Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan (2011), tingkat pemanfaatan ikan demersal di wilayah Laut Cina Selatan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Barat baru mencapai 42,8% dengan peluang pengembangan sebesar 47,2% dari potensi sebesar 655,65 ribu ton/tahun. Hal ini berarti bahwa Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah perairan yang termasuk kategori masih sangat potensial untuk ditingkatkan produksinya.
Pemanfaatan potensi penangkapan ikan yang dilakukan oleh para nelayan di perairan Pulau Lemukutan Provinsi Kalimantan Barat salah satunya adalah dengan menggunakan bubu untuk menangkap ikan dasar dan masih bersifat tradisional, di mana alat penangkapan bubu dasar tersebut terdapat hanya satu bahkan dua pintu masuk, terbuat dari bambu kerangka kayu dan sering rusak akibat diterpa arus laut dan sering terjadi kerusakan pada bambu pada saat bubu dasar tradisional tersebut diangkat ke permukaan. Tentunya hal ini berakibat hasil tangkapan tidak optimal dan para nelayan mengalami kerugian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian yang di Tim Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak ini cukup beralasan, karena alat tangkap bubu dasar tradisional yang umumnya dioperasikan di perairan Pulau Lemukutan hanya memiliki satu atau dua pintu masuk.
“Kami dari Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontinak, berupaya untuk memberikan ilmu kepada masyarakat nelayan di pulau Lumukutan,” kata Ketua Tim, Ho Putra Setiawan, S.Pi, MT.
Dengan memodifikasi bubu dasar diharapkan penghasilan para nelayan meningkat. Penelitian ini sudah dilakukan sejak awal Juli dan direncanakan selesai akhir Agustus 2017.
Masyarakat di pulau Lumukutan menyambut baik upaya Tim itu melakukan modifikasi bubu. “Kami berharap Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terus mendukung usaha kami,” ujar Ho Putra Setiawan.
Contoh bubu tradisional, seperti yang dipakai nelayan di Tangerang. (Antara Photo/Lucky R) |
Contoh bubu tradisional, seperti yang dipakai nelayan di Tangerang. (Antara Photo/Lucky R)