Mimpi Langit Biru Jakarta dan Polusi yang Tak Kunjung Hilang

CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 08:35 WIB
Kualitas udara di Jakarta menduduki posisi kedua sebagai kota dengan udara terburuk di dunia berdasarkan ranking di situs IQAir pada Minggu (1/10/2023). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Pakar mengungkap tiga kesalahan dalam upaya penanganan polusi udara di Jakarta dan wilayah sekitarnya. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)

Langkah penanganan selanjutnya, kata dia, adalah program dan target strategis bersama antarwilayah. Menurut Deftrianov, setiap daerah biasanya memiliki prioritas masing-masing sehingga dibutuhkan kesepakatan bersama yang dituangkan secara formal dan ditangani oleh pihak-pihak terkait.

Kemudian, ia menilai Jakarta juga membutuhkan data dan sistem pemantauan bersama supaya perkembangan penanganan polusi dapat diperbarui dan dipantau secara berkala.

Deftrianov turut mengatakan, Jakarta membutuhkan koordinasi yang lebih kuat dengan daerah-daerah di kawasan aglomerasi dalam menekan masalah polusi udara. Hal serupa telah dilakukan dalam menangani bencana banjir besar pada tahun 2020.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya, kita udah memiliki pengalaman sebelumnya dalam menangani persoalan pengelolaan banjir. Saat banjir besar pada 2020, tiga gubernur, delapan wali kota, serta sekitar empat atau lima menteri menyusun langkah-langkah strategis bersama, termasuk membagi tanggung jawab menangani siapa melakukan apa," ujar Deftrianov.

3 kesalahan penanganan polusi

Head of Cities & Local Government Institute (CGI) Bambang Susantono menyebut ada tiga kesalahan dalam upaya penanganan polusi udara di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Ia menilai pemerintah, masyarakat, dan akademisi belum berhasil meningkatkan kesadaran publik mengenai buruknya kualitas udara.

Kesalahan selanjutnya ialah berbagai rencana yang telah dibuat oleh pemerintah belum banyak diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Menurut Bambang, banyak diskusi yang dilakukan, tetapi minim tindak lanjut di lapangan.

"Kita gagal menerjemahkan rencana menjadi tindakan. Ada begitu banyak rencana, tetapi tindak lanjutnya sangat sedikit atau bahkan hampir tidak ada sama sekali," kata Bambang dalam panel diskusi yang sama.

Kemudian, Bambang menilai pemerintah dan berbagai sektor gagal dalam berkolaborasi untuk menangani masalah polusi udara Jakarta. Menurutnya, banyak pihak yang terlibat belum otomatis menghasilkan aksi yang terkoordinasi.

"Kita gagal menciptakan aksi bersama dari pemangku kepentingan. Bukan hanya pemerintah, bukan hanya sektor swasta, dan bukan hanya masyarakat sipil, tetapi harus ada tindakan bersama," kata Bambang.

Harus bergerak bersama

Dalam mengatasi masalah ini, Suzanty Sitorus selaku Executive Director ViriyaENB mengungkap solusi polusi udara di Jakarta perlu dilakukan secara terpadu dan tidak bisa hanya mengandalkan satu pemerintah daerah atau sektor saja.

Ia mengatakan penanganan polusi udara Jakarta perlu dilakukan lintas wilayah, karena sumber emisi juga berasal dari berbagai wilayah sekitarnya. Menurut dia, mendorong pemerintah untuk menggunakan pendekatan air shed atau wilayah tangkapan udara sebagai dasar intervensi.

Dengan menerapkan pendekatan ini, kata Suzanty, penanganan polusi tidak lagi dibatasi oleh batas administratif maupun sektor tertentu, melainkan dilakukan berdasarkan wilayah yang saling memengaruhi kualitas udara.

"Kita tidak dapat mengatasi polusi udara di Jakarta hanya oleh pemerintah Jakarta sendiri atau oleh sektor tunggal saja. Unit intervensi untuk mengatasi kualitas udara bukanlah batas administratif atau batas sektor, melainkan (dengan pendekatan) air shed. Apa wilayah tangkapan udara untuk Jakarta? Itu yang perlu kita ubah," kata Suzanty dalam panel diskusi bertajuk "Building Competitive and Livable Cities".

Menurutnya, pemerintah di Jakarta dan wilayah sekitarnya perlu memperkuat perencanaan serta koordinasi untuk mengatasi masalah polusi udara bersama. Pasalnya, sejumlah sumber polusi seperti pembakaran sampah, ditemukan di berbagai wilayah Jabodetabek.

"Pergeseran yang perlu kita lakukan secara kolektif adalah merencanakan dan berkoordinasi pada skala di mana Jakarta berfungsi. Tetapi pada saat yang sama, kami juga mendorong daerah tetangga untuk mengambil tindakan," ujar Suzanty.

"Dan juga, bisnis dan komunitas untuk mengambil tindakan bersama-sama mengatasi tantangan polusi udara," tambahnya.

Sejalan dengan solusi dari Suzanty, Guru Besar ITB Puji Lestari merekomendasikan sejumlah solusi kepada pemerintah seperti menerapkan standar bahan bakar bersih Euro 4 secara menyeluruh, memperluas elektrifikasi dan mewajibkan penggunaan Diesel Particulate Filter (DPF) pada armada kendaraan seperti truk dan bus.

Di saat yang sama, kata Puji, pengawasan sektor industri dan kelistrikan harus diperketat untuk memastikan penggunaan teknologi pengendali udara yang memadai, disertai dengan tindakan tegas untuk mengeliminasi kebiasaan pembakaran sampah terbuka di pemukiman.

"Pada akhirnya, seluruh upaya ini membutuhkan komitmen manajemen kualitas udara yang terintegrasi, di mana Jakarta dan wilayah penyangganya harus berkolaborasi erat dalam satu rencana aksi bersama demi mewujudkan kembali langit bersih di kawasan tersebut," tutup Puji.

(nad/dmi)

HALAMAN:
1 2