Sebelum mengenal logam, Suku Asmat secara tradisional mengukir kayu dengan pahat yang terbuat dari rahang buaya atau tulang burung kasuari. Penggunaan pahat dari tulang, hanya mampu menghasilkan cungkilan tidak dalam dan hanya jenis-jenis kayu yang tidak keras yang bisa diukir.
Penyelesaian akhir dan penglicinan permukaan ukiran dikerjakan dengan pinggiran kulit kerang. Pewarnaan ukiran menggunakan kulit kerang yang dibakar untuk menghasilkan warna putih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengukir dengan pahat tulang berubah ketika mulai dikenal logam, dan Suku Asmat sangat menggemari logam terutama besi karena logam jauh lebih keras daripada tulang. Logam menghasilkan cungkilan lebih dalam, ukiran yang halus, dan lebih banyak jenis-jenis kayu keras yang bisa diukir.
Kaleng-kaleng bekas, pisau dan kapak besi ditukar dengan dayung, anak panah, tombak dan perisai. Kegemaran Suku Asmat terhadap logam untuk mengukir, tergambarkan dalam tahun 1930, ketika suatu kelompok Suku Asmat dengan perahu-perahu dan bersenjatakan tombak, perisai, busur dan panah, menyerang sebuah perkampungan di daerah perbatasan dengan Mimika.
Mereka merusak dan mengobrak-abrik bangku dan meja sekolah milik gereja hanya untuk mengambil paku-pakunya. Dengan paku-paku besi tersebut mereka hanya mengenal satu kegunaannya yaitu untuk dijadikan pahat. (ded/ded)