Gigih Wahyu Hari Irianto, Vice President Gas Domestik Pertamina menjelaskan perseroan selalu menggunakan harga acuan gas Saudi Aramco (contract price (CP) Aramco) sebagai harga impor bahan baku gas yang digunakannya untuk elpiji.
“Sesuai dengan aturan yang ada, harga elpiji ini harus kami maintain secara periodik menyesuaikan dengan fluktuasi harga CP Aramco,” ujar Gigih dikutip dari siaran pers, Senin (12/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Berdasarkan hasil survey, konsumsi masyarakat itu lebih dari 60 persen menggunakan elpiji 12 kg setiap satu bulan sampai 1,5 bulan per tabung. Jadi kalau harga berubah per tiga bulan, itu tidak terlalu sering dan tidak terlalu shocked. Misalkan kita beli hari ini, mungkin dampaknya sebulan yang akan datang belum berubah. Tetapi kalau tiga bulan setelah terbiasa, naik lagi. Ini sebenarnya masalah kebiasaan,” ujar Gigih.
Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang menjelaskan keputusan menaikkan harga gas elpiji tabung biru ini untuk menekan kerugian Pertamina karena menjual gas elpiji dibawah harga keekonomian. "Sampai akhir tahun kerugian (Pertamina) mendekati US$ 500 juta. Sampai November Kami sudah rugi US$ 340 juta untuk elpiji 12 kg," kata Bambang.
Namun belum sepekan harga elpiji 12 kg naik, Pertamina sudah mendapatkan kritik dari kalangan anggota DPR yang menilai kenaikan harga tersebut hanya akan membuat masyarakat beralih ke elpiji ukuran tabung 3 kg dan Indonesian Corruption Watch yang menduga ada unsur pemahalan harga (mark up) yang dilakukan Pertamina ketika menghitung harga baru tersebut. (gen)