Awalnya, pemerintah menargetkan bisa meningkatkan lebih dari 100 persen pemanfaatan BBN dari realisasi 2014 sebanyak 1,8 juta KL menjadi 3,5 juta KL. Bahkan, dari angka 3,5 juta KL tersebut sudah dialokasikan sebesar 3,41 juta KL diantaranya untuk produk biosolar dan 0,117 juta KL lainnya berupa bioethanol.
“Namun, target tahun ini jadi hanya berkisar di 3 juta KL karena Januari sampai Februari ini realisasinya sangat rendah," ujar Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana di Jakarta, Selasa (3/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demi mencapai target pemanfataan BBN tahun ini, pemerintah pun memastikan akan tetap memberikan subsidi sebesar Rp 4 ribu per liter untuk produk biosolar dan Rp 3 ribu per liter untuk produk bioethanol meski usulan subsidi dibatalkan DPR.
Sedangkan untuk produk bioetanol, HIP BBN jenis bioetanol yang dicampurkan ke dalam jenis BBM khusus penugasan didasarkan pada harga publikasi Argus untuk Ethanol free on board (FOB) Thailand dengan rata-rata periode satu bulan sebelumnya ditambah 14 persen indeks penyeimbang produksi dalam negeri dengan faktor konversi sebesar 788 kg per meter kubik.
"Intinya pemerintah masih akan memberi subsidi BBN maksimal Rp 4 ribu per liter dan subsidi tadi untuk meningkatkan investasi di industri BBN," pungkas Dadan. (gen)