di halaman berikutnya...
Uji Pesawat Hingga Perangkat Keras
Empat kru Artemis II bakal mengorbit Bulan. (NASA Johnson Space Center/Josh Valcarcel/Handout via REUTERS)
Manuver Orion
Selain memeriksa sistem pendukung kehidupan kru, Artemis II akan digunakan untuk menguji seberapa baik Orion dapat bermanuver di ruang angkasa di bawah kendali manusia.
Ketika Orion mencapai orbit Bumi yang tinggi pada hampir 24 jam setelah peluncuran, Orion akan memisahkan diri dari Interim Cryogenic Propulsion Stage (ICPS), yang pada dasarnya merupakan tahap kedua SLS.
Setelah Orion terpisah dari ICPS, para kru akan menggunakan kontrol dan kamera di dalam pesawat untuk menyejajarkan diri mereka dengan pendorong tahap kedua yang telah dibuang untuk menguji kualitas penanganan kapsul dan sistem terkait.
Orion akan menggunakan European Service Module (ESM) buatan Airbus untuk melakukan apa yang disebut dengan translunar injection (TLI), sebuah manuver pendorong yang akan menempatkannya pada jalur menuju Bulan.
Pesawat dan awaknya kemudian akan berayun sejauh 10.300 kilometer mengelilingi sisi jauh Bulan sebelum memulai perjalanan pulang ke Bumi selama empat hari.
Dikutip dari laman NASA, pada sisa perjalanan, para astronaut akan terus mengevaluasi sistem pesawat ruang angkasa, termasuk mendemonstrasikan operasi keberangkatan dan kepulangan dari Bumi, mempraktikkan prosedur darurat, dan menguji tempat penampungan radiasi.
Uji roket hingga hardware
Selain itu, banyak elemen perangkat keras yang diperlukan untuk mendaratkan manusia di permukaan Bulan belum selesai.
Roket reusable Starship milik SpaceX, yang dipilih NASA untuk menjadi pendarat bulan berawak pertama dalam program Artemis, masih belum melakukan uji coba terbang mengelilingi Bumi.
Kemudian, NASA dan kontraktor terkait juga masih mengembangkan pakaian Bulan, kendaraan penjelajah Bulan generasi lanjut, dan perangkat keras lainnya yang akan dibutuhkan untuk beroperasi di permukaan Bulan.