Dengan waktu dua bulan tersisa sampai akhir tahun, sepertinya mustahil bagi manajemen perseroan untuk dapat mewujudkan amanat mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang ingin jumlah kerugian Garuda tidak sampai Rp 1,5 triliun di akhir 2014.
Laporan keuangan kuartal III 2014 Garuda menyebutkan selama sembilan bulan perseroan membukukan pendapatan US$ 2,8 miliar naik 4,47 persen dibandingkan pendapatan periode yang sama di 2013 sebesar US$ 2,68 miliar. Pendapatan terbesar Garuda berasal dari layanan penerbangan berjadwal sebesar US$ 2,47 miliar diikuti pendapatan penerbangan tidak berjadwal US$ 107,12 juta dan pendapatan lainnya US$ 220,38 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pos beban operasional penerbangan, Garuda tercatat paling banyak mengeluarkan uang untuk membeli bahan bakar. Sampai September 2014, uang yang harus dikeluarkan maskapai pelat merah itu untuk membeli avtur sebanyak US$ 1,17 miliar naik 15,84 persen dibandingkan biaya avtur sampai September 2013 sebesar US$ 1,01 miliar.
Jumat (14/11) besok, Garuda dijadwalkan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang kemungkinan besar akan dilanjutkan dengan paparan kinerja kuartal III 2014.
Sayangnya, Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan tidak bisa dihubungi untuk dimintai komentar mengenai kinerja Garuda yang tidak kunjung membaik. September lalu, Dahlan telah mewanti manajemen Garuda untuk dapat memangkas kerugian yang dialami perseroan sampai semester I 2014 sebesar Rp 2,44 triliun menjadi kurang dari Rp 1,5 triliun di akhir tahun. Dahlan ketika itu meminta manajemen membuat terobosan untuk mengurangi kerugian tersebut.