Darurat Sampah RI Berlanjut; Waste to Energy Bukan Opsi Andal

CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 08:00 WIB
Presiden Prabowo pacu kebijakan Waste to Energy untuk atasi darurat sampah. Target 100% pengelolaan sampah pada 2029, namun baru 24% yang terkelola.
Presiden Prabowo pacu kebijakan Waste to Energy untuk atasi darurat sampah. Target 100% pengelolaan sampah pada 2029, namun baru 24% yang terkelola. (Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menyusul status darurat sampah nasional yang ditetapkan tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto kini memacu kebijakan Waste to Energy (WtE) sebagai solusi utama. Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan pengelolaan sampah yang dinilai jalan di tempat dalam beberapa tahun terakhir.

"Kita sekarang akan mulai 34 proyek, tendernya dibuka mungkin hari-hari ini. Tapi ini butuh waktu dua tahun sampai berfungsi," kata Presiden Prabowo dalam sambutan saat meresmikan pembangunan kilang minyak di Balikpapan (12/1).

Tiga hari kemudian, dalam rapat Kementerian Lingkungan Hidup dengan jajaan DPRD se-Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol mengungkap kembali bahwa Indonesia dalam posisi darurat sampah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menekankan bahwa target nasional 100 persen sampah terkelola pada 2029. Namun faktanya, saat ini baru sekitar 24 persen yang berhasil dikelola secara benar.

Ia pun meminta agar daerah menyiapkan aturan dan anggaran untuk mengakhiri krisis sampah guna mengejar target nasional.

"Ini adalah sinyal merah yang menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi hanya dipikul oleh pemerintah pusat," kata Hanif dalam pernyataan tertulis.

Sepekan kemudian, dalam rapat dengan Komisi XII DPR, berbeda dengan keputusan Presiden, Hanif mengatakan solusi WtE bukan andalan utama.

"Jadi kalau sekarang ini kita kenal dengan Waste to Energy, ini hanya mampu menyelesaikan 13 persen sampah kita. Masih banyak jumlah persentase lagi yang harus kita tangani bersama," kata Hanif menjawab pertanyaan anggota DPR.

Secara rinci, ia mengatakan opsi manajemen terbaik Indonesia ada pada campuran beberapa metode: yakni pengolahan organik langsung di sumber (12,4 persen), pembangunan TPS 3R atau bank sampah induk massal (19,84 persen), TPST Refuse Derived Fuel di mana sampah kering dipadatkan menjadi pelet briket untuk pembangkit listrik batubara dan operasi pabrik semen (12,19 persen), TPST non-RDF (12,19 persen), dan Waste to Energy (13,6 persen).

Debat tentang metode dan mekanisme pengelolaan sampah adalah bagian khas dari manajemen sampah di Indonesia. Studi persampahan di seluruh dunia menunjukkan pemilihan teknologi dan cara sangat berkaitan dengan jumlah timbulan sampah, kesediaan anggaran dan sumberdaya, kebijakan pemerintah yang sudah tersedia dan kebiasaan masyarakat.

Menurut Dini Trisyanti, pegiat persampahan dari Waste4Change, menyebut bahwa satu solusi belum tentu cocok dipakai untuk semua wilayah. Ia menekankan bahwa tidak ada teknologi terbaik, tanpa konteks dan ekosistem yang siap.

"Teknologi itu kan tools, ibarat memasak ada yang pakai pisau daging, ada yang pisau kupas-kupas, kan beda-beda meskipun sekilas mirip," kata Dini.

Solusi paling cepat tapi berisiko

Pada Maret 2026 Presiden Prabowo memerintahkan percepatan program WtE melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bekasi, Bogor, Bali, dan Yogyakarta.

Rencana ini mencakup 34 proyek WtE senilai US$3,5 miliar (sekitar Rp58 triliun) yang mulai dibangun tahun ini. Targetnya adalah mengantisipasi overkapasitas TPA pada 2028 dengan cara mengolah sampah 1.000 ton/hari menjadi 15 MW listrik dalam dua tahun ke depan.

Keputusan ini dipayungi dengan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 dengan peran PLN sebagai pembeli tunggal listrik (off taker) yang dihasilkan.

Dengan alasan pembahasan pemilihan teknologi yang sesuai yang belum tuntas dilakukan serta kebutuhan tiap daerah yang tidak sama, keputusan menyeragamkan manajemen limbah dengan WtE menuai kritik. Dini menilai ini keputusan yang tergesa-gesa.

"Bahkan K/L lain juga banyak yang mengajukan sanggahan, tapi (Kementerian) KLH dan Kemenko Pangan jalan terus. Dengan backing Presiden langsung sepertinya," ujar dia.

Waste4Change pada tahun 2025 melakukan sebuah studi yang membandingkan faktor persampahan di Indonesia untuk mencari opsi kebijakan yang paling pas. Faktor tersebut adalah cakupan layanan dan skala kapasitas, ketersediaan lahan, kondisi input sampah, sensitivitas proses, kebutuhan infrastruktur pendukung, serta biaya modal dan operasional.

Hasilnya, tidak ada satupun teknologi yang berkinerja secara optimal di semua konteks. Setiap pilihan melibatkan pertukaran nilai (trade off) yang harus dievaluasi dengan mempertimbangkan prioritas, kendala, dan kesiapan sistem di tingkat lokal.

"Jadi saat memilih harus paham dan jangan terbawa bujukan klaim vendor penyedia teknologinya. Ada yang nawarin (teknologi) A, klaim indah, tidak diminta tipping fee, lanjut deh MoU. Tidak ada kriteria dan pendampingan Pusat juga untuk mengecek klaimnya," kata Dini.

"Atau malah memang sudah kongkalikong. Padahal swasta model begitu biasanya punya kepentingan lain, ujung-ujungnya investasi tidak terjadi, MoU expired, sampah makin menggunung, waktu mubazir," lanjut dia.

Menurut studi Waste4Change, teknologi WtE memang menjanjikan solusi paling cepat untuk mengatasi persoalan timbunan sampah dengan kapasitas 300 sampai 3.000 ton per hari, atau setara dengan kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan ibukota provinsi lainnya.

Namun kompleksitas sistemnya juga paling tinggi dengan biaya operasional paling besar. Artinya, jika terjadi kegagalan sistem, maka taruhannya adalah kesiasiaan biaya yang sangat besar.

Belajar dari Benowo dan Putri Cempo di halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google
Belajar dari Benowo dan Putri Cempo BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2 3