“Kami di asosiasi telah mendapatkan informasi bahwa sudah ada anggota yang berhenti memasok ke Pertamina, anggota yang mengurangi pasokan sudah ada, dan kemungkinan yang berhenti memasok akan bertambah,” ujar Ketua Aprobi Paulus Tjakrawan dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (6/2).
Meskipun tidak menyebutkan nama perusahaan secara spesifik, Paulus menyebutkan pekan lalu sudah ada dua perusahaan yang mengurangi pasokannya ke Pertamina. Dua dari enam perusahaan yang memenangkan tender biodiesel tahun lalu yaitu PT Musim Mas, PT Pelitaagro Industri, PT Wirman Abadi, PT Duta Palma, PT Eterindo, dan PT Primanusa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Minimum setiap harinya kita memasok rata-rata 6 ribu ton. Kalau tiap ton kita rugi katakanlah US$ 150 berarti total kerugiannya US$ 900 ribu per hari,” jelasnya.
Untuk mengurangi kerugian tersebut dia berharap Pertamina segera mengikuti formula harga indeks biodiesel baru yang akan ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), baik untuk tender yang akan datang maupun untuk revisi kontrak pasokan biodiesel yang sedang berjalan.
Kamis (5/2) lalu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana menyatakan formula baru harga biodiesel akan segera ditetapkan dalam Keputusan Menteri. Formula harga biodiesel yang sebelumnya berbasis MOPS menjadi dihitung berdasarkan penambahan komponen biaya produksi dengan margin. (gen)