Imbas Krisis Iklim, Kehidupan Koloni Penguin Terbesar Terancam

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 08:30 WIB
Ilustrasi. Populasi penguin chinstrap di Pulau Zavodovski menyusut tajam diduga akibat krisis iklim. (Foto: via REUTERS/National Geographic/Bertie Grego)
Jakarta, CNN Indonesia --

Populasi penguin chinstrap di Pulau Zavodovski, yang sebelumnya menjadi lokasi koloni penguin terbesar di dunia, menyusut sekitar dua pertiga sejak 2011. Krisis iklim diduga menjadi penyebab utama penurunan tersebut.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada Rabu (7/10) menunjukkan penyusutan populasi berlangsung cepat. Para ilmuwan memperingatkan kondisi ini dapat meningkatkan risiko keruntuhan ekosistem yang lebih luas.

"Ini merupakan penurunan populasi yang sangat besar, setara dengan hilangnya setengah juta individu yang berkembang biak dari pulau tersebut," kata Norman Ratcliffe, pemimpin riset yang juga ahli ekologi penguin di British Antarctic Survey, dikutip dari The Guardian.

Pulau Zavodovski merupakan pulau paling utara di Kepulauan Sandwich Selatan, kawasan Antarktika. Pada penghitungan 2011, pulau tersebut dihuni sekitar 600.000 penguin chinstrap dan 90.000 penguin makaroni.

Namun, penurunan populasi hingga 2025 membuat Zavodovski kemungkinan kehilangan status sebagai koloni penguin terbesar di dunia. Posisi tersebut diperkirakan beralih ke Cape Adare di Laut Ross.

Penguin chinstrap dikenal dari garis hitam yang membentang di bawah paruh, menghubungkan kedua pipinya seperti tali dagu. Penelitian terbaru mengindikasikan penurunan populasinya mungkin semakin cepat sehingga spesies ini perlu dipertimbangkan untuk masuk kategori terancam punah.

Sebelumnya, pada 2020, laporan The Guardian menyebut penurunan populasi penguin chinstrap di Pulau Low, Kepulauan Shetland Selatan. Temuan itu telah memunculkan kekhawatiran ilmuwan mengenai gangguan pada ekosistem Antarktika.

Kali ini, para peneliti menilai perubahan iklim sebagai penyebab paling mungkin dari penyusutan populasi di Zavodovski.

Pemanasan akibat aktivitas manusia telah meningkatkan suhu musim dingin di dalam dan sekitar Semenanjung Antarktika hingga 5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

Pada 6 Juni 2026, pangkalan Esperanza milik Argentina di Semenanjung Trinity mencatat suhu musim dingin terpanas sebesar 15,4 derajat Celsius. Angka itu sekitar 20 derajat Celsius di atas suhu normal untuk waktu tersebut.

Penguin chinstrap kesulitan beradaptasi karena bergantung pada jenis makanan dan kondisi suhu laut tertentu.

Data pelacakan menunjukkan penguin tersebut lebih suka mencari makan di perairan dingin di sebelah barat laut Zavodovski. Di sana, mereka mencari krill Antarktika yang menjadi bagian terbesar makanannya.

Namun, seiring menghangatnya perairan, krill bergeser ke selatan menuju Laut Weddell.

Sebaliknya, populasi penguin makaroni yang memiliki pilihan makanan lebih beragam meningkat 30 persen. Meski demikian, pertumbuhan tersebut tidak cukup untuk mengimbangi hilangnya penguin chinstrap.

Lebih lanjut, Ratcliffe mengatakan peningkatan populasi penguin makaroni hanya memberikan sedikit penghiburan. Jika tren saat ini berlanjut, seluruh penguin pada akhirnya akan kehabisan ruang.

Menurutnya, hilangnya penguin chinstrap bahkan akan berdampak pada jaring-jaring makanan.

"Setiap ekosistem dapat diibaratkan sebagai susunan balok Jenga raksasa, dan setiap komponen yang diambil meningkatkan risiko ekosistem runtuh sepenuhnya," jelas Ratcliffe.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan turut menyingkirkan sejumlah kemungkinan lain. Mereka tidak menemukan tanda bahwa penguin chinstrap dan makaroni bersaing mendapatkan makanan.

Permukiman manusia terdekat juga berada ribuan kilometer dari pulau itu.

Letusan besar gunung berapi di Zavodovski pada 2016 sempat memunculkan hipotesis "Penguin Pompeii", yakni dugaan bahwa populasi penguin anjlok secara mendadak akibat letusan. Namun, data tidak mendukung hipotesis tersebut.

Penurunan populasi ini diketahui berlangsung secara bertahap dan konsisten, bukan tiba-tiba.

Pengamatan lapangan juga menunjukkan penguin chinstrap menghindari kawasan utama yang disebut asphyxia plain, tempat abu dan lava hasil letusan mengendap.

(nad/lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK